Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Iklan Besar Halaman Anas

1 Maret 2013 | 1.3.13 WIB Last Updated 2013-03-01T04:32:54Z
13619598141188072327

foto koleksi pribadi

“Di atas semua ini, saya katakan saudara-saudara, barangkali ada yang berpikir ini akhir dari segalanya. Hari ini saya nyatakan : ini baru sebuah permulaan! Ini baru awal dari langkah-langkah besar. Ini bukan tutup buku, ini pembukaan buku halaman pertama. Masih banyak halaman-halaman berikutnya yang akan kita buka dan baca bersama untuk kebaikan bersama. Saya yakin halaman-halaman berikutnya akan makin bermakna bagi kepentingan kita bersama.”
==========================================

Rangkaian kalimat yang mengalir lancar, runtut, kalem namun tegas dari Anas Urbaningrum Sabtu siang lalu itulah yang telah menyihir banyak orang, membuat opini dan persepsi publik terbelah, serta membuat para tokoh – apapun ketokohannya – dan para politisi dari berbagai parpol merasa menemukan “sesuatu” yang lain. Mengutip pernyataan pengamat politik Burhanuddin Muhtadi : “Anas telah mengubah locus hukum menjadi locus politik”. Mendadak, publik yang semula geram dengan Anas dan menagih janjinya untuk digantung di Monas, kini berbalik arah memandang Anas sebagai pihak yang terdzholimi.

Kontan, sejak sore itu setelah kepulangannya dari kantor DPP Partai Demokrat yang ditandai dengan pembukaan jaket biru, rumah Anas tak pernah sepi dari kunjungan para tokoh dan politisi bukan hanya dari Partai Demokrat. Malam sebelumnya, hanya beberapa saat setelah Johan Budi mengumumkan status AU sebagai tersangka, berbondong-bondong para loyalis Anas di internal PD, baik pengurus DPP maupun pengurus DPD dan DPC, mendatangi rumah Anas. Tetapi pasca pidato Anas yang fenomenal, seolah semua pihak dari berbagai kelompok dan golongan menganggap Anas pahlawan baru, korban konspirasi politik. Bahkan beberapa karangan bunga “duka cita” pun memenuhi gerbang rumah mewah Anas. Uniknya, ada karangan bunga besar yang bertuliskan nama sebuah LSM yang mengaku anti korupsi.
1361960031356336872
Pengakuan Nazar melalui skype dg Iwan Piliang dari tempat persembunyiannya. (foto : binyowayang.blogspot.com)

Saya teringat reaksi publik pasca wawancara via skype antara Bung Iwan Piliang dengan Nazaruddin yang ditayangkan pertama kali oleh Metro TV pada sekitar minggu ketiga bulan Juli 2011, sekitar 2 bulan sejak Nazaruddin buron pada 23 Mei 2011. Sejak issu keterlibatan Nazar dalam kasus korupsi Wisma Atlet meruak, apalagi ditambah kaburnya Nazar, hampir semua suara publik menghujat, mencerca bahkan mengutuk Nazar. Ungkapan melalui telepon di media TV, twitter, facebook, komentar di portal-portal media online, semuanya senada : Nazar musuh besar bangsa ini! Tetapi, pasca penayangan wawancara skype itu, sontak opini publik berbalik. Mereka mendukung Nazar agar segera kembali dan membongkar semua borok Partai Demokrat, terutama Anas.

Bahkan ketika Nazar dijemput KPK dari pelariannya di Kolumbia, anggota DPR Komisi III – minus dari Fraksi Demokrat – dengan penuh simpati menjenguk Nazar di rutan KPK dan menyemangatinya agar bersuara, buka-bukaan saja semuanya. Bahkan rombongan pengacara Nazar – saat itu masih OC Kaligis Law Firm – pun menghadap Komisi III DPR agar Nazar mendapatkan “keadilan hukum” dan DPR pun menerima dengan baik.

KPK pun mendadak menjadi “tertuduh” atas hilangnya barang bukti yang ditunjukkan Nazar dalam rekaman video skype, berupa keping VCD dan flashdisk, bahkan Dubes RI di Kolumbia pun diperkarakan. Padahal, siapa yang bisa menjamin bahwa memang ada barang-barang tersebut di dalam tas Nazar pada malam penangkapannya oleh Polisi Kolumbia. Logikanya, barang bukti sepenting itu masa iya dibawa kemana-mana. Bahkan katanya copynya yang disimpan pengacara Nazar di Singapore, sampai saat ini tak pernah ditunjukkan di persidangan. Termasuk juga yang katanya ada rekaman CCTV rumah Nazar – yang berkali-kali dijanjikan oleh tim OC Kaligis yang cantik (maaf saya lupa namanya) dengan kalimat “tunggu tanggal mainnya” – ternyata sampai Nazar di vonis tak pernah ditunjukkan.
1361960165691812651
foto : koleksi pribadi

Kini, Anas sebenarnya sedang men-“copy paste” siasat Nazaruddin dengan kemasan yang tentu lebih cantik dan elegant. Sebanding dengan tingkat kematangan Anas dalam berpolitik dan kapabilitasnya sebagai organisatoris dan intelektual. Kalimat dan bahasa yang digunakan Anas jauh lebih “tinggi” dibanding Nazar, sarat dengan perlambang. Pengucapannya pun tidak dengan nada penuh amarah dan menggebu seperti Nazar. Tidak perlu menunjukkan flashdisk atau keping VCD, cukup dengan ungkapan “halaman-halaman selanjutnya yang akan kita buka dan baca bersama-sama”. Justru rangkaian kalimat inilah yang menyihir dan mempesona sekaligus membuat publik penasaran tingkat dewa. Sementara kubu yang berseberangan dengan Anas dan selama ini menyimpan “dosa politik” atau “kebusukan berkomplot” (maaf, saya tidak ingin menggunakan istilah ‘berjamaah’ untuk perbuatan jahat), bisa jadi tak bisa tidur nyenyak belakangan ini.

Ada sedikit kesangsian dalam diri saya atas ucapan Anas itu. Sebab, ketika beberapa waktu lalu ditanya wartawan soal Hambalang, Anas bersikeras dirinya tidak tahu apa itu Hambalang. Rentetan pernyataan yang kemudian berujung dengan sumpah : “Satu rupiah saja Anas korupsi Hambalang, gantung Anas di Monas”. Belum setahun yang lalu ia tegas berkata tak tahu apa-apa soal Hambalang, lalu kini berujar akan membuka halaman-halaman selanjutnya yang konon “akan makin bermakna”. Lalu apa yang akan di buka Anas? Skandal korupsi lainnya kah di tubuh partai Demokrat? Saling tebar uang di arena Kongres Bandung-kah? Atau bahkan skandal Century yang sejak awal Nopember 2009 sudah membuat gonjang-ganjing pentas politik di DPR sampai melahirkan Pansus dan Timwas?

1361960306830416789
Politisi Hanura yang datang ke rumah Anas, mengaku membicarakan soal Century (foto : nasional.kompas.com)

Menarik dicermati, apapun yang akan di buka Anas, tentulah sesuatu yang dia tahu betul sejak lama. Lalu, kenapa baru sekarang – setelah dirinya dijadikan tersangka oleh KPK – akan membuka praktek korupsi dan penggarongan uang negara? Jika Anas memang berkomitmen memberantas korupsi seperti yang diserukannya dalam iklan kampanye “Katakan TIDAK pada KORUPSI!!” semestinya ia bersuara ketika melihat indikasi korupsi, bukan?

Banyak yang menduga Anas akan buka-bukaan soal Century. Ahaaaiii.., kalau ini halaman selanjutnya, memang akan bermakna sekali. Tapi…, bukankah skandal ini sudah dibahas sejak Anas masih menjadi anggota DPR sekaligus Ketua Fraksi Demokrat di DPR RI? Kenapa waktu itu justru diam saja? Jangan lupa, seluruh Fraksi Demokrat all out habis-habisan dalam Pansus Century. Seorang Ketua Fraksi adalah dirigent bagi padunya orkestrasi suara seluruh anggota Fraksi dalam menyikapi suatu kasus. Jadi, solidnya seluruh anggota DPR dari Demokrat mem-back up SBY – Boediono dan mati-matian menafikan keterlibatan PD dalam skandal Century, tentu tak lepas dari peran Ketua Fraksi Demokrat saat itu, Anas Urbaningrum.

Kalau yang akan dibuka skandal Hambalang, lho, bukannya belum setahun yang lalu masih ngotot mengaku tidak tahu apa-apa? Kalau itu soal intrik uang di arena Kongres, bukankah sudah ditepisnya sendiri? Kalau itu kasus yang lain, apapun itu, kenapa baru sekarang disuarakan? Kalau begitu, apa bedanya Anas dengan Nazaruddin yang dulu dikatakannya berhalusinasi? Nazar juga kalap ketika dirinya dijadikan tersangka. Lalu, alih-alih fokus pada masalah Wisma Atlet, Nazar kemudian menembak membabi buta kesana-kemari, menyasar siapa saja terutama Anas. 

Menyadari ia tak punya cukup amunisi di kasus Wisma Atlet, Nazar mencuatkan kasus Hambalang. Semula tak ada yang mencium kasus ini. Kata “proyek Hambalang” pertama kali meluncur dari mulut Nazar dalam video skype yang menghebohkan itu serta wawancara telepon Nazar dengan news anchor Metro TV.
Kini, akankah Anas meniru jejak Nazar yang dicapnya berhalusinasi itu? Jika Anas tak punya cukup peluru tajam di kasus Hambalang, ia akan memakai kasus lain untuk menembak. Yang penting : tiji tibeh (mati siji mati kabeh alias mati satu mati semuanya). Strategi bumi hangus.

1361960411832874874
Priyo Budi Santoso pun ikut datang ke rumah Anas (foto : www.merdeka.com)

Memprihatinkan, karena jika dicermati, inilah “tradisi” orang Demokrat. Mari kita kembali ke Mei 2011, ketika nama Nazar pertama kali disebut mantan pengacara Mindo Rosalina, bahwa ada peran Bendahara Umum PD itu dalam kasus Wisma Atlet. Seluruh kader PD mati-matian membela dan mengatakan Nazar tak terlibat, bahkan tak kenal Rosa. Malahan, ketika Mahfud MD datang ke istana melaporkan kelakuan Nazar terhadap Sekjen MK Djanedri M. Ghoffar, justru Mahfud-lah yang dicerca orang-orang Demokrat. Namun, ketika KPK menetapkan Nazar jadi tersangka, sontak semuanya mengatakan Nazar melakukannya sendiri, tak terkait Partai Demokrat.

Jelang akhir masa persidangan Nazar, KPK menetapkan Angelina Sondakh sebagai tersangka. Mulailah Demokrat menjauh dari Angie. Dan Angie pun seolah rela menjadi martir dan pasang badan bagi sosok Ketua Besar dan Boss Besar, dengan menolak BAP tentang transkrip pembicaraan via BBM dengan Rosa. Tak tanggung-tanggung Angie pun mengaku tak punya BB sampai akhir 2010.

Lalu, jelang akhir masa persidangan Angie, KPK menetapkan Andi Alifian Mallarangeng, Menpora, sebagai tersangka. Andi yang semula selalu membantah keterangan Nazar, setelah dijadikan tersangka ternyata sama saja dengan Nazar : menyeret nama Anas. Hanya saja Andi tak melakukannya sendiri, adiknya – Rizal Mallarangeng – berkali-kali menggelar konpers dan terang-terangan menyebut “Ketua Fraksi Demokrat saat itu” atau “Ketua Umum Partai Demokrat” bahkan belakangan secara spesifik menyebut nama “Anas Urbaningrum”.

Kini, nama yang sudah berkali-kali disebut Mindo Rosalina, Nazaruddin, Rizal Mallarangeng itu pun dijadikan tersangka oleh KPK. Lalu keluarkan pernyataan akan membuka dan membaca bersama-sama halaman-halamn berikutnya yang lebih menarik. Dan berbondong-bondonglah orang yang pernah punya masalah dengan SBY dan lingkaran istana, “sowan” ke Duren Sawit. Ada Harry Tanoe yang sekarang pindah ke Hanura, ada juga Misbakhun. Viva Yoga Mauladi, salah seorang fungsionaris KAHMI (Korps Alumni HMI) menyatakan bahwa saat bertemu Anas, yang bersangkutan menanyakan apakah semua data tentang Century sudah diserahkan ke Timwas. Nah lho?! Bukankah sejak awal ada anggota Fraksi Demokrat yang duduk dalam Pansus dan Timwas Century?

13619605361331420877
Wawancara eksklusif yang ditayangkan RCTI tengah malam tadi (foto : www.okezone.com)

Kunjungan Hary Tanoe ke rumah Anas pun berbuah manis, semalam RCTI tengah malam menayangkan wawancara eksklusif pewarta RCTI – Ario Ardi – dengan Anas di kediamannya yang diberi tajik “Perlawanan Anas”. Anas menyebut apa yang dialaminya ini baru halaman pertama alinea kedua. Bahkan Anas sudah memberikan clue tentang “halaman tiga”. Wah, pasti bakal seru menunggu buku cerita ini dibacakan entah sampai berapa halaman kelak baru tamat.

Membongkar kasus korupsi tentu perbuatan mulia. Sebaliknya, diam saja bahkan berusaha  menutupi ketika tahu ada perbuatan merugikan negara secara sistematis dan berkomplot, bisa dikategorikan ikut  melindungi permufakatan jahat itu. Sebaiknya, jika Anas memang berkomitmen memberantas korupsi, dia sejak awal menyuarakan indikasi korupsi itu. Sebagai mantan Ketua Fraksi terbesar di parlemen, mantan Ketua Umum sebuah parpol berkuasa, mantan komisioner KPU, tentu banyak “rahasia” yang diketahui Anas. Jika rahasia itu terkait kongkalikong menggarong negara atau permufakatan curang dalam penyelenggaraan negara, kenapa dulu diam saja? Kenapa menunggu dijadikan tersangka baru “balas dendam”?

Sesaat setelah KPK menetapkannya sebagai tersangka, Anas meng-update status BBM-nya : “nabok nyileh tangan” yang dalam bahasa Jawa artinya “menggampar dengan meminjam tangan orang lain”. Siapa lagi yang dimaksud kalau bukan SBY yang meminjam tangan KPK? Lalu, dengan banyaknya politisi yang kini merapat ke Anas, mungkin membisikkan/ memasok data-data baru tentang kebobrokan yang bisa dibongkar Anas untuk cerita halaman-halaman berikutnya, tidakkah akan sama saja, yaitu tangan Anas dipinjam orang lain untuk sekalin menabok SBY?

Seperti kata pengamat politik Salim Said, Anas telah membuat iklan besar untuk “buku”nya, dengan rangkaian kalimatnya itu. Jadilah banyak orang yang bukan sekedar penasaran menunggu Anas membuka halaman berikutnya dan membacakannya untuk seluruh rakyat Indonesia, namun juga banyak politisi yang ingin ikut membantu menuliskan halamn selanjutnya. Esensinya, apa yang dilakukan Nazaruddin dan Rizal Mallarangeng demi kakaknya Andi, sama saja dengan apa yang dilakukan Anas sekarang, hanya saja magnitude Anas lebih besar.

Saya tidak menafikan bahwa proses penetapan Anas menjadi tersangka memang tak steril dari intervensi politik. Bocornya Sprindik bisa jadi indikasi itu. Karenanya, KPK harus berbenah, bila perlu, biarkan Kepolisian yang menyidiknya. Jika sudah diketahui siapa unsur pimpinan KPK yang coba-coba main mata dengan kekuasaan, siapa yang mencoba menyodorkan Sprindik tanpa gelar perkara, selayaknya disanksi dengan tegas, bila perlu dinon-aktifkan karena telah melacurkan independensi KPK pada tekanan kekuasaan.
136196064474682070
foto : koleksi pribadi

Namun, kita juga tidak boleh mendadak dibutakan oleh banyak kejanggalan menyangkut diri Anas selama ini dan tersihir oleh iklan besar buku Anas, seolah Anas sosok yang tidak mungkin bersalah dan pasti bersih. Saya sepakat dengan pendapat Mahfud MD, Ketua MK yang juga Ketua Presidium Nasional KAHMI. Menurut dia, tanpa adanya politisasi proses hukum apapun, Anas akan tetap ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. 

“Ingat ya, saya tidak sependapat dengan orang yang mengatakan kasus Anas itu dipolitisi. Gak ada yang politis,” kata Mahfud saat ditemui di Pusat Pendidikan Pancasila dan Konstitusi di Cisarua, Selasa, 26 Februari 2013. Ia menyatakan, secara tegas proses hukum terhadap Anas tetap harus berjalan dengan semestinya. Menurut dia, orang yang sudah jelas buktinya melakukan korupsi tidak boleh diampuni dan harus dihukum. Proses hukumnya juga harus diberlakukan kepada siapa saja tanpa memandang jabatan atau relasi tersangka. “Apakah Anas atau bukan, kalau korupsi sikat saja. Negara kita mau ambruk: jadi jangan kalau teman korupsi kemudian ditutupi,” kata Mahfud. (dikutip dari Tempo online)
13619607751063256328
foto : koleksi pribadi

Bukankah Anas juga perlu diminta menjelaskan dari mana sumber kekayaannya yang luar biasa, rumah mewahnya, mobil-mobil mewahnya, yang hanya dalam tempo singkat sejak keluar dari KPU dan bergabung dengan Partai Demokrat, terutama sejak berbisnis dengan Nazaruddin? Dulu, Polri mati-matian membela Irjen Pol. Djoko Susilo. Kini, setelah KPK menyita 10 rumah mewah sang Jendral – secara tak langsung diketahui pula  istri-istri mudanya – para petinggi Polri pun diam, tak ada lagi yang membela. Jadi, mari kita dorong KPK tetap bekerja dijalur hukum, bersama-sama dengan PPATK menelusuri transaksi para tersangka Hambalang. Kalau pun kita ingin mendengar Anas membacakan halamn berikutnya, kita wait n see saja, seperti apa cerita itu. Jika itu cerita lama yang ditulis ulang, patut kita pertanyakan kenapa dulu Anas berperan sebaliknya ketika cerita itu dibacakan oleh pihak lain. Selamat penasaran dengan halaman berikutnya!

catatan Ira Oemar Freedom Writers Kompasianer
×
Berita Terbaru Update