Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sejarah Pariaman #3: masuknya VOC dan perang Bandar

22 Agustus 2021 | 22.8.21 WIB Last Updated 2021-08-21T20:21:26Z

Foto: ilustrasi/istimewa/internet


                                                          Oleh Indra J Piliang

 

1602.

Imperium VOC terbentuk. Perusahaan dagang multi nasional. Eropa masih di bawah kendali kelompok bangsawan (darah biru), feodal (tuan tanah), dan teolog (gereja). Kaum borjuis atau sudagar belum muncul. Guna mendapat posisi di kalangan bangsawan, para bajak laut mengubah diri menjadi saudagar yang berkelana di dunia baru. Asosiasi-asosiasi dagang bermunculan.
 
1611.

Satu abad setelah Malaka jatuh ke tangah Portugis. VOC mendapat izin pendirian loji di Sunda Kelapa, Jayakarta yang terbuat dari kayu berlapis batu bata. Lokasi di seberang Museum Bahari mengarah ke halaman landmark Museum Fatahillah sekarang.

1619.

Tak puas dengan satu loji, VOC menundukkan Jayakarta dalam perang yang brutal. Pasukan Banten, terdiri dari suku Sunda dan Cirebon, tersingkir. Begitu pula saudagar asal Arab. Hanya saudagar Tionghoa yang bertahan. Jayakarta beruganti nama dengan (Oud) Batavia.

1622.

VOC menaklukkan Kepulauan Maluku, setelah membentuk aliansi dengan Kesultanan Ternate. Daerah-daerah yang mengaku sudah masuk Islam, menjadi milik Kesultanan Ternate. Sementara yang beragama Kristen, dari pengaruh Spanyol, Inggris, dan Portugis, masuk jajahan VOC. Walau, Islam dan Kristen masih sangat muda usia, dari sisi pengaruh teologis.

Pulau Maniba, tempat kelahiran Ahmad Sangadji, termasuk yang diduduki. Penduduk yang punya kemampuan tempur, dijadikan sebagai tawanan.

1639.

VOC melabuhkan sauh di pelabuhan Nagasaki, Jepang. Padahal, Jepang dalam masa Tokughawa itu sedang menerapkan Sakoku, politik pintu tertutup. Saudagar berkebangsaan Belanda menjadi satu-satunya negara yang diizinkan berdagang dengan Jepang. Saking tergila-gilanya dalam apa yang dinamakan era “Religi Tokhugawa” itu, simbol manusia moderen Jepang adalah berpayung alas orang Belanda.

Delegasi dagang dan pembelajar dikirim ke Belanda. Butuh dua abad bagi Komodor Mathew C Perry guna membuka pelabuhan Kanagawa, yakni pada 1854. Kapal hitam berteknologi uap menembaki pelabuhan dengan meriam.


14 Agustus 1656.

Kapal pengangkut Raja Tahalele, ayah kandung Ahmad Sangadji, bersama tawanan lain, memasuki pelabuhan Sunda Kelapa. Hanya sebentar berada di kawasan Oud Batavia, kelompok Tahalele ditempatkan di garnizun Marunda, Cilincing. Konflik tak terelakkan dengan pasukan boemi poetera lain yang dijadikan pasukan cadangan oleh VOC, terutama asal Banten.  

1658.

Serangan ketiga VOC terhadap Portugis di Kolombo, Srilanka. Pasukan Raja Tabalele, pun Sangadji, ikut serta. Tubuh Tabalele terluka parah.  Sangadji mengambil alih. Satu tangan pemuda gagah ini tertembak, tak mampu lagi digunakan. Kembali ke Batavia tahun 1659, Sangadji hampir kehilangan kepercayaan diri. Namun, sang pangeran berhasil meminta ganti rugi cacat di tubuh itu sebesar 50 real.

Sistem perbentengan yang dibangun Portugis di Kolombo, bagai Konstantinopel sebelum jatuh ke tangan Sultan Muhammad Al-Fatih pada 1453. Kekalahan di Konstatinopel yang membuat armada laut negara-negara koalisi itu melayari tujuh samudera, dipelopori Spanyol dan Portugis.  Hanya dalam lima pelita, yakni 1511, Portugis berhasil merebut urat nadi rempah-rempah di Asia, yakni Bandar Malaka dari tangan Kesultanan Islam.
 
30 Agustus 1666.

6 satuan militer, setingkat kompi, tiba di Pulau Cingkuk. 3 kompi terdiri dari pasukan sewaan berkembangsaan Eropa bersenjatakan senapan. 1 kompi campuran dari suku-suku taklukan dengan beragam keahlian. 1 kompi pimpinan Kapitan Jonker bersenjatakan parang, perisai dan tombak guna pertempuran jarak dekat . 1 kompi pimpinan Arung Palakka yang terbiasa dalam perang parit.

30 Agustus 1666 masehi bertepatan dengan 29 Safar 1077 hijriyah.  Tertahan di Ulakan yang masih dalam suasana basapa, butuh waktu 4 hari bagi Jonker dan Palakka guna menundukkan bunker atau parit yang berada di Pauh. Sejumlah penulis ‘tersesat’ menyebut Pauh itu berada di Kota Padang. Bukan. Pauh berada di muara Batang Pariaman, arah utara dari pusat kota menuju muara Batang Mangguang. Daerah penuh rawa, parit, dan bunker.

Pasukan Jonker – Palakka sama sekali tak menyeberangi Batang Manggoi yang berada di selatan, bersebelahan dengan Ulakan. Strategi menghindari Batang Manggoi yang lebih deras, lebar, dan penuh jebakan itu, sekaligus menghindari ‘kasak-kusuk’ betapa Ulakan ‘membantu’ Jonker – Palakka.

Jonker dan Palakka sama sekali tak merusak area publik, seperti pasar, rumah, bangunan, apalagi sarana peribadatan. Mereka pun tak menyasar warga non kombatan. Yang dicari, loji atau benteng pertahanan pasukan militer yang mempertahankan Bandar Pariaman.

Pusat Kota Pariaman berada di area pasar sekarang. Kapal-kapal yang masuk ke muara Batang Pariaman, bisa berlayar hingga ke hulu, sampai ke Simpang Galombang. Sebagian Batang Pariaman merupakan terusan buatan, seperti Selat Suez. Pariaman sempat disebut sebagai Venesia van Sumatra, sebagaimana Bukittinggi dikenal sebagai Paris van Sumatera.

Di area pusat kota, sebagai lingkaran pertama, terdapat pedagang-pedagang dari India (Keling), China, Perak (Malaka), Portugis, Inggris, Spanyol, Arab, dan warga dunia atas angin. Kawasan yang dikenal sebagai Pasa itu, dihuni pedagang-pedagang manca negara.  

Dalam lingkaran kedua, bertempat tinggal pedagang-pedagang dari Jawa, Nias, dan kaum boemi poetera lain.

Baru dalam lingkaran ketiga, berisi orang-orang dari pedalaman Minangkabau yang berjualan sayur-mayur, termasuk jauh di Kota Padang, berada orang Pariaman. Kurai Taji, sebagai contoh, adalah area pedalaman. Bukit yang berada di area itu dijadikan sebagai tempat pemakaman bagi orang-orang China.

Pauh menjadi pangkalan militer, amunisi, sekaligus bunker dari tentara-tentara yang berinduk kepada masing-masing saudagar di lingkaran pertama. Persenjataan mereka moderen, sebagian besar dibeli dari Turki Utsmani.

Ombak pantai barat Sumatera dikenal ganas. Semakin mendekati pantai, kian keras bergelombang menghempas. Pauh dilindingu oleh alam.

Terlatih dalam sejumlah pertempuran antar pulau, benteng, bunker, hingga perkelahian di kawasan Marunda, tentu membuat jeli mata Jonker – Palakka. Strategi perang efektif diberlakukan. Berbeda dengan tahap demi tahap yang dilakukan oleh pasukan VOC yang dikalahkan dalam pertempuran empat bulan sebelum itu.

Serangan lewat laut menjadi satu-satunya pilihan. Tentu saja angkatan laut 6 kompi pasukan itu dimiliki oleh anak buah Jonker. Namun, keberadaan sejumlah bunker dan parit yang mengelilingi loji pasukan Bandar Pariaman menjadi tugas pasukan Palakka.

4 kompi pasukan VOC?

Bergerak sebagai kavaleri dan infanteri yang menyerang dari arah Kurai Taji dan Jati. Seluruh senjata moderen tertuju kepada pasukan VOC ini. Area laut dianggap punggung yang aman, tak terlindungi.

Hampir satu bulan waktu yang diperlukan Jonker dan Palakka guna menyiapkan serbuan tak terduga dari arah pulau Angso Duo dan Pulau Tangah.

Buat apa?

Pembuatan perahu. Tentu perahu yang terlihat seperti batang kayu bulat panjang yang setiap saat dibawa arus Gunung Tandikat. Perahu yang kini disebut sebagai payang itu, mampun mebelah ombak sekuat apapun. Tak banyak tubuh yang bisa tiarap, maksimal lima orang.

Dari muara Batang Manggoi, satu demi satu perahu berbentuk kayu bulat itu dikayuk menuju pulau-pulau kecil di lepas pantai Pariaman. Dalam hitungan dan jarak yang terjaga, dua ratus orang menyeberangi ombak menuju pulau.

Tembakan meriam dari pasukan infanteri dan kavaleri VOC membuat gemuruh seisi kota. Perang sudah dimulai, tetapi berjauhan jarak dengan bunker pasukan pertahan Bandar Pariaman.

Hujan bulan September membantu pergerakan pasukan di laut. Air laut berubah menjadi kuning. Bersembunyi dalam rimbunan bakau, pohon sagu, dan tumbuhan rawa lain, pasukan bersenjata parang, tombak, keris, dan kelewang itu bergerak merayap dan merunduk ke belakang bunker pasukan Bandar Pariaman.

Ketangguhan parit dan bunker Pauh yang dibangun oleh pasukan asal Persia, retak dan runtuh di tangan pasukan Bone. Enam tahun sebelum itu, 1660, Arung Palakka sebagai bangsawan Bone, diperintahkan pasukan Gowa mengawasi penggalian parit di sepanjang garis pertahanan Gowa yang dilakukan pekerja asal Bone. Perlakuan tidak manusiawi terhadap pekerja asal Bone itu yang menyesakkan hati Palakka.

Tak terima, Arung Palakka ikut melarikan diri bersama 400 orang ke Batavia. Biar tetap terlatih, Palakka melarang orang-orang yang bermoto sirri na pacce itu mencari pekerjaan di kawasan Oud Batavia. Mereka tinggal di sepanjang Sungai Ciliwung yang dikenal sebagai Kali Angke. Pekerjaan utama tetap bertani dan nelayan. Seperempat pasukan Bone itulah yang dibawa Palakka ke Pariaman.  

Parit dan bunker yang mengelilingi Pauh tak sekuat pertahanan Gowa. Tanah berpasir, berawa, sedikit sekali yang keras. Sejumlah penyangga dibutuhkan. Kejelian dan keahlian pasukan asal Bone, justru terbentuk akibat pengalaman penindasan dari Gowa.

Dalam waktu empat hari empat malam, Pauh dikepung. Ketika pasukan dari dalam parit dan bunker keluar, giliran pasukan Jonker merangsek. Peluru-peluru berhamburan. Pasukan Jonker bertumbangan. Namun, sedetik kemudian, mereka bangkit lagi memburu pasukan bersenjata moderen itu.

Tentu, peluru dari senjata moderen abad 17 berbeda dengan era sekarang. Tak langsung mematikan.

Darimana asal muasal sakit yang tak terasa dari tubuh tertembus peluru, darah bersimbah, dalam diri pasukan Jonker?

*

2002.

Bersama Andrinof A Chaniago, saya memasuki Kota Ambon. Hawa perang dimana-mana. Kami dikawal satu regu Brimob beragama Kristen bersenjata lengkap. Dari Bandara, kami menghindari jalur darat. Guna mencapai Masjid Al Fattah, jalur laut dengan senjata siaga menjadi pilihan.

Saya bertemu dengan mahasiswa Cornell University, I Made di sana. Dari Made, saya mengenal penggunaan dua jenis bahasa di Ambon. Satu, bahasa tanah. Satu lagi, bahasa bumi.

Sebutan bahasa tanah lebih tertuju kepada kaum Muslim. Dari kejauhan, Brimob yang menjaga kami, termasuk mengingatkan untuk sholat tepat waktu, sambil menunjuk sejumlah orang dalam angkot, langsung menyebut berapa yang beragama Kristen, berapa yang Muslim.

Kaum Muslim Ambon berbicara lebih ‘kasar’ – mirip orang Pariaman – dibanding Kristen Ambon – mirip orang darek Alam Minangkabau. Kaum Kristem Ambon berinteraksi kuat dengan bangsa-bangsa Eropa. Tak demikian dengan Muslim Ambon. Sekalipun berhubungan erat dengan sayid asal Arab dan Yaman, tentu tidak terlatih dalam bahasa latin.

Konflik Ambon membuat saya tahu, betapa minuman keras bernama sopi ikut menjadi penaik tensi aura perkelahian. Terusir dari Gajah Mada, akibat Peristiwa Ketapang 1999 yang ikut saya saksikan, membuat pemuda-pemuda yang kembali ke Ambon kehilangan percaya diri. Sopi menjadi pilihan.

Dalam perjalanan menuju Seram Barat, 2015, saya menemukan satu kasus lagi. Seorang polisi yang membubarkan anak-anak muda di sebuah gang, dibelah kepalanya. Kembali saya tanya, apa penyebabnya. Jawaban serupa: sopi.

Tentu, sopi yang belum dirakit oleh Victor Laiskodat di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Saya ingat, ketika bertemu dengan Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, di Landak, satu botol minuman khas Dayak berhasil saya bawa ke Jakarta. Saya ingat, kakek saya pun ahli dalam menyeduh tandan pohon enau menjadi minuman.

Tentu, dalam perjalanan ke daerah-daerah yang berbahaya, saya ditemani dering telepon atau pesan pendek dari Badan Intelijen Strategis TNI. Dalam perjalanan ke Ambon, seorang kolonel berlatar TNI Angkatan Laut sebagai check point yang sering menelepon itu.

“Komandan, bolehkan saya membawa sebotol sopi dari Seram ke pesawat, hingga Jakarta?” saya merajuk.

“Jangan, Bang. Siapa yang bisa menjamin, sopi itu tak tumpah di pesawat?” jelasnya.

“Bagaimana kalau saya titip ke pilot, seperti saya sering titip kalau membawa barang-barang berbahaya dari Kalimantan, Papua, atau Aceh, ke Jakarta?” rajuk saya.

“Sopi tak bisa lama di area tertutup. Di dalam botol, misalnya. Abang mau ledakkan pesawat?” ujar sang kolonel.

Saya menyerah.

Begitulah, sambil meminum sopi yang dibawa lewat laut, pasukan Jonker yang berlumuran darah itu mengejar tentara yang mayoritas orang asing bersenjata senapan yang baru keluar dari garnizunnya. Mereka mengeyar dengan mengayunkan parang besar.

Hingga kini, warga Pariaman mengenal mereka dengan sebutan Urang Bagak Gilo Baladiang (Manusia Berani Gila Berparang). Senapan dikejar dengan parang?

Dalam perang empat hari, pasukan multi-nasional yang menjaga Bandar Pariaman itupun menyerah. Kalah. Yang berasal dari Eropa tak lagi berdagang. China dan Keling (India), bertahan. Jawa, Nias, Perak, dan saudagar boemi putra, bertambah masuk ke Kota Pariaman. Kaum dari kasta Paria yang berada di pinggiran, semula hanya kuli di pelabuhan, satu demi satu berjualan kaki lima, hingga terlatih seiring waktu menjadi saudagar antar lautan, negara dan benua.

30 September 1666.

Jonker disambut warga dengan teriakan membahana. Dianggap sebagai Raja dari Tanah Ambon, kaum niniak-,mamak, cerdik-pandai, alim-ulama, dan bundo-kanduang, sepakat memberi gelar sebagai Datuk Panglima. Palakka yang sudah mendapat gelar Raja Ulakan. Kapitan Jonker disematkan tepung si tawar dan si dingin Tuanku Pariaman.

Sebutan Tuanku di Pariaman, berbeda dengan daerah lain. Tuanku bukan Tengku. Tetapi, seorang yang memiliki kealiman dari sisi agama Islam. Tuanku, sebanding dengan sebutan Kyai di Jawa. Sederajat di atas Tuanku, terdapat sebutan Syech. Di bawah Tuanku, berada barisan Pakiah alias santri terlatih.

Pono alias Burhanuddin tersenyum di balik kerumunn massa. Dalam usia 20 tahun, Pono belum menjadi seorang Tuanku di Ulakan. Jonker jelas selangkah di depan, seranting di atas, dibanding Pono. Namun, tiga sosok itu, Pono, Jonker alias Ahmad Sangadji dan Arung Palakka, telah menanamkan panji yang kuat di tanah Sumatera: VOC boleh saja berkuasa, tetapi mata rantai perdagangan berada di bawah kendali saudagar-saudagar Muslim. Tentu, tanpa permusuhan dengan yang lain, baik Nias, Batak, China, Keling, Arab, apalagi saudagar yang berasal dari bumi Nusantara.

Dan sejarah Sumatera mencatat, VOC atau Hindia Belanda selalu gagal dengan politik adu domba di tanah Sumatera.

Pono yang sepanjang hidup berhadapan dengan VOC, diam-diam menjadikan Jonker dan Palakka dalam meracik strategi peperangan. Pono, setelah mencapai gelar Tuanku, naik lagi setingkat menjadi Syech, lalu ke tangga teratas: murshid.

Tiga sosok berjarak usia duapuluhan tahun ini: Jonker-Palakka-Burhanuddin, jadi pucuk inspirasi Peto Syarif alias Muhammad Syahab alias Tuanku Imam Bonjol yang berhadapan dengan Belanda selama 16 tahun (1821-1837). Benteng di bawah tanah bernama Bukit Tajadi, dikepung Belanda selama bukan empat hari, tetapi tiga setengah tahun.

Strategi perang bakubu-kubu menjadi inti pertahanan alam Minangkabau.  Pecah belah pasukan adat dan pasukan paderi, berdamai di Bukit Marapalam dengan membentuk Undang-Undang Nan Duabelas sebagai Kontitusi “Ala Madinah” Pertama di dunia muslim non Arab. Sentot Alibasyah dikembalikan ke Tanah Jawa, dicurigai memberikan amunisi kepada pasukan paderi.

Teuku Umar berkali-kali mengkhianati Belanda di Aceh. Simbolon versus Nasution tak banyak menumpahkan darah dalam Pemerintahan Revolusioner Rakyat Indonesia yng bersekutu dengan Pertahanan Rakyat Semesta di Sulawesi di abad ke 20.

Dan cukup, saya berhenti sampai di sini, jelang pukul 5.55, tanggal 21 Agustus 2021. 

×
Berita Terbaru Update