Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Raimuna Daerah VII Sumbar, Kwarcab 16 Pariaman Tekankan Soliditas dan Pembentukan Karakter

20 November 2025 | 20.11.25 WIB Last Updated 2025-11-20T13:51:54Z


Padang – Ratusan Pramuka Penegak dan Pandega dari 19 Kwartir Cabang (Kwarcab) di seluruh Sumatra Barat berkumpul di Bumi Perkemahan Batu Gadang, Kota Padang, untuk mengikuti Raimuna Daerah (Raida) VII Kwarda 03 Sumbar, perhelatan lima tahunan yang kerap disebut sebagai salah satu agenda pembinaan generasi muda terbesar di tingkat provinsi. Kegiatan ini berlangsung selama enam hari, sejak Senin (17/11) hingga Sabtu, 22 November 2025.

Raimuna Daerah dirancang sebagai ruang pertemuan lintas daerah yang memadukan perkemahan, pelatihan kompetensi, serta proyek sosial. Program ini ditujukan bagi peserta berusia 16 hingga 25 tahun, usia yang oleh para pembina dinilai sebagai masa krusial dalam pembentukan karakter dan kepemimpinan.

Panitia mencatat banyak sesi pelatihan dan simulasi dilakukan tahun ini, mulai dari pengembangan kepemimpinan, manajemen risiko, pertolongan pertama, hingga kewirausahaan. Tahun ini, isu literasi digital mendapat porsi lebih besar dibanding Raimuna sebelumnya.

Dalam salah satu kelas keterampilan digital, Bintang Ahmad Dhani, siswa SMA 2 Pariaman mengatakan pelatihan ini membuka perspektif baru tentang penggunaan media sosial.

“Konten kreator tidak hanya belajar membuat video. Kami belajar pesan penting, karakter, dan tanggung jawab yang kita bangun di media sosial,” ujarnya.

Instruktur sesi tersebut menyebut bahwa sebagian peserta belum pernah mendapatkan pelatihan formal mengenai keamanan digital, etika komunikasi, serta pengelolaan identitas daring, meski hampir seluruhnya aktif menggunakan media sosial setiap hari.

Bagi banyak peserta, Raimuna tidak hanya perkemahan besar, melainkan pengalaman sosial yang membantu mereka memahami cara bekerja dalam tim dan menghadapi perbedaan.

Ciqa Syafiqah Dhia Masli, peserta dari salah satu Kwarcab di Sumbar, mengatakan bahwa proses beradaptasi dengan orang-orang baru menjadi tantangan sekaligus pelajaran.

“Awalnya tidak kenal siapa pun, tapi akhirnya banyak teman baru. Kami saling bantu dan belajar menghargai karakter tiap orang,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kondisi hujan yang membuat sebagian area perkemahan berlumpur menjadi tantangan teknis yang justru memperkuat kekompakan.

Dari Kwarcab 16 Pariaman, sebanyak 30 anggota kontingen hadir, termasuk 24 peserta utama dari tingkat SLTA. Ketua Kwarcab 16 Pariaman, Mulyadi, mengatakan bahwa kegiatan semacam ini memberikan pendidikan karakter yang sulit ditemukan dalam ruang kelas.

“Ini penempaan kepemimpinan. Solidaritas, kerjasama tim, kemampuan bersosialisasi dengan banyak karakter, semuanya dipelajari di sini,” ujarnya.

Menurut Mulyadi, keberagaman latar belakang peserta membantu mereka belajar menyelesaikan masalah secara bijaksana, bukan mencari siapa yang benar atau menang.

“Kesulitan yang dihadapi bersama justru menjadi pengalaman indah. Nilai seperti ini hanya bisa didapat lewat Pramuka,” tambah wakil wali kota Pariaman itu.

Ia juga menyebut perbedaan teknik antar-daerah sebagai hal yang memperkaya wawasan peserta. “Cara mendirikan tenda saja bisa berbeda. Mereka belajar bahwa standar sama tidak berarti cara bekerja harus seragam,” pungkas Mulyadi.

Pendamping kontingen, Jino Saputra, menyebut Raimuna sebagai laboratorium kepemimpinan di mana peserta ditempa melalui praktik lapangan. Mulai dari pionering, manajemen proyek, kreativitas seni, hingga simulasi penanggulangan bencana.

Selain nilai nasionalisme dan pengabdian masyarakat, Raimuna memperluas jejaring lintas daerah. 

"Banyak peserta yang kelak akan bekerja sama di dunia kerja, lingkup sosial di masa depan, dan pengalaman selama Raimuna akan memperkaya keterampilan sosial mereka,” ungkap Jino.

Kegiatan tradisional Pramuka seperti api unggun, pentas seni, dan permainan edukatif tetap dipertahankan untuk menjaga identitas kepramukaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Pimpinan rombongan Kwarcab 16 Pariaman, Alfiandri Zaharmi, berharap Raimuna tetap menjadi ruang bagi pemuda Sumbar untuk meningkatkan jiwa sosial, kreativitas, dan kepemimpinan.

“Banyak pengalaman berharga di sini. Ini kesempatan yang tidak datang dua kali,” ujarnya.

Bagi para peserta, Raimuna Daerah VII bukan hanya kegiatan kepramukaan, melainkan titik penting dalam perjalanan mereka menuju kedewasaan dan kemandirian, sebuah gambaran masa depan generasi muda Sumatra Barat yang semakin terhubung, adaptif, dan kolaboratif. (OLP)
×
Berita Terbaru Update