Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Silaturahmi Pemimpin dan Masyarakat, Lebaran yang Menyalakan Pariaman

21 Maret 2026 | 21.3.26 WIB Last Updated 2026-03-21T16:28:51Z
Pariamantoday #feature - Pagi ini, matahari seperti datang lebih awal. Ia mengintip pelan dari ufuk timur, menyapu halaman Balaikota dengan cahaya yang hangat, seolah tahu bahwa hari ini bukan hari biasa. Ini adalah hari ketika manusia kembali ke fitrahnya bersih, ringan, seperti bayi yang baru belajar tersenyum.

Ribuan orang mengalir ke halaman Balaikota Pariaman, Sabtu (21/3/2026). Mereka datang dengan langkah yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, lebih ringan, lebih lapang. Laki-laki dengan baju koko, perempuan dengan mukena yang berpendar lembut. Anak-anak berlarian kecil, membawa tawa yang tidak bisa ditahan.

Pemerintah Kota Pariaman memusatkan pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 H di halaman Balaikota. Tepat pukul 08.00 WIB, salat dimulai. Di antara takbir yang menggema, suara imam Nasir mengalir tenang, sementara khutbah yang disampaikan oleh Helmi seperti mengikat pagi itu dengan makna yang lebih dalam bahwa kemenangan bukanlah akhir tetapi adalah awal.

Wali Kota Pariaman, Yota Balad, berdiri di hadapan masyarakat dengan berat badan yang sudah turun 20 kg. Dalam sambutannya, ia tidak hanya berbicara kepala daerah, tetapi seperti seorang anak Pariaman yang membawa harapan.

“Hari ini kita kembali ke fitrah, setelah satu bulan penuh ditempa oleh Ramadan. Jadikan Idulfitri ini sebagai titik untuk membersihkan hati dan memperbaiki diri,” ujarnya.

Lebaran tahun ini, kata Yota, memiliki makna yang lebih personal. Ini adalah lebaran kedua dalam masa kepemimpinannya bersama Wakil Wali Kota Mulyadi. Satu tahun perjalanan, satu tahun belajar tentang harapan dan kenyataan.

Namun, lebaran di Pariaman bukan hanya soal seremonial. Bukan pakaian serba baru. Ia hidup dalam tradisi yang tak pernah mati. Saling mengunjungi. Usai salat, jalan-jalan kecil hingga gang sempit berubah menjadi jalur silaturahmi. Pintu-pintu rumah terbuka tanpa perlu diketuk. Orang-orang datang tanpa undangan, dan pulang dengan kelegaan.

Di rumah dinas, Wali Kota dan Wakil Wali Kota menggelar open house. ASN, Forkopimda, hingga masyarakat umum datang silih berganti. Tidak ada sekat yang terasa. Jabatan seperti ditanggalkan sejenak, diganti dengan jabatan paling sederhana, sesama manusia.

Wakil Wali Kota Pariaman, Mulyadi, menyebut Idulfitri sebagai ruang untuk merawat kebersamaan.

“Lebaran ini bukan hanya soal kemenangan pribadi setelah berpuasa, tetapi juga kemenangan seluruh masyarakat Pariaman ketika kita kembali saling menyapa, saling memaafkan, dan memperkuat rasa kebersamaan, saling badunsanak,” katanya.

Salah seorang pengunjung, Rina (42), warga Pariaman Tengah, mengaku selalu menunggu momen seperti ini setiap tahun.
“Yang paling terasa itu nilai silaturahminya. Kita bisa datang ke rumah siapa saja, termasuk ke rumah wali kota. Tidak ada jarak. Rasanya seperti satu keluarga besar,” ujarnya tersenyum.

Lebaran tahun ini juga menyimpan pelajaran tentang toleransi. Satu hari sebelumnya, Jumat (20/3), warga Muhammadiyah telah lebih dulu merayakan Idulfitri. Namun, perbedaan itu tidak melahirkan jarak. Justru, malam harinya, ribuan warga tetap tumpah ruah mengikuti takbiran keliling yang digelar Pemko Pariaman, sebuah pemandangan yang tidak hanya semarak, tetapi juga "dewasa".

Di Pariaman, perbedaan tidak diributkan. Ia selalu dirawat.

Pariaman, pagi ini tentang saling memaafkan, tentang menyadari bahwa setelah segala lelah dan lapar, manusia hanya ingin satu hal. Kemenangan dalam nilai kemanusiaan. (OLP)

×
Berita Terbaru Update