[Laporan Utama] Hari Nusantara Berakhir dengan Dimulainya Pembangunan Pasar Pariaman

Foto: OLP
Pariaman - Peringatan Puncak Hari Nusantara Nasional 2019 yang dipusatkan di Pantai Gandoriah Kota Pariaman, Sabtu (14/12) dimeriahkan dengan berbagai atraksi. Di antaranya penabuhan 1000 gandang tasa oleh pelajar yang dicatat dalam museum rekor MURI.

Selanjutnya pasukan terlatih dari TNI AL juga melakukan atraksi terjun payung mengitari Pantai Pariaman. Atraksi yang disaksikan ribuan pasang mata wisatawan tersebut - para penerjun langsung diturunkan dari pesawat militer dari ketinggian tertentu. Mereka meliuk-meliuk di udara sebelum landing dengan cantiknya.

Hari Nusantara Nasional pertama kali digelar usai Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 dan ditetapkan oleh Presiden Megawati melalui Undang-Undang pada 13 Desember 2001.

Telah banyak acara yang digelar dalam rangkaian Hari Nusantara Nasional 2019 yang dimulai sejak 7 Desember lalu. Berupa pelatihan oleh TNI AL kepada puluhan operator kapal wisata, sunatan masal, pameran nusantara nasional, dan puncak dari itu semua adalah peletakan batu pertama pembangunan Pasar Pariaman yang dilakukan oleh Menko Ekonomi Airlangga Hartarto dengan Menteri PUPR Basuki Hadi Purnomo siang ini.

Walikota Pariaman Genius Umar mengatakan, dari 500 lebih kota dan kabupaten yang ada di Indonesia, Pariaman ditunjuk sebagai penyelenggara Hari Nusantara Nasional. Hal tersebut bukan tanpa sebab. Pariaman dahulunya merupakan kota pelabuhan yang tercatat dalam buku Suma Oriental Tome Pieres - seorang bangsawan sekaligus juru tulis Kerajaan Portugis pada abad ke-14. Pariaman masa itu merupakan kota besar dan salah satu pusat perdagangan di pantai Barat Sumatera dengan pelabuhan bongkar muatnya yang selalu sibuk.

Berlanjut pada perang dunia kedua, Pariaman juga merupakan basis TNI AL guna menghadang serangan agresi Belanda 1 dan II. Selain nilai sejarah, Pariaman juga memiliki pantai yang indah di samping koordinasi walikota dengan pihak kementertian dan Mabes TNI AL.

Pentas utama puncak Hari Nusantara 2019 dibuat menghadap ke laut. Empat pulau yang mengalungi Pariaman terlihat jelas oleh cuaca pagi nan cerah.

"Di depan kita menghampar laut tanpa batas. Tidak terhitung kekayaan di dalamnya yang belum kita garap maksimal. Potensi inilah yang harus kita maksimalkan," kata Genius.

Kekayaan bahari Pariaman tidak hanya jenis ikan yang beragam, namun juga kawasan terumbu karang yang eksotik. Potensi tersebut telah lama memikat bagi pecinta olahraga diving dan snorkeling.

"Semua perlu dikelola dengan baik. Pariaman adalah bagian dari Indonesia yang memiliki anggaran terbatas. Untuk itulah kita sampaikan kepada Bapak Menteri," kata Genius.

Selain potensi yang ia sebutkan, Genius juga melihat potensi lain di Pariaman, yakni sebuah pelabuhan transportasi laut. Jika pelabuhan dibangun di Pariaman, akan terjadi sinergi antara Pariaman dan Kabupaten Mentawai. Baik dari sisi pariwisatanya hingga dari sisi perdagangan.

"Karena jarak antara Pariaman dengan bandara (BIM) hanya 15 menit," tandasnya.

Menko Ekonomi Airlangga Hartarto mengatakan negara kepulauan Indonesia telah diakui oleh dunia internasional.

"Laut merupakan jati diri bangsa Indonesia. Laut adalah perekat bangsa. Semangat kemaritiman ini perlu diteruskan ke generasi muda," ujar Ketua Umum DPP Golkar itu.

Airlangga menambahkan
Kementeriannya mendorong kawasan wisata strategis nasional. Saat ini turis asing yang berkunjung ke Sumbar baru 60 ribu per tahun.

"Perlu didorong dengan nvestasi dan infrastruktur," kata dia.

Revitalisasi Pasar Pariaman

Menteri PUPR dan Menko Ekonomi letakan batu pertama pertanda akan dibangunnya Pasar Pariaman di Jalan Sutan Syahrir depan Stasiun Pariaman.

Pasar Pariaman sendiri dibangun pada masa kolonial Belanda yang saat itu diberi nama 'Los Barangin'. Pemberian nama tersebut karena saat itu pasar milik ampek kanagarian itu bangunannya tanpa sekat dinding dan merupakan bangunan menghampar. Jika angin berhembus, akan langsung masuk ke dalam kios.

Sejak zaman kemerdekaan telah tiga kali renovasi Pasar Pariaman dan yang terbesar pada 1989 pasca terbakarnya pasar saat itu pada 1988. Pasar yang dibangun di zaman Anas Malik itu selesai dalam dua tahun memiliki luas lahan 4.565 m2 yang dibangun dua lantai.

Pembangunan ulang Pasar Pariaman ini masih dengan luas lahan yang sama tapi dibangun 4 lantai 360 kios. Luas bangunan terhitung 9.970 m2 dengan nilai kontrak Rp81.715.490.000 yang akan dikerjakan oleh PT Wijaya Karya (Persero) TBK dengan Konsultan DK PT Deta Decon.

Pasar Pariaman sendiri akan dibangun dengan konsep hijau dan tahan gempa sesuai SNI 1726-2012. Di puncak bangunan dibuatkan shelter bila terjadi tsunami. (OLP)