Pariaman - Di tengah keramaian perayaan Idulfitri di kawasan Pantai Gandoriah, permainan tradisional Buayan Kaliang tetap bertahan sebagai salah satu daya tarik khas yang telah menjadi bagian dari tradisi lokal selama sekitar 70 tahun.
Terletak di belakang Masjid Nurul Bahari, Buayan Kaliang merupakan wahana sederhana berbahan rangka kayu, terdiri dari empat kotak tempat duduk yang digerakkan secara manual oleh tenaga manusia. Permainan ini umumnya ramai dikunjungi warga saat libur Lebaran.
Nurhayati, yang dikenal sebagai Mak Inun, mengatakan usaha tersebut merupakan warisan keluarga yang telah dijalankan sejak generasi sebelumnya. Ayahnya, Abangnya, merupakan pengelola pertama Buayan Kaliang di Pariaman.
“Dulu ada sekitar 15 unit yang beroperasi. Setelah beliau meninggal, saya melanjutkan usaha ini,” kata Nurhayati.
Namun, jumlah unit yang beroperasi kini menyusut menjadi tiga, seiring keterbatasan ruang di kawasan tersebut. Sebagian unit lainnya dipindahkan ke lokasi berbeda agar tetap dapat dimanfaatkan.
Untuk menikmati wahana ini, pengunjung dikenakan biaya Rp5.000 per orang. Setiap kotak dapat diisi empat hingga enam penumpang, sebelum diputar oleh sekitar enam orang operator hingga mencapai kecepatan tertentu.
Nurhayati berharap pemerintah daerah dapat mempertahankan kondisi lahan saat ini agar tetap berupa tanah, sehingga memudahkan pemasangan struktur kayu.
“Kalau bisa jangan dicor, karena kami butuh tanah untuk memasang tonggak,” ujarnya.
Salah seorang pengunjung, Rini, mengatakan masih tertarik mencoba permainan tersebut karena sensasi yang ditawarkan.
“Saya suka tantangannya. Sekarang saya datang bersama keluarga,” katanya.
Di tengah berkembangnya wahana hiburan modern, Buayan Kaliang tetap menjadi simbol keberlanjutan tradisi lokal yang bertahan di tengah perubahan zaman. (*)