Wow! Pemerintah Australia Mulai Lirik Potensi Kota Pariaman

Genius Umar bertukar cinderamata dengan pihak Kedubes Australia. Foto: Nanda
Pariaman - Asisten II Bidang Politik Kedubes Australia untuk Indonesia, Amy Keough mengunjungi Kota Pariaman. Dalam kunjungan itu, kemungkinan kerjasama di berbagai bidang antara Pemerintah Australia dan Pemerintah Kota juga menjadi topik pembahasan.

"Saya mewakili dubes bertemu untuk menjalin silaturahmi. Mungkin saja ada yang bisa dikerjasamakan ke depannya," ujarnya.

Ia menyebut Kota Pariaman akan melalui perkembangan yang pesat di bidang ekonomi dan pariwisata. Potensi keindahan alam, jika dikelola dengan maksimal akan memberikan dampak ekonomi yang besar bagi Kota Pariaman. 

"Potensinya sangat bagus, jika dimaksimalkan pengelolaannya akan ada dampak ekonomi yang besar," pungkasnya.

Walikota Pariaman, Genius Umar mengatakan pertemuan dengan pihak kedubes Australia adalah awal yang baik untuk membuka peluang kerjasama antar pemerintah.

"Kita sedang meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan dan pengembangan pariwisata. Kerjasama dengan perguruan tinggi untuk beasiswa anak muda kita di Kota Pariaman. Mungkin saja ada terbuka peluang untuk kerjasama dengan pemerintah Australia. Begitu pula di bidang pariwisata," kata Genius yang menguasai lima bahasa itu.

Sebagai kota kecil yang memiliki garis pantai sepanjang 12 kilometer, perkembangan dan kemajuan Kota Pariaman tidak meninggalkan nilai adat dan kebudayaan lokal Pariaman. Budaya, adat dan tradisi tetap dipertahankan.

"Pemko Pariaman mempertahakan kearifan lokal budaya Minangkabau dengan menghidupkan kembali fungsi Dubalang dan Barakai di setiap dusun yang ada di Kota Pariaman, serta menggerakkan semangat gotong royong masyarakat," ulasnya.

Dalam perbincangan itu juga, Genius Umar mempertegas komitmen pemerintah Kota Pariaman menolak perilaku LGBT yang saat ini menjadi permasalahan secara nasional.

"Ini menjadi perhatian khusus bagi Pemko Pariaman yang diwujudkan dengan dikeluarkannya Perda Trantibmum yang menindak pelaku asusila LGBT. Perilaku LGBT bertentangan dengan nilai agama Islam dan budaya Minangkabau," pungkasnya. (Nanda)