PARIAMAN - Tepat setelah jarum jam melewati tengah malam, suasana di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Bangsa, Desa Rawang, Kota Pariaman, berubah hening. Di antara deretan pusara para pejuang, Wali Kota Pariaman Yota Balad, Bupati Padang Pariaman John Kennedy Azis didampingi Wakil Wakil Kota Mulyadi, memimpin Apel Kehormatan dan Renungan Suci memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026) dini hari.
Upacara yang digelar menjelang peringatan kemerdekaan itu bukan hanya seremoni tahunan. Di tempat ini, sejarah perjuangan Pariaman masih tersimpan di bawah nisan para pejuang yang gugur mempertahankan Republik Indonesia.
Sejumlah makam di TMP Kusuma Bangsa berkaitan dengan pertempuran mempertahankan Pariaman dalam Agresi Militer Belanda II yang dimulai pada 19 Desember 1948. Ketika itu, Pariaman menjadi salah satu basis penting perjuangan maritim di Sumatera Barat.
Catatan sejarah Pemerintah Kota Pariaman menyebut pasukan Belanda menyerang Pariaman menggunakan kapal perang dan meriam dari arah laut. Pasukan TNI Angkatan Laut bersama rakyat mempertahankan posisi mereka, termasuk sebuah bunker di depan Kantor Pos yang kini berada di sekitar Jalan Tugu Perjuangan.
Dalam salah satu pertempuran di bunker tersebut, 36 orang yang terdiri dari anggota TNI Angkatan Laut dan warga sipil bertahan menghadapi serangan. Sebanyak 34 orang gugur dan dua lainnya selamat. Para pejuang yang gugur kemudian dimakamkan di TMP Kusuma Bangsa. Pariamantoday mencatat sedikitnya 46 pejuang TNI AL gugur dalam rangkaian pertempuran di Pariaman pada periode tersebut.
Karena itu, ketika Yota Balad membacakan teks Apel Kehormatan dan Renungan Suci, penghormatan tersebut membawa makna yang lebih dalam. Ia menjadi momentum untuk mengenang mereka yang mempertaruhkan hidup ketika kemerdekaan Indonesia belum sepenuhnya aman.
"Untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan," menjadi inti pesan dalam prosesi yang berlangsung khidmat tersebut.
Hadir dalam upacara itu Ketua DPRD Kota Pariaman Muhajir Muslim, Dandim 0308/Padang Pariaman Letkol Inf M. Nurman Setiaji, Kapolres Pariaman AKBP Agung Pranajaya, Kapolres Padang Pariaman AKBP Riyana Purwasari, serta jajaran pemerintah daerah dan unsur Forkopimda Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman.
Di bawah cahaya malam dan sunyi pemakaman, 17 Agustus kembali membawa pesan yang sederhana tetapi dalam. Kemerdekaan bukan hadiah. Ia lahir dari pengorbanan manusia yang memilih bertahan ketika menyerah berarti kehilangan tanah air.
Bagi generasi hari ini, 17 Agustus mungkin hanya tanggal dalam kalender. Namun di tempat seperti TMP Kusuma Bangsa, tanggal itu memiliki nama, nisan, dan sejarah tentang mereka yang telah lebih dahulu membayar harga kemerdekaan. (OLP)