Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Iwan Piliang: Kemang dan Bob Sadino “Goblok”

7 Januari 2014 | 7.1.14 WIB Last Updated 2014-01-07T13:35:35Z




Frits A Kakiailatu, dokter ahli Urulogi, anggota tim Dokter Ahli Kepresidenan di era Soeharto, menulis buku Pak Harto, Pak Nas dan Saya. Pada halaman 43, ia mengisahkan ketika menetap di bilangan Kemang Raya, Jakarta Selatan pada 1967 – 1974.

Kemang kala itu menurut Frits, masih sepi, pemandangannya bagus sekali, masih ada sawah seperti di pedesaan. “Kalau kami naik becak pulang ke rumah selalu melewati sawah. Di tengah sawah ada sebuah rumah kecil, milik Bob Sadino. Di rumah itu Bob membuka warung ayam goreng dengan nama Kemchicks. Kami sering ditawari sepotong ayam goreng untuk dicicipi,” tulis Frits.

Pada halaman 44, Frits, suami dari Toeti Kakiailatu, salah satu pendiri Tempo itu, merinci keadaan Kemang; banyak jalan yang masih tanah dan jeblok penuh lumpur di waktu musim hujan.

“Tapi kami senang tinggal di Kemang yang masih diteduhi dengan berbagai pepohonan, pabrik tahu, dan banyak penduduk asli yang memelihara sapi perah dan berjualan susu sapi segar.”

Kamis petang 2 Januari 2014, setelah mampir dari Balaikota DKI, Jl. Merdeka Selatan, Jakarta, saya dan isteri Sandra, menyusuri jalan Thamrin, Sudirman terus ke arah Prapanca menuju Kemang. Kini sepanjang jalan Prapanca sudah ada jalan layang menuju Pangeran Antasari. Bila malam, kaki di kanan dan kiri jalan sengaja diberi lampu, warnanya berganti-ganti biru, kuning, hijau, pink, sebuah kesan tersendiri.

Belok ke Jl. Kemang Raya, lebar jalan tetap sama seperti era 80-an. Di kiri kanan jalan gedung dan bangunan komersial. Bila ditilik, peruntukan daerah ini semula bagi perumahan. Kini banyak kawasan di DKI Jakarta, sejatinya lokasi perumahan berubah total menjadi area komersial. Kemang dan kawasan Tebet, sama-sama di Jakarta Selatan nyata ekstrim.

Kawasan Supermarket Kemchicks , dulu bangunan berkesan country, kini berada di naungan apartment tinggi, milik kelompok usaha Bob. Saya masih ingat dulu ketika menjadi reporter majalah MATRA, 1985, pernah makan siang bersama Lolo Sampurno, atlet penembak putri, untuk rubrik Kencan. Suasana restoran Bob Shashlik, menawarkan makanan tusukan daging dengan paprika,bawang bombai, disate. 

Di kiri pintu masuk ada board kecil di mana pengunjung bisa menempelkan kertas iklan; kebutuhan pembantu, supir, jual beli barang bekas, termasuk adopsi pet. Saya masih ingat ketika menetap di Cinere, Jakarta Selatan, awal 1990, pernah membeli meja kursi murah, info dari sobekan iklan di sana. Pengiklannya bule kedutaan negara sahabat yang hendak mudik ke negaranya.

Petang itu tempat menempel iklan perorangan itu tidak saya lihat lagi, entah terlewat mata atau memang tak ada lagi. Padahal itulah salah satu keunikan Kemchicks. Medium komunikasi tradisional pelanggan. Masuk ke dalam, di sebelah kiri tampak sang pemilik, Bob Sadino duduk di Bob Bistro, bersama isteri di sebuah meja. Kami sengaja melihat dulu supermaket, menyimak sayur segar-segar. Lantas menghampiri Bob.

Saya langsung mengingatkan dulu menulisnya untuk SWA, 1986. Setelah itu perjumpaan informal atau menyimaknya berseminar di beberapa tempat. Seminar Bob berkesan bagi saya ketika ia diundang oleh PDIP untuk acara di Surabaya 2 tahun lalu. Di mana hadir Prof DR Bungaran Saragih. Di furom itu Bob dengan lantang mengatakan , “Nah ini menteri pertanian goblok…” Bob tentu nyerocos bla-bla. Hadirin ngakak. Pihak yang dikatai muka merah tapi tak marah.

Maka ketika saya mengatakan ingin bicara soal pertanian, mengapa singkong saja sampai impor di saat Presiden SBY memerintah? Ia dengan nyengir menjawab karena faktor, “Soslow Bimbang Youdon’tknow, doktor pertanian.”

Anda paham kan maksudnya?

Bob memberikan bukunya Belajar Goblok dari Bob Sadino. Bagi Anda yang pernah membacanya, petang itu ia menjelaskan secara gamblang kepada kami. “Sekolah itu akhirnya memungut sampah-sampah di jalanan,” katanya pula, “Sampah-sampah itu kemudian dituliskan, dibaca, dijadikan rujukan, buku, maka otak orang bersekolah sampah semua.” Suasana gerrr.

Tanpa membaca buku karya Ivan Illich, Bebas Sekolah, Bob memang menemukan teorinya sendiri. Baginya, “Do it!” Berbuat! Kalau mau jualan buka lapak. Dari situ maka Anda punya pengalaman jatuh bangun. Atas dasar itu pula, salah satu eksekutif perusahaannya pernah membuat perusahaannya rugi mencapai US $ 5 juta. Dan sosok itu tidak dipecat, tidak dimarahi. Alasan Bob, ‘Dia sudah dapat pengalaman, kalau kita pecat kita malah kian rugi. Biar saja, dia harus berpikir bekerja lebih baik lagi.”

Dengan langgam mengelola usaha demikian, 2.000 karyawannya kini, dominan mereka bekerja panjang bertahun-tahun dengan Bob. Ia menganggap karyawan itu anak-anaknya sendiri. Dan anak kandungnya sendiri tidak bekerja di perusahaan. Salah seorang anaknya malahan membuka usaha sendiri, jualan pecel lele di pinggir jalan.

Maka tidak berlebihan bertemu Bob, saya seakan membuka kitab tebal. Ia menjadi buku tak akan habis dibaca. Dari berjualan telur ayam broiler yang kala penghujung 60-an belum dikenal publik ia jajakan dari rumah-rumah, tidak diminati, diberinya bonus bunga anggrek di setiap bungkus telur, tetap tak laku. Kegigihan dan ketekunanlah yang membuat kini ayam broiler, dan telurnya menjadi pilihan. Di pertanian Bob mengenalkan pola tanam tanpa tanah, hidroponik. Melalui menanam terung dengan hidroponik, hingga kini Bob tak mampu memenuhi permintaan ekspor terung ke Jepang ribuan ton perbulan,

Bob, buku tebal kewirausahaan, wajib dibuka setiap anak bangsa yang mau menjadi pengusaha.

Dalam usia 80 tahun kini, saya melihat Bob kian religius. Ia dengan mantap mengatakan, “Tugas kita berusaha, Tuhan menentukan, ” katanya pula, “Makanya dari dulu saya usaha, tak punya perencanaan, tak punya tujuan. Tapi Tuhan menentukan saya seperti ini, kalau dipikir mana mungkin dari jualan telur?”

Lagi-lagi kalimatnya keluar dari pakem, lari dari teori manajemen dalam ekonomi modern. Petang itu sebelum berpisah saya menyampaikan kepadanya, kini setiap pagi saya mengimbau publik di Twitter untuk menjauhi mie instan, kembali ke makanan alami produksi petani. Bob langsung menyanggah, “Goblok! Biar saja mereka mau makan mie instan, mereka mau cepat mati.” Suasana gerrr lagi.

Petang merembang, langit jingga. Ketika berbalik arah pulang melewati Jl. Prapanca, pilar-pilar jalan layang sudah menyala lampu warna-warninya. Sebentar biru, sebentar hijau, berganti kuning, lalu pink, seperti itulah hidup Bob Sadino, penuh warna, penuh tawa, buku tiada habisnya dibaca.

@iwanpiliang , citizen reporter
×
Berita Terbaru Update