Murid SD Mulai Belajar Sastra Minang, Para Guru Perlu Pelatihan Khusus

Puluhan guru SD ikuti pelatihan pembelajaran muatan lokal sastra Minang dengan pemateri tim ahli dari UNP. Foto: Dewi

Pariaman - Dinas Pendidilan Pemuda dan Olahraga Kota Pariaman mulai menyusun silabus atau garis besar pembelajaran muatan lokal bahasa dan sastra Minangkabau dalam kurikulum sekolah dasar (SD).

"Kurikulum ini terbilang baru dan para guru perlu mendapatkan pelatihan," kata Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Pariaman, Yurnal saat membuka pelatihan penyusunan silabus kurikulum muatan lokal di SD Negeri 04 Rawang, Rabu (27/1).

Kurikulum muatan lokal, kata Yurnal telah dimulai memasuki semester dua kemarin di tingkat SD dan SMP. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran perlu disusun pokok-pokok utama materi pembelajaran sebagai acuan bagi tenaga pengajar saat memberikan materi pelajaran bagi anak didik.

"Untuk tahap awal bagi guru tingkat sekolah dasar," sambung Yurnal.

Para guru SD akan mendapatkan pelatihan selama tiga hari terkait kurikulum muatan lokal tersebut dari 27 Januari hingga 29 Januari.

Sebagai pemateri, kata Yurnal pihaknya mendatangkan tim pemateri ahli bahasa dan sastra Minang dari Universitas Negeri Padang, Erianjoni dan Junaidi Indrawardi yang sekaligus membantu para guru merancang kurikulum muatan lokal sebagai materi pembelajaran di tingkat sekolah dasar.

Pemateri Erianjoni dalam memberikan materi pelajaran muatan lokal, ia akan mengintegrasikan beberapa model muatan dan kearifan lokal masyarakat Pariaman.

Sedangkan Pemateri Junaidi Indrawardi lebih banyak memberi penguatan penyusunan perangkat belajar muatan lokal dan teknis pemetaan kompetensi dasar.

"Dengan adanya pelatihan ini kita berharap bisa memverikasi jenis-jenis muatan lokal yang akan dijadikan materi pembelajaran di lingkungan sekolah dasar dan para guru mesti fokus menyerap materi yang disampaikan tim ahli," kata Yurnal.

Mengapa perlu memasukkan muatan lokal di kurikulum sekolah formal?

Materi muatan lokal bukanlah hal baru dalam kurikulum pembelajaran di sekolah formal. Di banyak negara, memasukkan kurikulum muatan lokal guna melestarikan budaya bangsa itu sendiri. Seperti penggunaan bahasa Inggris yang lebih umum di Irlandia yang membuat bahasa lokal Irlandia makin terpinggirkan.

Di Jepang, materi muatan lokal diadopsi di berbagai perfektur atau pemerintah tingkat provinsi karena setiap perfektur memiliki kekayaan budaya lokalnya yang unik. Generasi muda Jepang menganut gaya hidup modern dengan tetap mempertahankan kebudayaannya secara harmonis.

Di tanah air juga demikian. Di Bali, materi muatan lokal lebih banyak lagi dimasukkan dalam kurikulum pembelajaran formal dan pembelajaran tambahan. Budaya Bali yang amat kompleks, mulai dari alfabet, bahasa, agama hingga tradisi terus diturunkan kepada setiap generasi melalui penguatan muatan lokal dalam pendidikan formal. (Dewi/OLP)