Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Inilah Sepak Terjang Trio Mallarangeng

8 Desember 2012 | 8.12.12 WIB Last Updated 2012-12-08T15:57:44Z
135487557923244302

(foto : m.rimanews.com)

Siapa yang tak kenal 3M atau Trio Mallarangeng. Ketiganya sudah ngetop jauh sebelum Trio Macan. Tapi beda dengan Trio Macan yang terdiri dari 3 dara yang menjual sensualitas dan goyangan dalam irama musik dangdut dengan beat cepat, Trio Mallarangeng justru terdiri dari 3 pria macho berkumis tebal dan berpendidikan tinggi made in Amerika. Nama 3M berkibar ketika mereka dipercaya menjadi konsultan politik sekaligus event organizer bagi kampanye Partai Demokrat pada Pileg 2009 dan pasangan SBY – Boediono pada Pilpres 2009.

Sebenarnya kiprah ketiganya di dunia politik lekat dengan pandangan sinis dari masyarakat – tentu saja yang melek informasi – yang menilai mereka sebagai tiga bersaudara yang pragmatis dan ber”ideologi” uang, rela melakukan apa saja asalkan dekat dengan penguasa, bisa masuk ke lingkaran dalam kekuasaan. Sedangkan yang hanya melihat penampilan mereka di media televisi, mungkin menilai sebaliknya : simpatik dan kagum dengan kepintaran mereka.

MALLARANGENG PERTAMA

Adalah Andi Alfian Mallarangeng –tertua diantara tiga bersaudara – yang lebih dulu populer bersamaan dengan momentum reformasi. Dosen di Universitas Hasanuddin Makasar ini dipercaya untuk menjadi anggota Tim Tujuh yang dibentuk di jaman Presiden B.J. Habibie, untuk menyusun paket Undang-Undang Politik dalam rangka mempersiapkan transisi menuju Pemilu yang dipercepat pada 1999. Wajah gantengnya dengan senyum manis dan kumis tebal, membuat Andi lebih cepat populer ketimbang pengamat politik yang lain, karena sering diundang stasiun televisi dalam berbagai acara dialog dan diskusi politik. Bahkan Andi kemudian ditunjuk menjadi anggota KPU Pemilu pertama pasca reformasi, mewakili Pemerintah. 

Waktu itu struktur di KPU terdiri dari Ketua yang dijabat oleh salah satu perwakilan parpol peserta Pemilu yang dipilih diantara semua parpol yang ada, serta perwakilan Pemerintah menduduki posisi Sekjen. Makin lengkaplah kepopuleran Andi Alfian Mallarangeng.

Usai Pemilu 1999, Andi masih tetap menjadi akademisi sekaligus pengamat politik bahkan kemudian sempat mendirikan partai politik bersama Ryaas Rasid. Hanya saja, menjelang Pilpres 2004, Andi justru keluar dari parpol tersebut dan terang-terangan menunjukkan keberpihakannya pada SBY – yang saat itu jadi pesaing kuat Megawati – dalam berbagai analisisnya di media massa. Keberpihakan yang berbuah manis, karena ketika SBY memenangkan Pilpres 2004, Andi kemudian digandeng ke Cikeas untuk menjadi juru bicara Presiden. Sejak itu, Andi makin tak ragu lagi memposisikan diri sebagai die hard SBY.

Ketika akan bertarung memperebutkan kursi Ketua Umum Partai Demokrat dalam Kongres di Bandung tahun 2010, Andi terang-terangan mengkampanyekan dirinya adalah “copy-paste” SBY. Garis kebijakan SBY adalah garisnya pula, keinginan SBY adalah keinginannya pula. Meski iklan kampanyenya di televisi berusaha menggaet kader muda PD, tapi perilaku yang mengidentifikasikan diri dengan SBY rupanya tak laku di kalangan kader Demokrat. Andi dianggap hanya mengandalkan kedekatan dengan SBY, terlalu menjilat pada SBY. Akibatnya, perolehan suaranya kalah telak dari Anas Urbaningrum bahkan masih di bawah Marzuki Alie.

13548756572139863676
(foto : kaskus.co.id)

MALLARANGENG KEDUA

Rizal Mallarangeng – yang akrab dipanggil Chelli – adiknya, baru mulai muncul sekembalinya dari sekolah di Amerika. Chelli mencuat namanya sejak Megawati naik ke tampuk kekuasaan. Taufik Kiemas-lah yang mengundang Rizal masuk ke lingkaran dalam istana, diajak serta dalam kunjungan Megawati ke luar negeri dan membuatkan konsep pidatonya. Bahkan kemudian pada 2004 ketika Megawati maju ke ajang Pilpres berpasangan dengan Hasyim Muzadi, Rizal Mallarangeng pula-lah yang menjadi konsultan pemenangannya, meski akhirnya kalah.

Bukan hanya dekat dengan Taufik Kiemas dan Megawati, Chelli juga dekat dengan Abu Rizal Bakrie. Pada pengusaha kaya itu ia mengajukan proposal untuk membentuk Freedom Institute dengan menjual nama Achmad Bakrie – ayah Ical – untuk menjadi nama bagi penghargaan Achmad Bakrie Award. Chelli berhasil meyakinkan Ical untuk mendanai Freedom Institute dimana dirinya sendiri duduk sebagai Direktur Eksekutif. Sesuai dengan namanya, lembaga ini menjual ide-ide liberal untuk dipasarkan pada kalangan muda yang terpukau dengan idenya.

Rizall yang memang pintar tampil di media, kemudian mendapat kepercayaan dari Metro TV untuk menjadi host acara Save Our Nation. Sebuah acara bincang-bincang yang topiknya untuk mencari solusi atas permasalahan negeri ini. Dari sinilah bermula ia mencitrakan dirinya sebagai sosok intelektual yang bijak dan berwibawa. Hanya bermodal penampilannya di layar kaca yang nota bene ditonton oleh pemirsa dari kelas sosial dan latar belakang pendidikan tinggi ini, Rizal kemudian mengiklankan dirinya sebagai figur Capres alternatif. Bertebaranlah iklan di media TV tentang perjalanan hidupnya, digambarkanlah sosoknya sebagai anak sholeh yang taat pada petuah ibundanya (salah satu bunyi narasi iklan itu : “Ibu saya mengatakan…”), egaliter dan merakyat serta keluarganya yang harmonis. Spandul dan balihonya ditebar di mana-mana. Logo RM09 selalu terpampang dalam setiap iklannya (mungkin maksudnya Rizal Mallarangeng for 2009).

13548757321256683455
Iklan kampanye Rizal Mallarangeng dg logo RM09 (foto : forum.detik.com)

Meski sudah melakukan serangan udara melalui iklan televisi, Rizal akhirnya menyatakan dirinya “menyerah” dan tak lagi berniat maju dalam kontestasi politik. Alasannya, popularitas dan elektabilitas tidak bisa diperoleh secara mendadak. Beberapa pihak memuji langkah Chelli waktu itu. Padahal, kemundurannya itu juga dipicu oleh tiadanya parpol yang mau mengusungnya. Tadinya ia punya harapan besar akan digandeng Golkar atau PDIP. Tapi bagaimana mungkin PDIP akan menggandengnya, sedangkan pada 2004 setelah mengusung Mega – Hasyim dan kalah, Chelli tak malu-malu merapat ke SBY.

Perilaku seperti ini bukan hanya menimpa Megawati. Setahun sebelum Pilpres 2009, Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir juga beriklan di televisi. Yang diserahi untuk menggarap iklan SB sebagai figur capres adalah Rizal Mallarangeng, tapi ternyata ia justru mengiklankan dirinya juga. Tentu saja SB marah dan akhirnya tak melanjutkan kerjasama itu. Siapa yang mau dikadalin terang-terangan? Membayar orang untuk menggarap iklannya, tapi kemudian disaingi iklan dari orang tersebut. Dalam dunia bisnis politik yang mengandalkan kepercayaan, tentunya ini “cacat” yang tak bisa ditolerir.

Ketika mulai mengiklankan diri menjadi Capres alternatif, Rizal juga menghimbau agar SBY tak lagi mencalonkan diri agar bursa Capres diisi figur lain yang lebih muda. Tapi setelah menyadari dirinya tak mungkin maju, Rizal justru kembali merapat ke SBY dan bahkan bersama Fox Indonesia – perusahaan konsultan politik yang dikomandani 3M – mereka justru menggarap kampanye PD dan SBY – Boediono. Lagi-lagi, Rizal melakukan ini tanpa rikuh. Seolah semua semata hitung-hitungan uang saja. Kalau menggunakan istilah yang populer sekarang : “wani piro?!”

MALLARANGENG KETIGA

Kini giliran si adik, Zukarnain Mallarangeng yang lebih dikenal sebagai Choel. Dialah the man behind the gun selama masa kampanye Partai Demokrat dan SBY – Boediono. Gagasan-gagasannya mengemas model kampanye yang semuanya “rasa” Amerika dan tentu saja costly. Dalam buku Pak Beye dan Politiknya yang ditulis oleh wartawan Kompas yang juga Kompasianer, banyak dituliskan peran Choel mengkomandani “tim hore”. Semua atribut dan logistik kampanye dipasok secara nasional, seragam dan dalam jumlah yang lebih dari cukup, untuk tak menyebut berlebihan. Tapi semua desain kampanye yang serba “wah” itu tak sia-sia. Pencitraan SBY habis-habisan dan jinggle iklan mie instant yang sudah akrab di telingan masyarakat yang dibeli untuk diganti menjadi “SBY Presidenku”, membuahkan hasil kemenangan PD di atas target dan SBY – Boediono menang telak cukup hanya satu putaran saja!

1354875789415369258
Choel Mallarangeng (foto : www.suarapembaruan.com)

Maka tak perlu heran kalo Choel Mallarangeng kerap berada di inner circle kekuasaan, meski secara legal formal ia tak punya jabatan politik. Publik pun jarang yang mengenalnya karena Choel sangat jarang tampil di televisi.

Kini, satu Mallarangeng sudah tumbang. Setelah sekian lama bertahan dari gempuran issu korupsi sejak dari kasus Wisma Atlet, kini Andi Alfian tak bisa lagi lari dari jeratan KPK atas dugaan memperkaya diri sendiri dalam kasus Hambalang. Ketika kasus ini baru mulai ramai dibincangkan sampai amblesnya konstruksi proyek Hambalang, Andi masih tetap bersikukuh bahwa dirinya  hanya melanjutkan kebijakan Menpora pendahulunya. Ini yang menyulut kemarahan Adhyaksa Dault. Tapi kini, Andi tak bisa lagi berkelit dan menyalahkan pendahulunya. KPK sudah menetapkannya sebagai tersangka dan mencekal AAM bepergian ke luar negeri.

Tidak hanya AAM yang dicekal, AZM (Andi Zulkarnain Mallarangeng alias Choel) pun dicekal. Meski belum dijadikan tersangka seperti kakaknya, tapi bukan tak mungkin nasib Choel akan menyusul Andi. Namanya beberapa kali disebut Mindo Rosalina dalam persidangan Muhammad Nazaruddin. Bahkan Hotman Paris pernah menyindirnya terkait pembelian mobil mewah seharga 6 milyar rupiah, yang momentnya bertepatan dengan setelah Rosa menyerahkan uang.

13548758301751508881
Andi dan Choel ketika bersaksi di pengadilan (foto : www.suarapembaruan.com)

Trio Mallarangeng, kini 2 diantaranya sudah dicekal. Entah kenapa si tengah justru selamat, meski dalam hubungannya dengan para “klien” yang ditanganinya banyak menunjukkan betapa pragmatisnya dia demi uang dan kekuasaan. Tapi waktu masih akan terus berjalan. Dengan masuknya 2 nama Mallarangeng dalam daftar cekal KPK, bukan tak mungkin pamor si tengah pun menurun. Sangat disayangkan, 3 intelektual muda lulusan manca negara, 2 diantaranya terancam mengakhiri karir politiknya di kursi terdakwa. Uang dan popularitas, ternyata muaranya bisa kemana saja…

catatan Ira Oemar Freedom Writers Kompasianer
×
Berita Terbaru Update