Genius Yakin Swing Voters Pilpres Mulai Tentukan Pilihan Pasca Debat

Foto: Nanda
Pariaman - Walikota Pariaman, Genius Umar menilai menilai "swing voter" mulai menentukan pilihan pasca dilakukannya debat calon presiden dan wakil presiden sesi II yang digelar Senin (17/2) malam. 

Genius menangkap masih ada masyarakat di daerahnya yang belum menentukan pilihan politik. Diperkirakan jumlahnya mencapai 10-15 persen. 

"Masih ada debat lagi yang bakal diselenggarakan KPU, namun maksimal 1 kali penyelenggaraan debat lagi, swing voter sudah memiliki cukup alasan menjatuhkan pilihannya terhadap salah satu calon," kata dia di Pariaman, Selasa (18/2).

Dikatakannya, masifnya penyebaran informasi hoax menyerang kedua kandidat, menyumbang sikap ragu-ragu masyarakat menentukan pilhan. Semulanya telah menetapkan akan memilih salah satu capres, akhirnya kembali ragu karena ada informasi hoax yang mereka terima tentang capres tersebut.


"Hoax ini ikut membuat masyarakat ragu  karena isinya menjelek-jelekkan saja. Karena itu, kami meminta masyarakat tidak mudah menerima informasi hoax kemudian menyebarkan," ulasnya.

Menurutnya, masih adanya masyarakat yang belum menentukan pilihan juga disebabkan minimnya sosialisasi yang dilakukan parpol pengususng capres cawapres di daerah, maupun tim pemenangnya.

"Minimal masing-masing tim menyampaikan visi dan misi masing-masing pasangan capres cawapres. Karena sosialisasi dan kampanye sejatinya adalah sarana untuk pendidikan politik kepada masyarakat," ujarnya.

Senada dengan hal itu, anggota komisi III DPR RI asal dapil Sumatera Barat II dari Partai Golkar, Jhon Kennedy Azis mengatakan pihaknya meminta masyarakat Kota Pariaman menjadi pemilih cerdas pada pemilu serentak tahun 2019. 

Untuk menjadi pemilih cerdas masyarakat mesti memebedah visi dan misi atau gagasan yang diusung masing-masing kandidat, menelaah sebelum akhirnya menentukan pilihan.

"Orientasi pemilih harus berdasarkan gagasan, jangan politik identitas. Visi dan misi yang ditawarkan kandidat adalah arah pembangunan. Mau diapakan Indonesia lima tahun ke depan, bisa dilihat dari visi dan misinya," ujarnya.

Ia juga menyinggung masifnya penyebaran hoax yang menghantam kedua kandidat capres jelas membingungkan masyarakat menentukan pilihan.

Kadangkala, akibat hoax itu masyarakat yang awalnya menjadi korban malah menjadi produsen hoax, karena itu ikut menyebarkan informasi hoax.

"Imbauan kita agar masyarakat cerdas menyikapi informasi, jangan mudah percaya dan langsung menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya," pungkasnya. (Nanda)