Wawancara dengan copet, pedagang dan wisatawan: Semua takut viral [H+6 Lebaran Kota Pariaman]

Foto: Junaidi

Pariaman - Selama musim libur Lebaran yang diikuti Festival Pantai di Kota Pariaman, puluhan ribu pengunjung memadati hampir seluruh objek wisata yang ada di Kota Pariaman.

Mulai dari Pantai Sunur, Pantai Binasi, Pantai Kata, Pantai Cermin, Pantai Gandoriah, Talao Pauh, Pulau Angsoduo, Pusat Penangkaran Penyu di Desa Apar hingga objek wisata yang dikelola desa yang tidak memiliki pantai.

Menurut Ilham, salah seorang pengunjung Pantai Gandoriah yang berasal dari Medan Sumatra Utara, pengelolaan objek wisata Kota Pariaman selangkah lebih maju dari beberapa kota dan kabupaten lainnya di Sumatra Barat.

Menurut dia, pungutan atau retribusi masuk objek wisata dilakukan satu pintu termasuk biaya parkiran. Sehingga ketika dia tiba di parkiran tidak ada lagi pungutan.

"Yang ada hanya petugas parkir yang mengatur. Kita tidak lagi dipungut biaya tambahan," kata dia melalui pesan elektronik ke Pariamantoday.com, Sabtu (7/5).

Selain itu, sambung Ilham, pedagang di area wisata yang ia kunjungi juga lebih tenang jika dibandingkan kota lain yang ia kunjungi di hari sebelumnya. Ia mengaku tidak ada pedagang yang menghimbau dengan gigih agar membeli dagangannya.

"Kalau dipanggil-panggil 'pak beli pak, beli pak' oleh pedagang kan kita jadi risih, apalagi nadanya agak maksa. Sebagai orang Pariaman saya jadi bangga membawa keluarga dan kawan-kawan ke sini," ujarnya.

Ilham juga memperhatikan kebersihan pantai. Meski dia mengaku kesadaran pedagang sudah baik dalam kebersihan, tapi tidak bagi sebagian pengunjung yang seenaknya membuang sampah di pantai yang berpasir hingga ke dalam muara.

"Ya puntung rokok, sisa pensi dan langkitang, sampah plastik. Kesadaran pengunjung belum membuang sampah pada tempatnya, persoalan klasik di daerah kita," kata dia.

Ilham berharap kesadaran membuang sampah pada tempatnya sosialisasinya perlu ditingkatkan. Baik di tingkat pemerintahan, tingkat desa hingga sekolah-sekolah.

"Ini PR bagi kita semua. Jika ingin pariwisata kita go internasional, hal ini perlu dibenahi betul," ungkapnya.

Sementara, In, salah seorang pedagang di objek wisata Pariaman mengaku sudah menyiapkan tempat sampah. Tapi dia enggan menegur wisatawan yang membuang sampah sembarangan dengan alasan takut menyinggung perasaan mereka.

"Rata-rata pedagang yang sudah lama berdagang di sini orang lama yang sudah mendapat pembinaan SDM dari Pemko Pariaman. Kita sadar betul pentingnya kebersihan. Tapi buat menegur yang lain kita segan," kata dia.

Bahkan menurut dia, membuang sampah sembarangan saat ini bisa menjadi aib dan viral. Dia ingat betul pada tahun 2015 beberapa pedagang kedapatan membuang sampah kelapa muda di Pantai Pariaman.

"Dulu sampah kelapa muda dikuburkan di pantai. Ketahuan dan viral di media dan media sosial, sampai si pembuangnya malu keluar karena takut difoto wartawan," ungkapnya.

In mengimbau kepada sesama pedagang agar menjaga kebersihan objek wisata karena merupakan sumber pendapatan mereka.

"Pariuak bareh jangan dikotori," katanya.

Sedangkan Vivi, pengunjung dari Pasaman mengatakan makan di rumah makan di sepanjang pantai Gandoriah tidak perlu takut lagi kena 'pakuak' karena setiap kedai sudah memiliki daftar harga menu.

"Jadi kita pesan sesuai isi kantong. Kalau ada kenaikan harga kita maklumi karena sebagai perempuan kita nyadar harga bahan pokok semua pada naik. Tapi harganya normal kok, serius," kata dia.

Karena ramainya objek wisata selama Lebaran di Pariaman, Vivi mengaku lebih mengkhawatirkan copet daripada harga. Sepanjang jalan ia selalu berhati-hati dan menaruh perhiasan berharga ke dalam dompetnya.

"Karena saya dengar yang pulang kampung selama Lebaran tidak hanya pedagang dan orang kantoran, copet dan perampoknya juga pilkam," pungkasnya.

Mengenai copet tersebut, Pariamantoday mencoba menghubungi salah seorang petugas dari Polres Pariaman, Bripka Agus. Menurut Agus, hampir sepekan Lebaran, belum ada satu pun kasus kecopetan dan rampok terjadi di Kota Pariaman.

"Belum ada laporan terkait itu," kata Agus.

Meski demikian, Agus meminta wisatawan tetap berhati-hati menjaga barang bawaan dan anak-anak di tengah keramaian dan segera melapor ke pos-pos pengamanan terdekat jika kehilangan barang dan anak. 

Mister X (bukan nama sebenarnya) salah seorang pencopet terkenal yang dihubungi Pariamantoday.com mengaku jera melakukan aksi copet. Dia yang saat ini sudah beralih profesi menjadi sopir tersebut lebih takut viral daripada ditangkap polisi.

"Jujur bang, pernah nemu duit 100 ribu di jalan saya kasih tahu orang lain. Saya takut viral, siapa tahu ada kamera di sana dan nyebar ke Tiktok dan Facebook. Apa jadinya jika anak, istri dan keluarga menontonnya. Apalagi kedapatan copet dan diviralkan," kata Mister X. (OLP)