Sunur - Dari balik gerbang masuk, bangunan masjid langsung menjadi titik perhatian. Bentuknya megah namun tetap mengusung garis arsitektur minimalis. Di sisi masjid tersedia fasilitas toilet yang dipisahkan untuk laki-laki dan perempuan, memberi gambaran bahwa pembangunan Pondok Pesantren Nur Ridho El-Sunury tidak hanya mengejar kelengkapan fisik, tetapi juga menata lingkungan pendidikan yang tertib sejak awal.
Pesantren yang berada di Kabun Sunur, Nagari Sunur, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, itu berdiri di atas lahan sekitar 7.000 meter persegi. Di kawasan yang masih dalam progres pembangunan tersebut telah berdiri dua gedung lokal untuk kegiatan belajar, dua gedung asrama, masjid, kantor serta progres pembangunan prasarana olahraga.
Rabu (12/8/2026), tukang terus bekerja. Suasana pesantren di apit persawahan, potret Marapi dan Singgalang dari kejauhan, memperlihatkan sebuah lembaga pendidikan yang sedang menyiapkan fondasi, tidak hanya bentuk bangunan, tetapi juga sistem pendidikan yang ingin dikembangkan dalam jangka panjang.
Pondok Pesantren Nur Ridho El-Sunury berada di bawah Yayasan Nur Ridho El-Sunury. Lembaga ini dibangun oleh H. Yusuf, Sukirman dan sejumlah saudagar asal Padang Pariaman yang sukses di perantauan. Mereka memilih menginvestasikan sebagian rezekinya untuk membangun kampung halaman melalui pendidikan.
Yang menarik, pesantren ini dirancang sebagai lembaga pendidikan gratis bagi santri.
Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Nur Ridho El-Sunury, Rido Lofbestari, mengatakan pendidikan yang dikembangkan tidak berhenti pada pendalaman ilmu agama.
Pesantren juga menempatkan penguasaan bahasa sebagai bagian penting dari pendidikan santri. Selain bahasa Arab sebagai salah satu fondasi utama pendidikan keislaman, santri akan mendapatkan pembelajaran bahasa Inggris dan Mandarin.
Mata pelajaran umum juga diberikan untuk memastikan santri memiliki kemampuan akademik yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan pendekatan itu, pesantren ingin melahirkan lulusan yang memiliki basis keagamaan kuat sekaligus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
"Targetnya bukan hanya mencetak santri yang memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan dan daya saing menghadapi perkembangan zaman," kata Rido Lofbestari.
Menurut Rido yang juga Ketua HIPMI Kota Pariaman ini, gagasan pembangunan pesantren berangkat dari keinginan para pendiri untuk memberikan sesuatu yang nyata bagi kampung halaman. Pendidikan dipandang sebagai salah satu jalan paling strategis untuk membangun sumber daya manusia.
Tujuannya, kata dia, membangun sumber daya manusia yang islami sekaligus berdaya saing di tengah tuntutan zaman.
Pesantren pada tahap awal akan menerima santri setingkat SMP. Seleksi santri untuk tahun ajaran baru 2027 dijadwalkan mulai Januari, dengan target awal hanya 20 santri laki-laki.
Jumlah yang relatif kecil itu sengaja dipilih untuk menjaga kualitas pendidikan pada fase awal.
"Kami menekankan kualitas. Jadi jumlah santri pada tahap awal memang terbatas," ujar Rido.
Pengembangan dilakukan secara bertahap. Setelah sistem pendidikan dan sarana semakin siap, pesantren akan meningkatkan jenjang pendidikan dari tingkat SMP hingga tingkat SMA.
Rencana tersebut sekaligus membuka peluang lebih besar bagi santri untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, terutama Mesir.
Pesantren memiliki jaringan alumni yang pernah menempuh pendidikan di Mesir dan Malaysia. Jaringan tersebut diharapkan menjadi salah satu kekuatan dalam membangun kualitas pengajaran sekaligus membuka akses pendidikan lanjutan bagi santri berprestasi.
Seiring pengembangan jenjang pendidikan hingga SMA, santri yang memiliki prestasi akademik dan kemampuan bahasa akan memiliki peluang besar untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir.
Para pengajar yang akan membimbing santri juga dipersiapkan dari kalangan lulusan Al Azhar Mesir. Kehadiran guru-guru dengan latar belakang pendidikan tersebut diharapkan memberikan warna akademik sekaligus tradisi keilmuan Islam yang kuat.
Dari sisi pembangunan fisik, pesantren masih terus berproses. Hingga kini, pembangunan kompleks pendidikan itu telah menghabiskan dana sekitar Rp10 miliar.
Angka tersebut menggambarkan besarnya komitmen para pendiri dan donatur dalam membangun lembaga pendidikan yang sejak awal dirancang tanpa biaya pendidikan bagi santri.
Bagi Rido, pembangunan pesantren tidak semata-mata menjadi tanggung jawab yayasan. Partisipasi masyarakat dan para perantau juga dibutuhkan agar fasilitas pendidikan tersebut dapat terus dikembangkan.
Ia mengajak para perantau asal Padang Pariaman maupun masyarakat luas yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan Islam untuk ikut mengambil bagian dalam pembangunan.
"Ini kesempatan untuk bersama-sama beramal dan membangun kampung halaman. Siapa pun yang ingin berkontribusi, kami sangat terbuka," ujarnya.
Donasi pembangunan Pondok Pesantren Nur Ridho El-Sunury dapat disalurkan melalui rekening BRI Yayasan Nur Ridho El-Sunury 032101024529531.
Di tengah pembangunan yang masih berlangsung, kompleks pesantren itu perlahan mulai memperlihatkan bentuk akhirnya. Masjid yang berdiri di balik gerbang menjadi pusat kawasan, sementara gedung kelas dan asrama mengelilingi ruang pendidikan yang disiapkan untuk generasi berikutnya.
Dari lahan seluas 7.000 meter persegi itu, sebuah gagasan sedang dibangun, yakni pendidikan agama yang kuat, penguasaan bahasa asing, kemampuan akademik umum, serta pengenalan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Nur Ridho El-Sunury ingin memulai dengan sedikit santri, tetapi dengan fondasi pendidikan yang kuat. Dari 20 santri laki-laki yang ditargetkan pada tahap awal, para pendiri berharap kelak lahir generasi yang tidak hanya mampu mengakar di kampung halaman, tetapi juga mampu melangkah jauh hingga pusat-pusat pendidikan Islam dunia. (OLP)