BMKG Padang Panjang Edukasi Stakeholder Pariaman Ilmu Kegempaan

Foto: Nanda
Pariaman - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Padang Panjang melaksanakan sekolah lapangan geofisika kepala operator pusat kendali operasi (pusdalop) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kelompok masyarakat dan pihak lainnya di Kota Pariaman, Rabu (19/6).

Sekolah lapang itu dilakukan agar pusdalop dan pihak terkait dapat menerjemahkan informasi gempa bumi dari BMKG, agar informasi tentang gempa bumi dapat ditindaklanjuti dengan langkah penyelematan secara cepat dan tepat.

"Dengan kegiatan ini, pihak terkait seperti BPBD, kelompok masyarakat, media memahami informasi mengenai potensi gempa bumi, antisipasi terjadinya gempa bumi, serta bagaimana media dalam menyebarluaskan informasi gempa bumi," kata Kepala Stasiun Geofisika Padang Panjang, Irwan Slamet.

Slamet mengungkapkan, informasi indeks risiko bencana Indonesia yang dirilis oleh BNPB pada 2013 silam menempatkan Kota Pariaman sebagai daerah yang memiliki nilai indeks risiko gempa bumi dan tsunami yang tinggi. 

Indeks risiko ini, lanjut Slamet, diakibatkan oleh rawannya terjadi potensi bencana alam dan padatnya penduduk dan aktivitas ekonomi Kota Pariaman.

"Sehingga jika tidak dilakukan langkah tepat, akan terdapat potensi kerugian yang besar baik jiwa maupun ekonomi," lanjut dia.

Sekolah lapang geofisika, sekaligus wadah bagi BMKG berkoordinasi dengan pihak terkait manajemen kebencanaan lainnya, meningkatkan kapasitas masing-masing dalam berupaya mengurangi risiko terjadinya bencana gempa dan tsunami. 

"BPBD sebagai ujung tombak penyebarluaskan informasi tentang gempa bumi di daerah, mampu memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat dan melakukan upaya tepat," pungkasnya.

Wakil Walikota Pariaman, Mardison Mahyuddin mengatakan pembentukan BPBD Kota Pariaman tahun 2010 atau pasca terjadinya gempa dahsyat 30 September 2009 silam, menjadi salah satu upaya mengurangi dampak risiko bencana yang terjadi.

"Dengan ikhtiar kesiapsigaan bencana yang kita lakukan dapat menimalisir risiko bencana, dampak besar dapat diperkecil," katanya.

Secara khusus, mengurangi risiko bencana gempa, Pemko Pariaman telah melakukan berbagai upaya, antara lain membangun jalur evakuasi di banyak wilayah Kota Pariaman. 

Upaya lainnya, pemerintah daerah aktif melaksanakan mitigasi bencana kepada masyarakat dengan membentuk 1.400 relawan siaga bencana, sosialisasi kepada masyarakat sejak tahun 2010 silam, membangun shelter dan peta evakuasi.

"Proses penyelenggaraan penanggulangan bencana dilakukan dengan tiga fase yakni pra bencana, saat tanggap darurat dan pasca bencana. Ini telah kita lakukan, namun pendekatan keagamaan penting dilakukan agar masyarakat tidak melakukan tindakan atau perbuatan yang menjadi pemicu terjadinya bencana," pungkasnya.

Sekolah lapang geofisika oleh BMKG Padang Panjang diselenggarakan hingga esok hari yang diperdalam dengan melakukan diskusi. (Nanda)