Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Antara Cemooh Dan Efektifkah Baliho Dalam Orientasi Politik

13 September 2012 | 13.9.12 WIB Last Updated 2012-09-14T16:34:19Z
13474371711774427302

Baliho Bu Atut di sebuah Jembatan (foto dok. Hesti Edityo)

Masih lekat dalam ingatan saya, sebuah papan iklan besar (baliho) bergambar bapak, ibu dan dua anaknya disertai logo BKKBN dan simbol acungan dua jari. Atau iklan yang bergambar sosok seorang ibu berkebaya, semangkok sayur, dan sebutir telur, yang disertai tulisan tentang pentingnya gizi untuk ibu menyusui. Iklan-iklan itu bagi saya pribadi terasa begitu melekat dalam ingatan, baik pesan yang disampaikan maupun simbolisasi pesan yang khas. Tapi itu papan iklan jaman dulu, bagaimana dengan papan iklan jaman sekarang?

Melihat iklan layanan masyarakat sekarang, yang terpampang berjejer memenuhi setiap sisi ruas jalan seolah berebut porsi dengan iklan komersil, tampaknya sisi layanan masyarakatnya justru terabaikan. Yang melekat dalam benak saya, kok, hanya satu atau dua sosok yang wajahnya mendominasi semua iklan layanan masyarakat – atau justru iklan layanan pemasangnya?! Artinya, pesan yang disampaikan tidak melekat, karena semuanya nyaris senada :menonjolkan sosok SIAPA, bukan APA pesan yang disampaikan. Umumnya, gambar pejabat publik.

13474372831738131676
Iklan Posyandu pun bintang iklannya si Ibu (foto dok. Ira Oemar)

Tak lagi saya temukan simbolisasi pesan yang khas, memiliki pesan gambar yang langsung bisa dipahami tanpa membaca tulisan berderet yang menyertainya. Lihat saja, iklan pembangunan daerah, iklan gerakan wajib belajar, iklan Posyandu, iklan pajak, iklan penggunaan BBM non subsidi, iklan event-event khusus baik event keagamaan atau lainnya dan masih banyak lagi, menampilkan “bintang iklan” yang sama. Tak jarang dalam pose yang sama pula! Bagaimana pesan utama bisa sampai dengan cepat dan terekam kuat dalam memori, jika iklan-iklan yang sebenarnya berbeda pesan dipenuhi oleh SATU potongan adegan yang sama? Belum lagi ditambah tulisan pesannya yang kadangkala ditulis dengan huruf yang kurang “eye catching apalagi kalau dibaca sambil berkendara. Sehingga muncul pertanyaan, sebenarnya yang ingin disampaikan ini esensi iklannya atau narsisme pejabatnya?!

13474373351359503968
Iklan ajakan membayar pajak, sudahkah papan iklan ini juga dibayar pajaknya? (foto dok.Ira Oemar)

Efektifkah iklan layanan masyarakat yang sebenarnya lebih “menjual” foto si pejabat publik itu? Kalau tolok ukurnya hanya sebatas wajahnya terkenal, tentu target itu tercapai. Bagaimana tak bakal terkenal kalau tiap 500 meter ada baliho besar dengan gambar wajah orang yang sama dengan senyum yang sama? Tapi cukupkah dengan wajah dikenal akan membuat satu ikatan kedekatan psikologis dengan rakyat? Yang paling gencar menebar balihoo di seluruh penjuru Nusantara setahun terakhir ini adalah Pak Ical alias Abu Rizal Bakrie. Siapa yang tak kenal beliau, mungkin hanya penduduk di wilayah terpencil saja yang tak mengenalnya. Tapi akankah keterkenalan wajah ini akan mampu menggerakkan masyarakat Indonesia untuk memilihnya menjadi Presiden I pada Pilpres 2014 nanti? Saya pribadi merasa keterkenalan bukanlah suatu jaminan akan dipilih!

1347437404915096063
Sampai ke desa-desa pun, Pak Ical menyapa kami dengan senyuman yang sama (foto dok.Hesti Edityo)

Dalam kasus baliho Ibu Atut, mungkin hal ini cukup signifikan dan bisa dibilang berkontribusi mendongkrak perolehan suaranya dalam Pilkada. Kondisi daerah-daerah di wilayah Propinsi Banten yang sebagian besar kondisi infrastruktur transportasinya masih sangat parah dan sulit di jangkau sehingga mejadikannya terpencil, membuat warga sekitarnya jadi “buta” informasi tentang tokoh lain. Maka, baliho bergambar foto Bu Atut yang sudah disebar sejak 2 tahun sebelum Pilkada, menjadi satu-satunya rujukan warga. Maklumlah, sebagai Gubernur incumbent Atut punya banyak keleluasaan memasang gambarnya di seantero Banten dengan mendomplengi iklan layanan masyarakat, misalnya iklan Posyandu.

13474375231591156688
Idul Fitri, Bu Atut menyapa lewat baliho (foto dok. Hesti Edityo)
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di wilayah Banten akhir 2009 lalu, saya pikir akan segera ada Pilgub di awal tahun 2010, sebab foto Atut bertebaran di tiap kilometer jalan yang saya lalui. Ternyata saya salah besar, Pilgub baru diadakan menjelang akhir 2011. Tapi Bu Atut sudah beriklan sejak 2 tahun sebelumnya. Bagaimana tak bisa dibilang iklan, semua baliho itu masuk kategori media luar ruang, sebagian besar berbentuk papan iklan berkaki satu. Bahkan banyak pula yang membentang melintasi kedua sisi jalan. 

Artinya, pemasangan papan iklan semacam itu seharusnya berbayar, ada pajak yang harus dibayarkan. Benarkah papan-papan iklan yang jumlahnya bejibun itu semuanya taat membayar pajak? Meski salah satu papan iklan itu justru mengajak warga taat bayar pajak. Jika membayar pajak, siapa atau pihak mana yang menanggung biaya pajaknya? Akankah si “bintang iklan” yang berkepentingan mempopulerkan sosoknya itu yang membayar? Bagaimana pula dengan biaya pembuatan dan pemasangan baliho/papan iklan itu : apakah menggunakan uang dari kocek pribadi atau menggunakan dana APBD?
1347437590576519385
HUT RI yang cuma beda 2 hari dengan Idul Fitri, juga dibuat balihonya tersendiri (foto dok.Hesti Edityo)
Ada teladan menarik yang perlu dicontoh dari sosok Walikota Surabaya, Tri Risma Harini. Meski beliau jadi Walikota saat saya sudah tak lagi tinggal di Surabaya, tapi dari cerita teman-teman yang masih di Surabaya, nyaris tak ada satupun baliho, papan iklan atau spanduk bergambar wajah Bu Risma. Warga Surabaya justru mendengar kabarBu Risma dari media massa lokal karena pemberitaan atas kiprahnya, atau cerita dari mulut ke mulut dari para Lurah dan Camat se-Surabaya. Kabarnya, kalau turun hujan deras di Surabaya, Bu Risma menelpon Camat-Camat di daerah langganan banjir. Memintanya menunggu di temnpat tertentu, karena Bu Risma meluncur ke sana untuk mengecek apakah akan terjadi banjir atau tidak dan kalau seandainya ada potensi banjir sudah dipersiapkan penanganannya.

13474376651263766173
PON-nya di Riau, tapi toh bisa dimanfaatkan bikin baliho di Banten (foto dok. Hesti Edityo)
Warga justru tahu potret Bu Risma, karena beliau sebelum jam 6 pagi sudah ikut menyapu jalanan kota Surabaya. Saat gedung Balai Pemuda Kota Surabaya terbakar beberapa bulan lalu, sorot kamera TV yang memberitakan justru merekam kiprah Bu Risma ikut terjun ke lokasi untuk mengawasi langsung pemadaman kebakaran. Pun ketika ada perselisihan antar warga Gadel terkait kasus contek massal yang terjadi di SDN Gadel II tahun 2011 lalu, Bu Risma pagi-pagi sekali sudah mendatangi orang tua dari siswa yang dikucilkan warga. Bu Risma sendiri yang menjamin warganya tak teraniaya di kampungnya.
Tanpa baliho, tanpa papan iklan, tanpa spanduk, tapi dengan kerja nyata dan hadir langsung di tengah warga, itulah popularitas yang lebih langgeng.Ketika sentuhannya dirasakan langsung oleh warga, tanpa ada spanduk pun warga tahu siapa pemimpinnya. 

Ini terjadi juga pada Walikota Solo Pak Jokowi yang dikenal sangat rajin menyambangi warganya. Maka tak heran popularitas Jokowi yang pendatang dari Solo, mampu mengalahkan Foke yang sudah 5 tahun menjadi Wakil Gubernur dan 5 tahun pula menjadi Gubernur incumbent.
13474377731361157027
Baliho Pak Ical hanya berjarak satu meter di depan baliho Bu Atut, seolah menutupi (foto dok. Ira Oemar)
1347437858526898965
Dengan sudut pengambilan gambar yang berbeda (low angle), baliho yang sama tampak jelas bedanya. Baliho Bu Atut lebih besar dari punya Pak Ical (foto dok. Ira Oemar)
Nah, Pak Ical yang tampaknya ngotot untuk running pada Pilpres 2014, akankah beliau meniru cara Bu Risma dan Pak Jokowi, atau lebih memilih cara seperti bu Atut? Melihat maraknya baliho Pak Ical di sepanjang jalanan kota dan desa, tampaknya Pak Ical ingin membuat dirinya dikenal lewat spanduk yang sama dan seragam se Indonesia. Bukan hanya gambarnya, bahkan bentukk dan ukurannya pun seragam. Akankah ini jadi jaminan mayoritas rakyat akan memilihnya pada 2014 nanti? Bagi sebagian masyarakat, melihat wajah Pak Ical justru mengingatkan pada musibah lumpur Lapindo dan ribuan warga yang terusir dari kampung halamannya yang sampai sekarang sebagian dari mereka tetap menuntut haknya atas ganti rugi. 

So…, kalau baliho itu justru mengingatkan orang pada “prestasi negatif”-nya, akankah ribuan baliho Pak Ical membuahkan hasil positif? Kita lihat saja setelah 2014, apakah Pak Ical masih akan tersenyum selebar foto-fotonya di papan iklan yang bertebaran dan kami temui setiap[ hari, pagi, siang dan malam.
1347437971505073482
Nah yang ini, yang ngucapin Selamat Ramadhan dan ngajak mudik bareng bukan Pak Ical lho… Pak Ical hanya berdiri di sebelahnya (foto dok. Ira Oemar)

catatan ira oemar freedom writers kompasianer
×
Berita Terbaru Update