Hindari macet, ribuan pemudik Pariaman dan Padangpariaman belum balik ke perantauan

Kemacetan di Kelok 9 saat puncak arus balik mudik. Foto: istimewa/republika

Pariaman - Ratusan mobil pribadi bertolak dari Kota Pariaman dan Padangpariaman menuju perantauannya masing-masing setelah lebih dari sepekan berlebaran di Kota Pariaman dan Padangpariaman, Rabu (11/5).

Perantau yang akan kembali memulai aktivitasnya tersebut mayoritas para pedagang dan yang bekerja di sektor non formal. Meski begitu, ribuan perantau lainnya memutuskan balik pekan depan agar terhindar dari kemacetan.

Sementara perantau yang memilih balik hari ini karena alasan pekerjaan dan ada keperluan mendesak.

"Jika kita kembali hari Sabtu atau Minggu kemarin, rasanya sayang karena puncak Lebaran di Pariaman," kata Riki, 32, perantau Pariaman yang berdomisili di Pekanbaru.

Di samping itu dia juga ingin menghindari macet parah karena pada hari tersebut merupakan puncak arus balik mudik dari Sumatra Barat ke Riau.

"Sabtu dan Minggu, bahkan Senin masih macet. Yang terparah hari Sabtu. Bisa 24 jam di jalanan. Sekarang juga masih macet, tapi tidak terlalu parah," kata Riki yang mengaku sejumlah kerabatnya juga terjebak macet pada puncak arus mudik Sumbar-Riau.

Riki mengaku masih bisa lebih lama lagi di kampung karena dua anaknya belum usia sekolah. Tapi karena tuntutan ekonomi dan pekerjaan, dia harus kembali. Macet sedikit baginya tidak masalah asal selamat sampai di rumahnya.

"Kita juga mesti kembali bekerja. Kita tidak boleh abaikan kondisi ekonomi sekarang yang masih belum pulih benar karena pandemi," kata Riki.

Usman, 67, juga bertolak dari Pariaman menuju Bengkulu hari ini. Sedangkan kedua anak dan menantunya telah dulu berangkat Sabtu lalu.

"Mereka lebih dulu berangkat karena PNS dan karyawan Bank. Tinggal saya dan istri bersama sopir di sini. Rencana kami sebenarnya minggu depan balik ke Bengkulu, tapi karena ada keperluan mendesak kita putuskan berangkat malam atau subuh nanti," kata Usman.

Menurut Usman, jalur Pariaman-Bengkulu juga sangat macet pada puncak arus balik mudik meskipun tidak separah jalur Sumbar-Riau.

"Tidak separah Sumbar-Riau. Tapi lebih macet dari pada tahun-tahun sebelumnya," kata dia.

Sebagaimana dikabarkan sebelumnya, sekitar 1,8 juta perantau mudik ke Sumatra Barat pada Lebaran 2022 ini. Jumlah tersebut memecahkan rekor dalam sejarah mudik Sumbar. Dari jumlah tersebut sekitar 300 ribu pemudik menuju Pariaman dan Padangpariaman.

Arus balik mudik dan kemacetan di jalur Sumbar-Riau diprediksi akan masih berlangsung hingga Minggu 15 Mei mendatang - meski tidak separah saat puncak arus balik mudik. Hal tersebut dikarenakan masih banyaknya perantau yang memilih sedikit lama di kampung. (OLP)