Jangan Melawak, Tabuik Bukan Syiah!




Pesta Budaya Hoyak Tabuik anak nagari Piaman merupakan ritus-ritus yang dilaksanakan setiap tahunnya. Acara yang digelar mulai tanggal 1 Muharam tahun Hijriyah tersebut selain mendatangkan ratusan ribu pengunjung ke Pariaman juga sudah menjadi kalender wisata nasional urutan keempat terbesar.

Tabuik selalu dikait-kaitkan dengan Syiah jelang perhelatannya, karena Karbala merupakan wilayah domestik negara yang diidentikan dengan aliran Syiah. Debat panjang tak berujung selalu memanas jelang pesta budaya itu digelar khususnya di media sosial. Meski berbagai pelurusan empiris dilakukan untuk meyakinkan bahwa tidak satu warga Pariaman pun penganut Syiah, kalangan tertentu beropini dengan berbagai argumentasi kontra dengan pendapat tersebut. Opini tersebut dianggap tidak relevan jika secara tendensius mengklaim sepihak pendapatnya dan menyalahkan opini orang lain yang tak sepaham dengannya.

Apalagi ketika mendengar akan dihadiri oleh duta besar Iran saat Tabuik Piaman dibuang ke laut, perdebatan kian memanas oleh opinier yang menganggap Tabuik adalah Syiah. Dinamika dan polemik tersebut seharusnya tidak perlu terjadi jika kita mau melonggarkan urat leher sedikit saja.

Saya berpendapat, pertama; Tabuik tak bisa dipungkiri merupakan teatrikal sejarah dari pertempuran Karbala yang terjadi pada tanggal 10 Muharram, tahun ke-61 dari kalender Islam (9 atau 10 Oktober 680) di Karbala, yang sekarang terletak di Irak (dulunya Iran).

Pertempuran terjadi antara pendukung dan keluarga dari cucu Nabi Muhammad, Husain bin Ali dengan pasukan militer yang dikirim oleh Yazid bin Muawiyah, Khalifah Bani Umayyah pada saat itu.

Pihak Husain terdiri dari anggota-anggota terhormat keluarga dekat Nabi Muhammad, sekitar 128 orang. Husain dan beberapa anggota juga diikuti oleh beberapa wanita dan anak-anak dari keluarganya. Di pihak lain, pasukan bersenjata Yazid I yang dipimpin oleh Umar bin Sa'ad berjumlah 4.000 s/d 10.000 pasukan.

Pertempuran ini kemudian diperingati setiap tahunnya selama 10 hari yang dilakukan pada bulan Muharram oleh Syi'ah seperti halnya segolongan Sunni, dimana puncaknya pada hari kesepuluh, Hari Asyura. Jadi peringatan karbala tidak identik dengan aliran Syiah. Tabuik merupakan peringatan sejarah dalam Islam itu sendiri untuk mengenang wafatnya Imam Husain cucu Nabi Besar Muhammad SAW pada perang Karbala.

Kedua; Tabuik didalamnya tidak ada ajaran aliran Syiah atau Sunni. Tabuik merupakan pengenangan sejarah akan wafatnya cucu Nabi Besar umat Muslim. Tabuik untuk pertama kalinya diperkenalkan di Pariaman dari sejarah yang saya baca, oleh penganut Islam Sunni asal India dan Pakistan yang menetap di Pariaman ratusan tahun yang lalu.

Opini kedua saya, Tabuik diperkenalkan di Pariaman oleh bekas kaum Gurkha yang menetap di Pariaman pasca Inggris hengkang dari tanah Bengkulu. Kaum Gurkha itu sendiri ada sebagian merantau ke wilayah pesisir bagian dari Kerajaan Barus yang sekarang dikenal Pariaman.

Gurkha merupakan sekumpulan penduduk berasal dari Nepal dan India Utara penganut agama Islam dan Hindu. Asal muasal sebutan dari Gurkha ini berawal dari sebuah nama orang suci Hindu pada abad ke-18 yakni Gorakhnath.

Sedikit cerita tentang kaum Gurkha. Sejak dulu, penduduk Gurkha memang dikenal dengan reputasinya yang tinggi sebagai tukang perang. Tidak heran jika berbagai kelompok etnik dari berbagai daerah setempat merekrut mereka untuk kepentingan perang, termasuk Britania Raya atau Kerajaan Inggris.

Gurkha terkenal dengan kemampuan berperangnya yang alamiah, agresif di medan pertempuran, tidak takut mati, loyalitas yang tinggi, tahan dalam berbagai medan, fisik yang kuat dan pekerja keras. Sehingga Gurkha begitu disegani oleh kawan, ditakuti oleh lawan.

Semula mereka menjadi tentara bayaran (mercenaries) akhirnya masuk dalam jajaran British Army yang digaji layaknya tentara Inggris sendiri atau legiun asing pada umumnya. Mereka mempunyai unit sendiri dengan nama Brigade of Gurkha sebagai salah satu bagian dari jajaran top angkatan bersenjata Inggris.

Dibentuk sejak tahun 1815, Pasukan Gurkha telah terlibat dalam berbagai medan pertempuran bersama Inggris, termasuk di Provinsi Bengkulu yang merupakan kolonial Inggris kala itu. Ketika berkecamuk PD I sebanyak 100.000 prajurit Gurkha masuk dalam Brigade of Gurkha. Mereka ikut bertempur di medan perang Perancis, Mesopotamia, Persia, Mesir, Gallipoli, Palestina dan Salonika. Mereka mendapatkan 2 penghargaan bergengsi Victoria Crosses.

Sejarah mencatat bahwa Inggris (EIC) pada akhirnya bercokol di Bengkulu dan rakyat Bengkulu menerima kehadiran mereka. Setibanya mereka di Bengkulu pada tahun 1685, pihak Inggris disambut oleh petinggi Bengkulu pada masa itu, yakni Orang Kaya Lela dan Patih Setia Raja Muda.

Dalam beberapa pertemuan selanjutnya pihak Inggris memperoleh izin untuk mendirikan faktori di Bengkulu dan menjalin hubungan dagang dengan para penguasa Bengkulu. Pangkalan pertama yang didirikan oleh Inggris di Bengkulu adalah Fort York. Sejak saat itu Inggris menamakan faktori dagang mereka di Bengkulu sebagai Garnizun EIC di Pantai Barat pulau Sumatera dan Brigade Of Gurkha bercokol pula di sana sebagaimana pasukan Inggris lainnya.

Kehadiran Inggris di Bengkulu berlangsung selama 140 tahun, yaitu dari tahun 1685 sampai dengan bulan Maret 1825. Berakhirnya kehadiran Inggris di Bengkulu disebabkan adanya perjanjian antara Raja Inggris dan Raja Belanda, yang ditanda-tangani pada tanggal 17 Maret 1824. Perjanjian ini oleh pihak Inggris disebut The Anglo-Dutch Treaty of 1824, sedangkan pihak Belanda menyebutnya sebagai Traktat London.

Perjanjian ini mengatur pertukaran kekuasaan Inggris di Bengkulu dengan kekuasaan Belanda di Melaka dan Singapura (Singapura pada masa itu merupakan bagian dari kerajaan Melaka). Akibat hengkangnya Inggris dari Bengkulu sebagian tentara Gurkha yang beragama Muslim menetap di Bengkulu, sebagian lagi mengikuti pasukan Inggris. Yang menetap itulah yang memperkenalkan Tabot di Bengkulu, dan yang merantau ke Pariaman mengenalkan Tabuik.

Sejarah tidak akan pernah berkhianat. Apa yang kita alami sekarang adalah proses panjang rentang sejarah yang mengurai jalannya kehidupan.

Ketiga; fakta sejak dulunya tidak satupun warga Pariaman melakukan ibadah ajaran Syiah. Syahdan, orang Pariaman tidak mengenal ajaran Syiah sama sekali hingga kini.

Oleh karena itu, dari landasan sejarah, opini saya bersiskukuh bahwa Tabuik adalah pesta budaya untuk memperingati wafatnya cucu Nabi Besar Muhammad SAW. Tiada boleh dikaitkan selain itu. Fakta adalah sebuah kebenaran yang telah diuji.

Oyong Liza Piliang