Aset Talao Pauah Resmi Milik Pemko, Bagaimana di Pasir Pauah Terjadi "Alih Profesi"

Walikota Genius Umar teken serah terima aset Talao Pauah dari Kementerian PUPR. Foto: Junaidi

Pariaman - Pemko Pariaman akan lebih leluasa mengembangkan objek wisata Talao Pauah setelah pihak Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan penyerahan aset kepada Pemko Pariaman.

Objek wisata Talao Pauah dibangun melalui program Waterfront City Kementerian PUPR dengan total pembiayaan dari APBN Rp 8,5 miliar.

Penyerahan aset ditandantangani Kepala Balai Prasarana Permukiman (BPP) Kementerian PUPR Wilayah Sumatra Barat, Syafrianti dengan Walikota Pariaman, Genius Umar di Pendopo Walikota Pariaman, Senin (14/12).

Kepala BPP Kementerian PUPR Wilayah Sumatra Barat, Syafrianti menyebut kawasan Talao Pauah dibangun dengan konsep terpadu waterfront city untuk dijadikan objek wisata dan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.

"Kini telah membawa manfaat positif bagi masyarakat sesuai dengan visi misi kota Pariaman sebagai kota tujuan wisata, perdagangan, jasa yang religius dan berbudaya," kata dia.

Dia juga mengapresiasi Pemko Pariaman yang telah memberdayakan masyarakat sebagai pelaku ekonomi dengan menyediakan ruang bagi pedagang kecil, jasa, dan penyediaan kios-kios bagi penjual kuliner.

"Kebersihannya terjaga karena dalam hal ini Pemko Pariaman juga memberdayakan langsung masyarakat," sebutnya.

Genius Umar sendiri telah lama berniat membangunan objek wisata Talao Pauah, bahkan sejak ia menjabat wakil walikota dimulai dengan membuka akses dan memasang jaringan listrik.

Kawasan Talao Pauah yang kini menjadi salah satu ikon baru destinasi wisata di kota Pariaman, baru terealisasi di awal kepemimpinannya bersama Mardison Mahyuddin pada tahun pertama - 2019.

"Setelah aset pembagunan diserahkan, kita bisa mengelola dan mengembangkan Talao Pauah lebih jauh lagi," ujar Genius Umar.

Genius menegaskan perencanaan dan pengembangan waterfront city bertujuan merevitalisasi sungai dan bibir pantai untuk pengembangan pariwisata guna memperbaiki kehidupan masyarakat.

Sebelum serahterima aset Talao Pauah dari Kementerian PUPR kepada Pemko Pariaman, kata Genius, Pemko Pariaman belum bisa menambah dan memberdayakan objek wisata tersebut secara maksimal.

"Ke depan kita dapat menambah dan mengelola kawasan ini secara menyeluruh," katanya.

Kawasan Talao Pauah sendiri saat ini menjelma menjadi salah satu destinasi wisata paling ramai dikunjungi setelah Pantai Gandoriah, Pantai Kata, Pantai Cermin dan Pulau Angsoduo.

Seiring dengan itu pertumbuhan ekonomi sektor riil - masyarakat nelayan - di Desa Pauah Barat ikut terangkat dengan keberadaan objek wisata Talao Pauah tersebut.

Apa yang dirasakan warga Pauah Barat dengan keberadaan Talao Pauah?

Foto kolase objek wisata Talao Pauah di Desa Pauh Barat, Pariaman Tengah. Foto: istimewa


Adang, 60 tahun, sebelumnya adalah pedagang ikan yang berjualan jika ikan pasokan nelayan setempat memadai. Di saat cuaca buruk dan bulan terang, hasil tangkapan nelayan biasanya hampir tidak ada dan jika pun ada, harganya sangat mahal.

Situasi tersebut biasanya berlangsung berhari-hari. Di masa tidak berjualan tersebut, Adang dan puluhan kawan seprofesinya lebih banyak menganggur. Sumber ekonomi mereka bergantung pada nelayan dan nelayan bergantung pada kondisi cuaca.

"Jika ikan banjir kita berjualan, jika tidak ada kita kita menganggur," kata Adang.

Kini, Adang membuat kedai di area Talao Pauah. Ia tidak lagi berjualan ikan. Dagangannya berupa minuman ringan, mie instan siap seduh. Kedainya sederhana namun menyediakan tempat duduk santai bagi pengunjung menghadap ke laut.

"Alhamdulillah penghasilannya lumayan, apalagi di musim liburan. Kemarin sempat lesu di awal-awal pandemi (Covid-19), kini mulai normal," kata Adang.

Selain Adang, ada ratusan warga Desa Pauah Barat yang kini menggantungkan sumber pendapatannya dari objek wisata Talao Pauah.

Para istri nelayan juga diuntungkan dengan adanya objek wisata Talao Pauah. Jika sebelumnya penghasilan mereka bergantung pada pendapatan suami dari hasil tangkapan ikan, kini mereka bisa berhemat dari penghasilan sendiri.

"Dulu kami utang-utangan jika cuaca buruk, dan dibayar saat suami berejeki. Hidup kami tak lepas dari gali lobang tutup lobang," kata Ika, 30 tahun - istri nelayan Pasir Pauah Desa Pauah Barat dan menambahkan "Kini, meski di masa Pandemi Covid-19," ia merasa ekonominya jauh lebih baik.

Mayoritas masyarakat Pasir Pauah Desa Pauah Barat berprofesi sebagai nelayan dan pedagang ikan. Dengan ramainya kawasan wisata Talao Pauah, sebagian beralih profesi, sebagian lagi masih bertahan namun tetap mencari penghasilan tambahan dengan keberadaan Talao Pauah. (Junaidi/OLP)