Kapolres Pariaman: Informasi Aktual Wartawan Bisa Tangkal Hoaks dan Ujaran Kebencian

Dalam rangka silaturahmi, Polres Pariaman gelar futsal persahabatan dengan wartawan Pariaman. Foto/Nanda
Pariaman ----- Kapolres Pariaman AKBP Andry Kurniawan silaturahmi dengan wartawan Pariaman, Jumat (27/4) sore. Silaturahmi dikemas dengan olahraga futsal bersama di lapangan futsal TMC Pariaman.
      
Olahraga futsal adalah pertemuan pertama AKBP Andry dengan wartawan Pariaman, setelah menjabat sebagai Kapolres Pariaman pada 20 April 2018 silam.
     
"Ini adalah pertemuan dan silaturahmi pertama saya setelah menjabat Kapolres di Pariaman," ujarnya.
      
Ia mengatakan, keberadaan wartawan sangat mendukung peran tugas dan fungsi kepolisian Polres Pariaman dalam menciptakan kamtibmas di wilayah Polres Pariaman. Posisi wartawan sebagai penyampai informasi kepada publik, potensial menangkal penyebaran informasi hoaks dan ujaran kebencian.
     
"Penyebaran informasi hoaks dan ujaran kebencian menjadi permasalahan di Indonesia. Kita harapkan penyebaran informasi faktual dari rekan-rekan wartawan dapat menangkal informasi hoaks dan ujaran kebencian," ulasnya.
      
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pariaman, Ikhlas Bakri menyebut kerjasama PWI Pariaman dengan Kepolisian telah terjalin sejak lama. Diawali saat kepemimpinan mantan Kapolres Yadi Priyadi.
     
"Sejak lama wartawan Pariaman bersinergi dengan kepolisian di Pariaman. Wartawan dengan fungsinya menyampaikan informasi kepada publik. Sedangkan Polres Pariaman memberikan informasi yang disampaikan kepada publik," sebutnya.
      
Terkait penyebaran informasi hoaks dan ujaran kebencian, pihaknya sangat mendukung langkah itu. Ia menilai, informasi hoaks dan ujaran kebencian menimbulkan keresahan dilingkungan masyarakat.
       
"Wartawan terikat dengan kode etik dan aturan yang mengikat, selagi berpegang dengan aturan itu tidak akan ada berita hoaks. Sesuai instruksi PWI pusat dan Dewan Pers, wartawan diikutkan sertifikasi. Kami akan luruskan dan konter informasi hoaks ini," komitnya.

Terpisah, Praktisi Media Oyong Liza Piliang mengatakan permasalahan hoaks merupakan fenomena seiring perkembangan teknologi informasi dan media sosial. Hoaks, kata dia, memiliki beragam tujuan.

Ada demi kepentingan politik, mengejar klik untuk pendapatan iklan dari google adsense hingga bertujuan memecah kesatuan berbangsa dan bernegara.

"Wartawan dituntut memerangi hoaks demi keberpihakan kepada kebenaran dan kepentingan masyarakat. Media mesti mengabarkan berita yang benar-benar terkonfirmasi oleh wartawan itu sendiri dari media yang bersangkutan," ujarnya.

Ia menyebut, produk jurnalisme oleh media mestilah presisi. Kaya data, berimbang dan tidak berniat menghasut dengan judul-judul boombastis.

"Media yang menyediakan informasi memihak, menghasut, framing, lambat laun akan ditinggalkan pembaca, karena media merupakan bisnis kepercayaan publik," pungkasnya. (Nanda)