Sirine Peringatan Tsunami Berdenging, Pegawai di Balaikota Pariaman Berhamburan

Sejumlah ASN Kota Pariaman berkumpul di halaman Balaikota setelah mendengar sirine pukul 10.00 WIB dalam rangka HKB. Foto/Eri Elfadri
Pariaman ----- Tepat pukul 10.00 WIB, sirine peringatan dini tsunami di Balaikota Pariaman berbunyi panjang. ASN yang berada di dalam ruangannya masing-masing berhamburan ke luar menuju lapangan hijau di halaman Balaikota Pariaman. Sejenak mereka berkumpul dan kembali ke ruangan msing-masing untuk melanjutkan perkerjaan.

Perisiwa tersebut merupakan kegiatan evakuasi mandiri dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) yang jatuh pada tanggal 26 April setiap tahunnya. Hari peringatan tersebut merupakan keluarnya Undang-undang 24 tahun 2007 pada tanggal 26 April 2007 silam. Sehingga tanggal tersebut ditetapkan sebagai HKB.

“Pemerintah Kota Pariaman melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mengajak seluruh lapisan masyarakat maupun instansi dan perusahaan untuk ikut berpartisipasi melaksanakan latihan evakuasi mandiri dalam rangka HKB,” ungkap Kepala BPBD Kota Pariaman, Asrizal, Kamis (26/4).

Ia juga mengimbau masyarakat pada tanggal 26 April jam 10.00 bila mendengar atau tidak mendengar sirine hendaknya melakukan tata cara penyelematan diri dari gempa selama tiga menit, keluar dari bangunan bila berada dalam ruangan dan menuju titik kumpul di tempat terbuka.

Kepala BNPB pusat Willem Rampangilei sebelumnya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan akan ancaman bencana yang ada di daerah masing-masing. Meningkatkan kesiapsiagaan yang dimulai dari diri sendiri, keluarga serta lingkungan sekitar untuk menghadapi bencana tersebut.

Willem juga mengatakan bahwa ketahanan bencana dimulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar.

"Memahami ancaman bencana saja tidak cukup, karena pada kenyataannya butuh kemampuan/skill individu dalam bertindak. Untuk itu, meningkatkan kesiapsiagaan bencana dengan latihan evakuasi mandiri sangat penting dilakukan secara rutin untuk mengasah insting setiap individu dalam menyelamatkan dirinya sendiri," kata dia.

Selanjutnya, imbuh dia, setiap latihan harus diikuti dengan evaluasi untuk memperbaiki SOP serta sarana dan prasarana keselamatan dalam menghadapi bencana.

Dalam pantauan wartawan di lapangan, tidak ada masyarakat Pariaman yang melakukan imbauan tersebut. Menurut Riswan (38), warga Pariaman Tengah, ia tidak mengetahui imbauan tersebut.

"Kita baru dapat kabar saat ditanya (oleh wartawan). Mestinya hal tersebut disosialisasikan jauh hari di media, media sosial atau radio. Saya pikir tujuannya sangat bagus," ujarnya. (Tim)