Wali Feri Duga Demo Anarkis di DPRD Sumbar Disusupi Provokator

Wali Feri saat bagikan masker kepada siswa di salah satu sekolah di Padangpariaman. Foto: istimewa
Pariaman - Gedung DPRD Sumatera Barat tengah beres-beres. Para petugas masih ada melakukan pembenahan minor pasca aksi demo ribuan mahasiswa berujung anarkis yang merusak sejumlah fasilitas di gedung itu pada 25 September lalu. Kerugian ditaksir mencapai Rp3 miliar. Namun demikian, aktivitas di dewan tetap jalan hari ini, Jumat (27/9).

Legislator Sumbar, Tri Suryadi mengatakan, tidak hanya telah terjadi kerusakan pada fasilitas dalam ruang sidang utama, tapi nyaris ke seluruh ruangan. Bahkan, toilet pun ikut dipecahkan dalam aksi anarkis tersebut.

"Beberapa bidang dinding juga kena coret cat pilox," kata Wali Feri, karib ia disapa.

Kemudian, imbuh Wali Feri, sejumlah dokumen penting di DPRD Sumbar juga hilang. Beberapa dokumen ada yang disimpan dalam harddisk komputer dan ada pula dalam bentuk kertas jilid. Sebagaimana diketahui, komputer dan buku juga jadi sasaran amuk massa pada aksi demo.

Wali Feri sayangkan aksi demo berujung anarkis itu. Mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Akuntansi Universitas Bung Hatta yang juga aktivis 98 ini, menyebut aksi demonstrasi tanda aktifnya alarm demokrasi di Indonesia, namun, bukan berarti saat berdemo bisa berbuat sekehendak hati dan melakukan pengrusakan.

"Kita apresiasi adik-adik mahasiswa yang menyuarakan hak demokrasinya karena kita dulu juga mahasiswa. Namun aksi demo jangan hingga merusak dan berlaku anarkis," kata Legislator dapil Padangpariaman dan Pariaman itu di Pariaman, Jumat (27/9).

Wali Feri menduga aksi demo oleh ribuan mahasiswa 25 September itu telah diboncengi. Dari berbagai bukti yang ditemukan petugas di lapangan melalui rekaman cctv, kata Wali Feri, aksi telah disusupi oleh oknum tertentu yang sengaja datang untuk berbuat anarkis.

Kata dia, sebelum disusupi, aksi demo berlangsung aman dan tertib. Penyusup diduga berhasil memprovokasi sehingga mahasiswa ikut berbuat anarkis.

Kata Wali Feri, petugas yang bersiaga di gedung dewan saat terjadi demo tidak sebanding dengan jumlah massa demonstran. Mungkin, kata dia, pihak kepolisian juga tidak menyadari peserta demo berjumlah ribuan sehingga petugas yang disiagakan tidak maksimal.

Dengan minimnya jumlah petugas pengamanan saat itu, kata Wali Feri, diduga dimanfaatkan oleh provokator. Suasana tersebut diboncengi para penyusup untuk melakukan pengrusakan.

"Para penyusup diduga telah menyiapkan dengan matang aksinya sebelum mendatangi gedung DPRD untuk memprovokasi dan berbuat anarkis. Bukti cctv terlihat ada yang bawa palu dan pentungan. Saya pikir hal ini perlu diusut oleh pihak berwenang agar diketahui siapa sebenarnya yang memboncengi aksi demo," kata politisi Gerindra itu.

Ia menyebut DPRD Sumbar siap menampung aspirasi mahasiswa. Dan hal tersebut telah dilakukan dewan saat aksi demo. Pihaknya selama ini tidak pernah alergi terhadap kritik dan masukan dari pihak mana pun termasuk dari kalangan akademis dan mahasiswa.

"Bahkan kita siap berdiskusi dengan mahasiswa dan seluruh komponen masyarakat terkait isu nasional dan masukan untuk membangun Sumatera Barat ke depan," kata dia.

Aksi demo yang bertepatan dengan Hari Tani Nasional itu diikuti oleh ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat. Mahasiswa sempat menduduki gedung DPRD Sumbar hingga pukul 15.30 WIB setelah berorasi selama tiga jam lebih.

Mahasiswa memasuki ruang gedung setelah menerobos barikade petugas keamanan. Dalam aksi itu, demonstran juga menurunkan foto Presiden Joko Widodo.

Mahasiswa saat itu meminta DPRD Sumbar mengirim surat tuntutan mahasiswa agar Undang-Undang KPK dibatalkan, menuntut pembatalan RKUHP, RUU Pertanahan dan sejumlah revisi undang-undang lainnya yang dianggap bermasalah. Mahasiswa juga mendesak DPRD Sumbar agar ikut bersama mahasiswa menandatangani tuntutan yang akan dikirimkan ke Jakarta itu. (OLP)