Harga Cabai Meroket, Bagaimana Respon Pemilik Rumah Makan dan Emak-emak?

Cabai merah keriting segar di salah satu lapak pedagang. Foto: istimewa/internet

Pariaman - Selama liburan natal dan jelang tahun baru, sejumlah harga kebutuhan pokok di sejumlah pasar di kota Pariaman cukup stabil. Namun tidak dengan komiditi cabai. Dalam minggu keempat bulan Desember 2020, harga cabai meroket hingga Rp 70 ribu/kg untuk cabai merah keriting yang paling banyak dikonsumsi warga Pariaman.

Kenaikan harga cabai menurut Kepala Dinas Koperindagkop/UKM Kota Pariaman, Gusniyeti Zaunit disebabkan minimnya pasokan cabai ke pedagang. Berlakulah hukum pasar, ketersediaan dan peminat.

"Benar, harga cabai mengalami kenaikan disebabkan minimnya pasokan dari Jawa Tengah, Curug, Lampung, Medan, Padang Panjang dan Alahan Panjang," kata Gusniyetti Zaunit saat dihubungi, Sabtu (26/12).

Pada minggu ketiga bulan Desember saja, kata Gusniyetti Zaunit, harga cabai di Pasar Pariaman sudah menyentuh harga Rp 60 ribu untuk cabai merah keriting. Sedangkan cabai rawit dan cabai hijau Rp 50 ribu dan Rp 30 ribu.

"Karena minim dari luar, pasokan cabai untuk Pasar Pariaman saat ini mayoritas dipasok dari petani lokal dengan mutu yang sama," sambung Gusniyetti.

Petani cabai di Nagari Kudu Gantiang Padangpariaman, Muhammad Hasbi mengatakan saat ini pengepul membeli cabai dari petani dengan harga Rp 50 ribu/kg untuk cabai merah keriting. Sedangkan untuk cabai hijau dan cabai rawit Rp 25 ribu dan Rp 40 ribu.

Jelang liburan natal dan tahun baru, imbuh Hasbi, pasokan cabai dari petani juga tidak banyak karena sebelumnya beberapa petani cabai sudah panen raya dan panen berkala.

"Saat ini malah banyak petani yang baru memulai masa tanam karena sudah melakukan berkali-kali panen. Umur pohon cabai maksimal hanya satu setengah tahun setelah itu ditanam yang baru," imbuh petani cabai yang juga Ketua PPP Padangpariaman ini.

Lalu bagaimana dampak kenaikan harga cabai bagi rumah makan dan rumah tangga?

Pemilik rumah makan Aur Duri Pariaman, Dewi Fitri Deswati mengatakan dengan naiknya harga cabai akan ada penambahan modal bagi usaha daripada rumah makannya.

"Namun itu tidak mempengaruhi harga," kata Dewi.

Karena menurut Dewi, dari dulu hingga kini harga komoditi tidak bisa ditebak dan bersifat musiman yang tunduk pada hukum pasar.

"Kadang harga cabai bisa menyentuh Rp 20 ribu/kg. Kadang cabai turun, kadang naik. Begitu juga dengan harga bawang. Kini stabil tapi kadang juga naik," sambungnya.

Dewi memastikan naiknya harga cabai tidak akan membuat rumah makannya menaikan harga. Begitu juga dengan sajian sambal cabai, juga tidak akan dikurangi ke pembeli.

"Sajian sambal cabai tetap seperti biasa. Tidak ada yang dikurangi. Kalau dikurangi akan mengubah cita rasa yang telah kita tetapkan," imbuh Dewi yang juga Ketua DPD Partai NasDem Kota Pariaman ini.

Dewi menyebut cabai merupakan kebutuhan vital bagi seluruh pemilik rumah makan yang menentukan rasa dalam setiap menu yang akan dihidangkan ke pembeli. Komposi cabai dalam gulai dan sambal harus tetap sama meski harga cabai sedang meroket.

"Setiap rumah makan punya resep masing-masing dan cabai salah satu unsurnya. Murah mahalnya harga cabai, yang resep masakan tetap dipertahankan," pungkasnya.

Seorang ibu rumah tangga warga Pariaman Tengah bernama Yosi menyebut meroketnya harga cabai jelang akhir tahun sudah ia prediksi sebelumnya. Meski begitu tetap saja memberatkan baginya.

"Kan selalu begitu, naik jelang lebaran dan tahun baru," kata Yosi.

Yosi mengaku merasakan dampaknya. Selaku ibu rumah tangga, ia terpaksa mengeluarkan anggaran belanja lebih karena naiknya harga cabai tersebut.

"Ya gimana lagi, tanpa cabai makan tak enak," pungkasnya tertawa.

Meski begitu Yosi menyebut lebih baik cabai mahal daripada hilang sama sekali dari pasaran karena kenakalan para pedagang yang menjual dengan harga yang lebih mahal ke daerah lain.

"Jika cabai hilang dari pasaran kita para emak-emak pasti akan demo," candanya. (OLP)