Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Selembar Nyawa

22 Januari 2014 | 22.1.14 WIB Last Updated 2014-01-22T16:10:25Z




Mentari tak sehangat dulu, gumamku dalam hati saat menyibak jendela sambil melihat sang surya kuning memudar condong di ufuk timur. Udara tak sesegar dulu gumamku pula saat meregangkan otot pagi itu saat hendak memulai segala aktifitas. Satu doa selalu terucap dalam hati setiap bangun pagiku, "Ya Tuhan, aku bersyukur telah Engkau berikan sepotong nyawa dipagi ini, terimakasih untuk nafas pertama di pagi ini," doaku selalu.

Doa itu terucap sudah hampir sepuluh tahun belakangan setiap harinya. Aku pernah meminta nyawa tambahan kepada Tuhan ketika diriku sungguh tak sanggup melepaskan diri dari ketergantungan putaw, jenis narkoba turunan heroin. Aku sudah 2 kali overdosis. Sudah pula merasakan mati suri. Sehelai Kafan putih masih menakutkan bagiku. Apa lacur bagiku mati dalam keadaan tidak berguna, mohonku saat itu kepada Sang Pencipta, "Berilah Aku selembar Nyawa baru, akan kupergunakan sebaik-baiknya. Aku ingin berguna, apapun alasannya aku tidak rela Engkau panggil sekarang ini," Batinku saat terkapar akibat overdosis di Rsud Pariaman medio awal 2000an.

Hidup adalah sesuatu yang sangat berharga bagiku. Benar-benar berharga. Masih segar dalam ingatanku saat memasuki alam mati suri. Disana aku bersua dengan alm Ibu dan Nenek ku, pembatasnya hanya sehelai kabut tipis. Mereka menjambau tanganku untuk mengikutinya dan hendak membawaku kedalam sebuah lembah berasap kabut, dedaunan yang kulihat dari kejauhan milik lembah itu hijau pudar. Gersang. Lalu datanglah sebuah sinar yang sangat terang menyilaukan. Semua yang terlihat olehku buyar, aku kembali ke alam sadar setelah 10 jam tak sadar diri. Kata sahabatku, denyut nadiku sudah berhenti sejak 5jam yang lalu. Dia sengaja tidak membawaku ke Rumah Sakit karena dia yakin aku akan hidup kembali menurut instingnya, nalurinya kala pedaw (saat memasuki alam giting, dimana alam bawah sadar lebih dominan, akibat reaksi putaw). Dia sama-sama pecandu seperti diriku saat itu. Sahabatku itu menamatkan hidupnya beberapa bulan setelah anak pertamaku lahir. Aku ingat betul. Dia meninggal akibat overdosis. Aku tak sempat menjenguknya, aku takut melihat orang mati.

Dalam dunia narkoba, khususnya pemakai putaw, kami tidak mengenal setia kawan, kami tidak mengenal loyalitas. Kami saling curang mencurangi, saling tipu menipu. Bagi kami itu sesuatu hal yang lumrah. Pernah seorang kawan bersama istrinya yang juga sama-sama pemakai mendatangi seorang bandar, dia meminta beberapa paket putaw kepada bandar tersebut sambil berkata, (maaf) "Minta dong 5 paket boss, aku ga punya duit, gantinya lu pake deh," ujarnya sambil melirik istrinya yang seketika menganggukan kepala. Itu terjadi di depan mataku. Sepasang suami istri tersebut juga telah tiada sekarang ini. Mereka sama-sama meninggal akibat overdosis dalam masa hampir bersamaan.

Menyadari hal itu, aku sangat memahami mereka para pecandu narkoba. Mereka adalah korban, mereka ingin berhenti namun tidak kuasa. Narkoba punya efek sugesty yang maha hebat. Mereka perlu di dukung oleh lingkungan sekitarnya untuk lepas dari jerat lingkaran setan tersebut. Penjara bukanlah solusi bijak buat mereka, karena disana mereka punya society yang baru. Penjara ibarat masuk bangku kuliah saja, ibarat menimba ilmu dan saling berbagi bagi mereka. Mereka mustinya direhabilitasi dan diobati. Pemerintah Daerah hendaknya sudah mulai memikirkannya sedari kini.

Jeratan narkoba sudah memasuki semua lini kehidupan era sekarang, baik itu anak sekolah, mahasiswa, kalangan wiraswasta, hingga PNS dan pejabat, bahkan sampai pula pada penegak hukum. Narkoba adalah masalah besar dan nyata yang ada dihadapan kita sekarang ini. Menangkap para pemakai dan memenjarakannya tidak akan membebaskan kita dan mereka dari masalah tersebut. Pemakai musti direhabilitasi agar bisa disembuhkan dari ketergantungannya tersebut. Jika di prosentasekan berapa banyak orang menderita diabetes daripada menderita ketergantungan narkoba di Pariaman ini, saya jamin pilihan kedua tidak akan pernah meleset.

Catatan Oyong Liza Piliang
×
Berita Terbaru Update