Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

[Editorial] Menjaga Keseimbangan Alam Demi Kelanjutan Pariwisata Pariaman

22 April 2018 | 22.4.18 WIB Last Updated 2018-04-23T00:54:36Z
Foto salah satu kegiatan aksi bersih bersih pulau dan penanaman terumbu karang. Foto/istimewa

Oleh Oyong Liza Piliang
Rasanya bisa disebut, susah mencari orang yang tidak mengenal Pulau Angsoduo Pariaman di "Jaman Now". Terutama mereka yang aktif di media sosial. Popularitas pulau seluas 1,8 hektare tersebut melejit sekitar 4 tahun belakangan seiring masifnya pembangunan infrastruktur di pulau berjarak 1,6 mil dari bibir Pantai Gandoriah itu.

Seiring perkembangan media sosial, jutaan foto Pulau Angsoduo telah menyebar di Facebook, Instagram, Twitter dan catatan segar para blogger. Pulau Angsoduo salah satu aset terbesar milik Pariaman di bidang kepariwisataan. Ia juga penggedor utama dan pengungkit sektor wisata lainnya.

Jika kita mengetik "pulau angso duo pariaman" di google, dalam 0,38 detik, sekitar 34.600 halaman siap menjadi sumber rujukan informasi. Jika kita klik google image, tiada yang bisa menahan hasratnya untuk selekas mungkin berkunjung ke sana.

Pulau Angsoduo kaya akan nilai-nilai sejarah dengan adanya 9 makam bernisankan tulisan Arab Melayu. Makam Panjang Katik Sangko bahkan melahirkan ragam aroma mistis. Keyakinan pulau dihuni dalam rentang waktu lama, dikuatkan dengan adanya sumur yang terbuat dari susunan kerang. Airnya jernih dan bahkan ada paranormal yang mengatakan jika mencuci muka dengan air sumur tersebut akan mudah rejeki dan penghilang sial. Mengenai hal berbau mistis tersebut, wallahualam.

Pulau Angsoduo telah menjadi studi pelbagai disiplin ilmu. Peneliti kebangsaan Irlandia Tom Corcoran, bersama Wiva dari Irlandia, Jered dari Amerika dan Mark dari Australia dalam ekspedisi National Geographic Explore, Januari 2015, melakukan penelitian di Pulau Angsoduo dan Pulau Kasiak.

Saat itu mereka meneliti dampak kerusakan terumbu karang oleh kegiatan nelayan yang tidak bertangungjawab seperti menggunakan bahan peledak. Tim saat itu melakukan dua sesi penyelaman: siang dan malam guna melihat aktivitas biota laut termasuk micro plankton. Penyelaman malam hari untuk meneliti reproduksi koral karena terumbu karang bereproduksi pada malam hari.

Di samping organisasi sekelas Natonal Geographic, tim ekspedisi Merah Putih Pariaman bersama Tabuik Diving Club juga melakukan hal yang sama. Penanaman terumbu karang mulai dilakukan. Turut pula korps Marinir. Puluhan penyelam marinir terlatih dikerahkan waktu itu.

Upaya penyelamatan pulau dengan kekayaan biota lautnya kadang tidak sejalan dengan eksploitasi wisata yang berlebihan di pulau tersebut. Banyak wisatawan yang belum menyadari pentingnya biota laut demi keseimbangan pulau. Tak jarang wisatawan mandi di kawasan terumbu dan menginjak-injak terumbu karang, membuang sampah ke laut dan mencabuti terumbu untuk di bawa pulang sebagai buah tangan.

Jika hal tersebut terus dibiarkan tentu saja kerugian besar siap menghadang Pemko Pariaman dan warganya. Kerusakan terumbu karang bukan perkara tidak serius. Butuh puluhan tahun untuk pemulihannya.

Peningkatan kesadaran dan partisipasi pengunjung perlu diintensifkan saat mengunjungi pulau. Dalam hemat kami, peranan itu bisa di awalai dengan membuat satgas pecinta terumbu karang yang di motori oleh Pemko Pariaman melibatkan aktivis yang sudah punya andil saat ini.

Di samping itu diperlukan pula sosialisasi sejak dini guna menanamkan arti dan manfaat terumbu karang bagi kelangsungan hayati warga pesisir sejak masa kanak-kanak bagi warga Pariaman. Dengan kesadaran warga yang tinggi, tentu akan diteruskan kepada setiap pengunjung pulau. Rasa memiliki oleh warga adalah formulasi terbaik dalam menjaga daerahnya.

Kemudian memperkuat koordinasi antar instansi yang berperan pada penanganan terumbu karang. Baik pengelola daerah, aparat keamanan, pemanfaat sumber daya dan pemerhati lingkungan. Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia melalui pelatihan rehabilitasi terumbu karang juga diperlukan untuk penanganan yang komprehensif dan berkesinambungan.

Di samping itu, aspek penegakan hukum juga diperlukan sebagai langkah akhir. Komponen ini dipandang sangat krusial guna mencapai tujuan rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang jangka panjang. Masyarakat memegang peranan penting sebagai pengamat terumbu karang atau reef watcher, di mana mereka berkewajiban meneruskan fakta pada penegak hukum tentang pelanggaran yang mengganggu kelangsungan hidup terumbu karang di daerahnya.

Semua hal tersebut tentu bukan perkara mudah menjalankannya. Perlu formulasi dan kesadaran bersama.

Menjual pariwisata dengan mengabaikan lingkungan adalah sebuah lelucon. Tidak akan bertahan lama. Hanya bersifat insidential yang lekas sirna. (***)
×
Berita Terbaru Update