[Studi Banding ke Jatim] Bergurulah Sebelum Berguru Itu Dilarang

Meja bundar ruang redaksi Jawa Pos disesaki wartawan Pariaman dan jajaran Kominfo Kota Pariaman.
Sorga berada
Di mana air mengalir
Di kerindangan pohon


Kota Surabaya tidak tidak lagi gersang, panas dan "alam terkembang menjadi tong sampah". Setidaknya hal tersebut diucapkan orang yang pernah menetap lama di kota Pahlawan tersebut.

Mereka bisa membandingkan Surabaya dulu, dan Surabaya kini---dibawah kepemimpinan Walikota Tri Rismaharini. Bagi saya, apa yang saya saksikan sekarang, itulah yang jadi alat ukur. Tak salah kiranya saat ini kota tersebut acapkali menerima penghargaan tingkat internasional tentang penataan kota yang bersih dan hijau.

Big Boss Jawa Pos Dahlan Iskan secara mengejutkan menemui tamu Pariaman di tengah kesibukannya


Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Pariaman Nazifah---yang pernah menetap tahunan (kuliah) di sana---dengan mimik serius mengatakan betapa bedanya Surabaya dulu dengan Surabaya kini.

"Dulu (tahun 1990-an) tidak begini. Panas dan gersang," ucap Nazifaf dalam perjalanan menuju Probolinggo dari Surabaya. Hujan lebat agak lama, beberapa titik di kota itu akan tergenang, karena memang Surabaya berada lebih rendah dari permukaan laut.

Tiap jengkal tanah kosong di Surabaya ditanami pohon. Penghijauan yang menyeluruh di setiap wilayah kota, menjadikan kota itu sedikit terbantu mengatasi banjir. Meski belum maksimal, setidaknya pohon-pohon itu akan menjadi serapan air di tengah kota.

"Banjir biasanya cepat diatasi. Kecuali mesin pompa (banjir) airnya rusak," ujar Fitri, warga kota Surabaya. Persoalan banjir di Surabaya, menurut ibu beranak satu itu, merupakan persoalan klasik yang tak kunjung usai meski pemerintah sudah membangun kanal banjir yang cukup besar. Dalam mengatasi persoalan banjir, penghijauan, tata kota, Fitri memuji walikotanya. Namun dalam hal kesenian, cagar budaya, pendapatnya bertolak belakang. Banyak situs bersejarah yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

"Dewan kesenian juga tidak bisa berbuat banyak," ujar pelukis wanita kenamaan Surabaya itu.

Ayam Surabaya berkokok lebih dini dibanding ayam Pariaman. Meski masuk dalam zona waktu Indonesia Bagian Barat, pukul 04.30 orang Surabaya sudah bangun. Pukul 17.30 WIB, sang mentari lenyap dari pandangan. 

Jangan harap ada pedagang kaki lima memakai badan jalan di Surabaya. Di Surabaya, kontrol sosial sangat tinggi dengan adanya pusat pengaduan yang disiarkan langsung oleh Radio Suara Surabaya disingkat SS. Mulai dari melaporkan anak hilang, kehilangan dompet, kendaraan bermotor, bahkan sampai melaporkan buang sampah sembarangan. Masyarakat Surabaya terkoneksi jadi satu di radio tersebut.

"Kemarin ada mobil hilang. Lapornya bukan ke polisi tapi ke (radio) SS. Dalam beberapa jam ketemu. Warga yang lihat di jalan tol melapor ke SS, pokoknya sepanjang ada yang lihat melapor, akhirnya dicegat petugas yang juga mantau SS," Fitri mengabarkan.

Bicara Surabaya, kita bicara sejarah yang sangat panjang sekali. Kita bicara peradaban besar.  Jika ditarik saja saat pemerintahan Hindia Belanda, Surabaya sudah kota solek dan menjadi pangkalan militer laut terbesar. Kota metropolitan kedua nusantara hingga kini. Di zaman perjuangan kemerdekaan, Soerabaya bisa disejajarkan dengan Batavia, Jogjakarta, Bandoeng dan Boekittinggi. Kota tersebut merupakan simbol perlawanan----politik----rakyat yang ingin lepas dari belenggu penjajahan yang sudah mengebat ratusan tahun lamanya.

Saya merasa beruntung menemani Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Pariaman berkunjung guna studi banding ke Jawa Timur sejak Jumat (15/12). Meski hanya empat hari (tiga hari efektif), kami bisa berkunjung ke markas besar group media terbesar Indonesia Jawa Pos dan mendaki guna menyaksikan sunrise (matahari terbit) spektakuler di Bromo.

Masih bicara Surabaya, ada pendapat minor tentang minimnya pertumbuhan sektor ekonomi kreatif di tengah tingginya PDRB Surabaya dibandingkan kota lain. Segala sesuatu/barang dominan dijual di mall-mall sehingga hanya pemodal besar yang bisa bermain. Di kota itu membentang mall-mall. Dari yang kecil, besar dan ekslusif---di kawasan tertentu---selalu ramai dikunjungi.

Bagi usaha ekonomi kreatif bermodal minim dan masih rintisan, akan sesak dada bersaing. Pemerintah yang terlalu konsen pada penataan kota mungkin saja lupa akan hal itu. Tidak mudah kita temukan sebagaimana anak-anak muda kreatif seperti di Jogjakarta, Bandung dan Bali melejit menjadi pengusaha sektor ekonomi kreatif yang dirintis dari nol.

"Mungkin karena basicnya Bu Risma di pertamanan, maka spesialisasinya memperindah kota. Jadi untuk perkembangan ekonomi, khususnya ekonomi kreatif, beliau harus lebih percaya dengan orang-orang di sekelilingnya," kata Poppy (40) warga Surabaya yang saat ini bekerja di sebuah bank swasta di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, mengomentari hal tersebut.

Kota Pariaman wajib meniru Surabaya dalam hal penataan kota. Namun untuk kepariwisataan dan ekonomi kreatif, lebih tepat ke Probolinggo----berjarak 100 km dari Surabaya---yang berhasil mengangakat derajat Suku Tengger sebagai pelaku wisata di daerahnya sendiri.

Menurut penuturan seorang driver jip bernama Juned (45), wisata Bromo menganak emaskan Suku Tengger. Wong Tengger sebutan suku Tengger, tinggal di sekitar kawasan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur. Penduduk suku Tengger menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang. Mereka mayoritas penganut agama Hindu dan konon kabarnya keturunan Kerajaan Majapahit yang masih memegang teguh tradisi hingga saat ini.

Selaku putra daerah, Juned dan warga lainnya sama-sama menjaga kawasan Bromo agar selalu ramai dikunjungi para wisatawan. Dari kesadaran itu dibuatlah paguyuban orientasi adat dan pariwisata. Selain bisnis juga menjaga. Semisal merawat wisatawan yang kram kedinginan di Bromo, memandu dan mengingatkan wisatawan akan larangan-larangan adat yang berlaku di sana.

Kata Juned, saat puncak musim kemarau bulan Agustus, kawasan Bromo justru paling dingin dengan suhu hingga 3 derajat celcius. Saat puncak musim dingin itu, embun-embun yang menempel di dedaunan akan beku. Biasanya saat ini---dari ribuan pengunjung---ada saja wisatawan yang mengalami kram karena kedinginan.

"Kita tolong. Kita akan bawa mereka ke perapian (disangai) dan diselimuttebalkan. Dalam beberapa saat kramnya akan hilang," kata Juned.

Semua driver jip dan ojek ke Bromo adalah anak Tengger, tidak ada pendatang. Ratusan pedagang di kawasan Bromo juga semua suku Tengger.

"Pemerintah sangat memperhatikan kesejahteraan kami," Juned berkata.

Masih menurut Juned, di lereng menuju kawasan Bromo yang bisa diakses dari empat kabupaten di Jawa Timur, berdiri ribuan homestay yang kesemuanya milik warga Suku Tengger, menjadikan warga Suku Tengger ekonomi mapan. Di samping usaha pariwisata, warga Tengger tidak melupakan bertani. Bertani bagi mereka merupakan panggilan alam.

"Mobil jip antaran ke puncak (Bromo) di Probolinggo saja hampir 1.300 unit. Dari semua kabupaten ada 2000 lebih. Tiap jip mendapat jatah trip, paling tinggi satu kali sehari. Pulang ngantar (ngedrive jip) kita bertani," sambung Juned yang sudah ngedrive jip di Bromo selama 10 tahun. Lima tahun belakangan ia telah punya dua unit mobil jip milik sendiri. Semua anaknya disekolahkan, bahkan hingga ke perguruan tinggi.

Pemberdayaan masyarakat wisata, juga tengah digalakan oleh Pemko Pariaman. Pantai Gandoriah, Pantai Kata, Pantai Pauh, Pantai Cermin, telah mulai memberdayakan warga pesisir dan sekitarnya. Mulai tumbuh sektor ekonomi kreatif. Yang perlu dicontoh, tentu bagaimana menyatukan visi antara pemerintah dengan warga itu sendiri sebagaimana wisata Bromo dan Wong Tengger-nya.

Dalam suatu kesempatan, wakil walikota Pariaman Genius Umar pernah mengupas tentang hal itu---Pariwisata jati diri warga Pariaman. Untuk menuju kesana, ungkap Genius, perlu dibangun sarana infrastruktur di sepanjang 12 km kawasan pantai Pariaman. Destinasi yang dibangun sesuai tema masing-masing kawasan.

Membangun dunia kepariwisataan merupakan sebuah proses. Proses yang berkelanjutan antara masyarakat dan pemerintah daerah. Jika mereka mampu menyatukan visinya, wisata akan berhasil, jika gagal, konsep pariwisata juga ikut gagal. Begitulah pentingnya peran masyarakat dalam pembangunan dunia kepariwisataan. Oleh sebab itulah Pariaman perlu berguru ke banyak daerah yang telah sukses memadukan keduanya. Bergurulah Sebelum Berguru Itu Dilarang! (OLP)