Branding dan Tingkatkan Kepuasan Wisatawan Selama di Pariaman, Pemko Gandeng Pengusaha Hotel dan Restoran

Suasana FGD di Balairung Pendopo Walikota Pariaman. Foto: Dewi

Pariaman - Pemerintah Kota Pariaman lakukan pendataan seluruh hotel, homestay, penginapan beserta restoran untuk pengembangan pola perjalanan pariwisata alam. Hal tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) atau diskusi grup yang terfokus di Pendopo Walikota Pariaman, Senin (14/12).

"Ini sangat baik untuk mengembangkan dan memajukan pariwisata Pariaman. Dengan kesepakatan bersama, saya yakin pariwisata kota Pariaman kian maju," ujar Walikota Pariaman, Genius Umar.

Genius menuturkan sektor pariwisata merupakan industri yang trennya selalu berkembang. Sektor pariwisata juga mampu mengangkat sektor ekonomi masyarakat lainnya. Di samping itu, pariwisata juga memberikan dampak positif bagi ilmu pengetahuan, lingkungan dan budaya di suatu daerah.

Bahkan, sambung Genius, presiden juga telah memutuskan menjadikan pariwisata sebagai lini sektor utama negara melihat banyaknya manfaat yang dihasilkannya.

Oleh sebab itu, imbuh Genius, diperlukan berbagai upaya agar suatu destinasi wisata bisa dikenal luas, bahkan hingga ke dunia internasional. Usaha-usaha memasarkan destinasi wisata juga akan memperpanjang masa hidup daripada destinasi tersebut.

Meski melakukan branding sebuah destinasi wisata tidak mudah, apalagi di masa pandemi Covid-19. Tapi akan selalu ada cara dan jalan keluarnya jika diupayakan bersama-sama. Kondisi saat ini juga akan berdampak besar pada branding destinasi yang telah dibangun guna mencapai target kunjungan.

"Dengan adanya FGD ini kita satukan persepsi mengenai pengelolaan pariwisata yang terstruktur apalagi di tengah pandemi Covid-19 di mana protokol kesehatan harus tetap dijalankan," tandasnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman, Dwi Marhen Yono menyebut citra suatu destinasi wisata dipengaruhi oleh akses, atraksi, amenitas dan ancillary atau sektor penunjang dan jasa.

"Dimulai sejak kedatangan wisatawan, selama beraktifitas di destinasi, dan kembali ke daerah atau negara asalnya," kata Dwi.

Sedangkan pengalaman selama beraktivitas di destinasi pariwisata, kata Dwi, akan menjadi faktor penentu apakah suatu destinasi pariwisata akan berhasil atau gagal di kemudian hari. Oleh karena itu, kata dia, suatu destinasi perlu dikelola secara profesional agar wisatawan merasa puas dan senang saat kembali ke daerah atau negara asalnya.

Namun jika wisatawan merasa tidak puas dan risih saat berkunjung ke suatu destinasi pariwisata, tutur Dwi, akan berdampak buruk bagi destinasi pariwisata tersebut meskipun di destinasi tersebut memiliki branding kelas dunia.

"Di sinilah peran dari bapak dan ibu selaku pelaku pariwisata atau penyedia jasa, mulai dari pengusaha hotel, homestay, restoran travel agent, pramuwisata, operator diving, dan lain lain," ujarnya.

Ia berpendapat peningkatan kualitas dan pengalaman berwisata bagi wisatawan harus dilakukan karena pembangunan dunia kepariwisataan mesti peka terhadap kepuasan wisatawan.

"Sehingga perjalanan wisata mereka menjadi berharga. Dalam hal ini, kualitas produk wisata serta interpretasinya memiliki peranan sangat penting bagi kualitas pengalaman berwisata seseorang," sebutnya.

Kota Pariaman menurut Dwi, saat ini sudah menjelma menjadi tujuan wisatawan domestik, tetapi belum menyatukan persepsi mengenai hal tersebut.

"Semoga kita semua seayun selangkah, sabiduak sadayuang, dalam mendorong kemajuan pariwisata agar menjadi kota tujuan wisata yang betul-betul menarik untuk dikunjungi,“ pungkasnya. (Dewi/OLP)