Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Senandung Dusun

30 September 2012 | 30.9.12 WIB Last Updated 2012-09-30T15:02:04Z




Semalam di ambang kelam tiba dia di dusun ini sehabis menelusuri jalan tanah yang jauh dari lalunya mobil. Raungan mesin mobil dengan derik-derik logam yang bersentuhan tidak hadir di sini. Deretan sawah ladang yang ditingkahi hutan rimba menemani perjalanannya dari terminal dusun terakhir tempat turun dari tumpangan bus yang terakhir.

Orang-orang dusun yang membawa panenan serta sebuah

pedati yang dihela kerbau yang dikemudikan kakek tua
berwajah ramah hanya yang ditemuinya di jalan itu.
Hangat sambutan mereka terus membekas sampai dia
mengumbar salam masuk rumah keluarga paman yang
menerimanya dengan kesukacitaan yang alami.

Ah, bahasa ini terasa akrab sangat dan menyatu dalam
jiwanya. Berbeda nian dengan kehidupan kota dengan
bahasa Indonesia yang banyak mencemari tradisi
berbahasa daerah. Bahasa kampung itu sudah dianggap
sebagai ketinggalan zaman dan pantas disingkirkan
dalam arus modernisasi dan globalisasi yang kian
menggila. Perhitungan diperbuat berdasarkan tingkat
kepraktisan. Bahasa daerah tidak dikategorikan dalam
dunia kepraktisan hidup bersebab tidak mampu menunjang
fenomena tersebut.


Hari sudahlah pagi. Jauh dilayangkannya pandangan
memboyong lamunan yang menukik ke balik bukit yang
jauh itu. Sudah beranjak setahun waktu semenjak
terakhir kali jejak ditinggalkan di tanah subur
perbukitan sana. Adakah sudah inyiak merasakan
kehadirannya kini di dusun ini? Adakah inyiak masih
bagai dulu merasa senang diri tinggal sendirian di
samping lebatnya rimba yang gelap itu?

Tungkai dilangkahkannya menapaki pematang sawah yang
setengah sudah ditinggal pergi embun pagi yang bening
dalam dekapan cerianya mentari. Menghijau daun padi
mulai menguning menyatukan dusunnya dengan sungai
kecil yang tak berorang. Deretan ubi kayu yang
merimbun daun menjaga beberapa tumpak sawah di
sebelahnya.


Senandung kecil burung pipit senang menanti penuh
harap akan masa menguningnya padi penyangga hidupnya.
Seperti burung yang menempel pada seorang laki-laki,
kehadirannya di dunia ini merupakan berkah yang
menjadi dari kepingan inlet yang menyatukan alam ini.
Nyanyiannya dalam titinada yang anggun meneduhkan hati
para insan sejati yang mendengarkannya. Anak-anak
pipit yang mungil dan belum terbang layak malu-malu
menyembulkan wajah dari bulu-bulu sayap halus kasih
bundanya yang mulus lagi hangat manakala sosok batang
tubuhnya mendekat lewat.


Di pematang yang didandani rerumputan liar tenang air
mengalir menjauh sehabis menitipkan humus mentah yang
bakal menjelmakan bulir-bulir padi yang bernas.
Gemericik suaranya menelusuri pematang menuju haribaan
sungai yang mendambakannya pun kehangatan kasihnya
menyegarkan ikan yang berenang kian kemari.

Kelebat seekor ikan garing yang lambat menjauh menarik
matanya manakala kakinya mendarat dari satu batu ke
batu lain atas sungai yang jernih itu. Panjangnya
mungkinkah satu dua telapak tangan? Besar kecil
bebatuan bersembulan atas permukaan air menyerahkan
dirinya untuk diinjaki menuju seberang. Bisikan lembut
sunyi kerelaan mereka yang keras tak terjangkau oleh
pendengaran manusia yang sudah kebas.

Sayup-sayup sampai kedengaran bunyi gitar yang pekak
nada mencemari senandung alam yang merdu ini. Ah, dari
kapan gitar dipetik di dusun yang terpencil ini?
Lamban laun bunyinya kian jelas. Tersadar dia akan
pagi yang sudah merekah dalam rimba metropolitan
jakarta yang sumpek dengan sampah manusia yang tidak
terurus.


Perlahan disingkapkannya jendela kayu reot untuk
mengizinkan sinar mentari menghangati kamar kosnya
yang murahan. Jendela besar berlubang-lubang itu
mempersembahkan pemandangan seorang anak muda yang
duduk di pinggir jendela mansion house yang mahal di
seberang kali ciliwung sambil menyenandungkan lagu
kenangan akan negerinya yang jauh.


"Satu korban lagi jatuh. Harusnya tidak dibiarkan dia
merantau jauh dari ranah itu," celetuk JD bersiap-siap
berangkat ke kantor menyelesaikan rancangan proyek
pembangunan jembatan yang akan mengawinkan pulau
sumatra dan jawa.


catatan Edizal Di Jepang
×
Berita Terbaru Update