[Sorot Kinerja Genius Umar] Ahli Ambil Dana Pusat yang Ingin Mengembalikan Usia Asli Kota Pariaman

Genius Umar foto bersama 28 kepala desa hasil Pilkades serentak 2019 didampingi Wawako dan Ketua PKK Mardison Mahyudin dan dr Lucy. Foto: istimewa
Pariaman - Molornya jadwal pembangunan ulang Pasar Pariaman bukan karena pemilu serentak, apalagi faktor Pilpres 2019 sebagaimana isu yang berkembang di tengah masyarakat. Namun karena perubahan rancangan dari desain yang lama menjadi konsep bangunan hijau atau green building.

Selain perubahan pada konsep bangunan, rencana awal pembangunan selesai dalam satu tahun di 2019, juga berubah. Sekarang menjadi multi year atau pengerjaan bangunan selesai dalam dua tahun, dari 2019 hingga 2020.

Pembangunan pasar bertema bangunan hijau tersebut akan menerapkan energi terbarukan dan bahan ramah lingkungan pada seluruh bangunannya. Di pasar Pariaman yang akan dibangun juga akan dibikin selter pada lantai atasnya.

Hingga hari ini telah dilaksanakan tender manajemen konstruksi di Jakarta dan proses boring dan sondir di lokasi pembangunan Pasar Pariaman. Setelah selesai manajemen konstruksinya, barulah tender atau lelang pembangunan pasar berlantai empat yang diperkirakan menghabiskan dana Rp102 miliar tersebut dimulai. Lelang bersifat terbuka dilakukan oleh pemerintah pusat dan bisa diikuti oleh perusahaan yang memenuhi kualifikasi atau syarat, dan dapat dipantau oleh siapa saja melalui website.

Walikota Pariaman, Genius Umar memperkirakan pembangunan Pasar Pariaman akan dimulai pada Agustus 2019. Orang nomor satu di Pariaman itu meminta masyarakat Pariaman bersabar dan mempercayakan kepada pemerintah.

"Karena tidak mungkin pemerintah berniat ingin merugikan masyarakatnya. Apa yang kita lakukan semua demi kebaikan masyarakat," ujar Genius Umar di Pendopo Walikota Pariaman, Jumat malam (31/5).

Selain dana pembangunan pasar Rp102 miliar yang bersumber dari Kementerian PUPR, kata Genius, pihaknya juga berhasil menggaet dana kementerian tersebut dalam program KOTAKU seniali Rp20 miliar yang dipergunakan untuk membangun konsep Waterfront City Pariaman di dua lokasi.

Dana Rp20 miliar ini kemudian dibagi dua. Setengahnya untuk penataan destinasi wisata Telaga Pauh di Desa Pauh Barat dan setengahnya lagi guna penataan bantaran kali yang berlokasi di belakang bangunan PLN Pariaman.

Untuk Telaga Pauh akan dibuat jembatan dan pedesterian di atas telaga. Kemudian membuat menara pandang agar wisatawan bisa menikmati keindahan telaga dan laut Pariaman dari ketinggian.

Genius mengimbau agar masyarakat Pauh Barat tidak perlu resah dengan rencana pemerintah. Isu akan adanya penggusuran pada sejumlah bangunan yang telah didirikan oleh masyarakat, Genius membantah, itu tidak benar.

"Kita hanya melakukan penataan dan tidak menggusur. Pemerintah tidak punya niat sedikitpun bikin rugi masyarakat. Jangan dengarkan isu-isu yang sengaja dikembangkan untuk membuat keresahan. Percayakan kepada kami, kita akan buat indah destinasi Telaga Pauh," tegas doktor ilmu kebijakan publik dari IPB itu.

Sedangkan pada bantaran kali belakang PLN Pariaman, akan dibangun jalan setapak dan pemasangan lampu penerangan di sekitar bantaran kali. Lokasi itu dibuat seindah mungkin untuk menarik minat wisatawan berkunjung.

Sejarah Kota Pariaman

Menurut Genius, Kota Pariaman memiliki banyak bangunan bersejarah peninggalan Jepang dan Belanda. Pihaknya juga akan membuat regulasi ketat agar nilai-nilai sejarah bangunan di Pariaman tidak lenyap karena diubah oleh instansi atau masyarakat yang memilikinya.

Mantan Wakil Walikota Pariaman satu periode itu juga menyoroti umur Kota Pariaman. Ia tidak menampik Kota Otonomi Pariaman berdiri pada tahun 2002 pasca pemekaran dari Kabupaten Padangpariaman.

Namun, sejarah asli Kota Pariaman itu sendiri tidak semuda itu. Kota Pariaman jauh lebih tua daripada Kota Padang. Kota Pariaman telah ada jauh sebelum penjajahan Belanda di Bumi Nusantara.

Jika merujuk catatan penulis Portugis, Tome Pieres dalam buku berjudul Suma Oriental, Kota Pariaman sudah menggeliat sejak abad ke-14. Di masa itu Pariaman merupakan salah satu kota pelabuhan terbesar di sepanjang Pantai Barat Sumatera. Tome Pieres menulis buku populer ini berdasarkan pengalamannya berlayar bersama kapal Kerajaan Portugis dari semenanjung Malaka hingga Maluku di abad ke-14.

"Ini perlu kita maknai bersama-sama. Sejarah tidak boleh hilang. Kota Pariaman itu sangat tua dan sejarahnya mesti kita kembalikan," kata suami dr Lucy itu.

Oleh karena itu, imbuh Genius, pihaknya akan mengadakan focus group discussion atau FGD tentang awal mula lahirnya Kota Pariaman. Ia akan mengundang para ahli sejarah termasuk Dr Suryadi Sunuri, dosen dari Universitas Leiden, Belanda.

"Kesimpulan dari FGD tersebut kita bawa ke DPRD Kota Pariaman untuk dibuatkan Peraturan Daerah tentang lahirnya Kota Pariaman. Setelah itu, ulang tahun Kota Pariaman akan dihitung berdasarkan sejarah berdirinya," pungkas Genius. (OLP)