[Sketsa] Pariaman, bioskop dan hotel berbintang

Oleh Indra J Piliang

Seingat saya, kesadaran menggunakan seragam Praja Muda Karana (Pramuka) secara intensif sejak Kelas 5 Sekolah Dasar Negeri 2 Air Angat, X Koto, Tanah Datar. Saya selalu rangking 1, sehingga mendapat banyak kesempatan mewakili sekolah dalam pelbagai perlombaan. Dari matematika, ukiran Pandai Sikat, sampai kegiatan baris berbaris.

Dengan seragam pramuka itu pula kami berangkat bersama ke Bioskop Karia Padang Panjang, menonton film ‘Serangan Fajar’ dan ‘Enam Jam di Yogya’. Dari sosok Si Temon yang mencari bapaknya dalam zaman Jepang, hingga ia mampu membunuh serdadu Jepang dengan bambu runcing, sampai kehebatan Pak Harto bersama Sultan Hamengku Buwono IX dalam menduduki Yogyakarta.

Diam-diam, bukan Pak Harto yang membetot rasa kagum saya, tetapi Sultan HB IX. Berhubung saya adalah pemamah seluruh buku komik di Pasar Bawah Padang Panjang, imajinasi saya melayang ke Yogyakarta dan Jawa. Tanah yang melahirkan Braja Kumbara, Godam, Gundala Putra Petir, Si Buta dari Goa Hantu, Nenek Lampir, Aquanus, Denny Manusia Ikan, Mahabarata, Mandala dari Sungai Ular, Desa Tumaritis tempat Petruk-Bagong-Gareng menjadi ksatria dan sebagainya.

Tak ada film ‘G30S/PKI’ yang ditayangkan di bioskop untuk anak-anak SD.

Saya tak ingat, kapan pertama kali menonton film G30S/PKI itu. Bisa jadi dalam layar TVRI berwarna hitam putih. Tentu adegan yang penuh sensor. Bahkan, dalam era kegemilangan Presiden Soeharto sekalipun, gunting sensor begitu kejam. Jiwa kanak-kanak saya tak ikut rusak oleh tayangan G30S/PKI itu. Bahkan hingga kini. Karena itu, saya tetap tak ingin menonton film dengan durasi empat jam yang tanpa sensor.

Ayah memang jadi pembimbing saya. Dia bercerita tentang adegan-adegan yang palsu dalam film itu. Kedekatan ayah ketika merantau – tepatnya melarikan diri setelah terlibat PRRI dengan posisi Sekretaris Partai Masyumi Tanah Datar -- di Jakarta dengan HB Jassin, Motinggo Busye, Idrus, dan banyak penulis yang bergerombol di Jalan Veteran I, telah menjadi pagar otak beliau.

Diluar itu, dari keluarga ibu saya di Pariaman, terdapat cerita kakek-kakek saya yang ikut ‘menyembelih’ orang-orang PKI itu. Namun, cerita itu baru saya gali ketika saya menjadi mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia. Salah satu kakek saya yang berilmu tinggi, kesulitan dalam meninggal dunia. Kakek saya yang lain mengatakan, akibat ‘perbuatan’ masa muda beliau.


*

Lah, kenapa melantur kesana?

Baik, kembali ke pangkal jalan. Sampai menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, saya selalu terlibat dalam kegiatan Pramuka. Kegiatan Paskibraka saya tinggalkan, berhubung tangan saya cengkok alias patah sejak Taman Kanak-Kanak di Sikakap, Kepulauan Mentawai. Posisi tinggi badan, selalu menempatkan saya di depan. Dan terlihat betapa tidak harmonisnya barisan.

Pun di SMA 2 Pariaman, nama panggilan saya adalah Si Cengkok. Dalam novel ‘Pinangan dari Selatan’ yang saya tulis tahun 2016, nama itu berubah menjadi seorang Tionghoa atau China miskin asal Benteng, Tangerang: Cheng Kok.

Rasa kagum dan hormat saya kepada Sultan HB IX terut menggurita, ketika beliau datang ke Kota Pariaman meresmikan Hotel Nan Tongga, pada tanggal 6 September 1987. Saya dengan bangga, gemetaran, ikut menyambut dari rombongan Pramuka SMP Negeri Kampung Dalam. Berhari-hari saya mempersiapkan diri dengan bantuan ayah.

Saya tidak terlalu ingat, bagaimana Wakil Presiden RI itu berada di Kota Pariaman, tanah kelahiran saya. Saya pun tak ingat lagi, apa cerita saya kepada ayah yang ikut hadir sebagai Pegawai Negeri Sipil di bawah Bupati Anas Malik dan Gubernur Azwar Anas. Ayah tentu sama kagumnya kepada Sultan HB IX.

Di SMA 2 Pariaman, saya memang menyukai kegiatan hiking atau lintas alam lain. Ada foto, betapa saya sendirian duduk di depan serombongan siswi yang berada di belakang saya.

Keahlian saya sebagai ‘anak hutan-rimba’ memang sudah diketahui kawan-kawan saya. Bagaimana tidak, tiap hari saya menyeberangi sungai Batang Naras yang berair deras. Tanpa ada jaringan listrik, apatah lagi jembatan gantung.

Sejak kecil, saya bisa berenang d arus sungai yang sedang banjir dengan posisi membawa kayu-kayu dari hulu. Berenang dengan posisi satu tangan. Tangan yang lain, berada di atas air membawa seluruh perlengkapan sekolah, dari tas, buku, sepatu, hingga baju.

Kaki saya memang membusuk sepanjang sekolah. Sampa saya kost di Kota Pariaman menjelang akhir. Tak terbilang banyak luka di tubuh saya, apalagi kaki.

*

Di Kota Pariaman, terdapat satu bioskop bernama Garuda. Di bioskop itu saya diajak oleh tante-tante saya menonton film ketika kecil. Saya ingat, menyurukkan kepala ke bangku bioskop, ketika ada kereta api di layar. Saya pikir, kereta api itu mau menubruk.

Di luar itu, ayah sering membawa saya dengan sepeda motor terbaik era itu menuju menara pemancar di Sungai Sariak.

Ayah tahu, saya ingin menjadi seorang astronot yang menghilang di tepian galaks yang jauh. Tujuan saya: menyelamatkan Gundala yang tak mau saya baca sampai tamat dalam serial “Gundala Sampai Ajal”.

Satu-satunya buku yang saya tak ingin baca akhirnya, setelah Gundala memakan buah yang diperebutkan semua makhluk alam raya.

“Mari kita bagi-bagi tubuh Gundala,” begitu keputusan para hero dunia yang ikut datang. Cuma sampai di situ saya hentikan membaca kelanjutannya.

Dalam bayangan masa kecil saya, petir di angkasa itu pertanda Gundala masih bertarung. Dan saya ingin datang sebagai seorang astronot: membantu menyelamatkannya.

Kuasa Allah SWT sangat ajaib. Kini, seluruh imajinasi itu berada dalam lukisan dan kepala putra saya yang penyintas autisme: Afzaal Zapata Abhista. Kegandrungan Afzaal kepada galaksi yang jauh itu terekam dalam sejumlah lukisan yang ia juarai. Lukisan-lukisan itu melanglang buana ke sejumlah negara, sebagai wakil Indonesia.

Dalam usia 9 tahun, Afzaal tercatat sebaga pekerja seni termuda yang tercatat dalam Galeri Nasional. Biarlah nanti Afzaal yang menyelamatkan Gundala itu.

Setelah bioskop Garuda berisi kepinding, hadir bioskop baru bernama Karya di Kota Pariaman. Namun, seingat saya, gaya tarik bioskop baru itu tak sehebat bioskop Garuda. Era film-film India sempat hadir di dalamnya.

*

Hotel Nan Tongga yang diresmikan Sultan HB IX sudah berusia 34 tahun. Saya tidak ingat usia bioskop Garuda atau bioskop Karya. Namun, hingga kini, tak ada hotel berbintang yang bisa diandalkan sebagai tempat istirahat para wisatawan, baik domestik, apalagi asing.

Tentu, saya sempat berbicara kepada Ibu Mufidah Jusuf Kalla dan Erwin Aksa agar mendirikan hotel berbintang di Kota Pariaman. Begitu pula, saya ikut melobbi sejumlah pengusaha di bidang perbioskopan. Film-film asing yang membanjir di internet, bakal memiliki nuansa yang luar biasa, apabila ditonton di dalam bioskop. Belum lagi film-film karya sineas Indonesia sendiri. Keahlian silat Iko Uwais bakal lebih memicu adrenalin.

Yang utama, film-film anak-anak yang masih diproduksi. Pun film kalangan remaja usia. Bioskop sudah menjadi semacam menu wajib dalam kurikulum nalar imajinatif anak-anak dan remaja.

Pembelajaran jarak jauh dari sisi psikologi pertumbuhan anak-anak dan remaja bisa berdampak luar biasa. Keterpakuan kepada layar smartphone atau laptop yang kecil, misalnya. Semakin banyak anak-anak dan remaja yang terlihat seperti itu, termasuk anak-anak saya. Galaksi yang luas, bisa dilupakan.

Bioskop bakal membawa minimal layar kecil menjadi layar yang lebar. Keluasan pandangan kembali dibentuk. Sihir layar smartphone yang kecil bakal punah.

Terkecuali negara ini adalah Republik Rakyat China. Pembatasan sudah dilakukan kepada anak-anak dan pelajar dalam mengakses apapun.

Saya sudah buktikan sendiri, ketika datang ke Shanghai tahun 2010. Tak ada gambar-gambar porno dalam jejaring internet di China. Judi online dengan beragam dalih apalagi. Game online sangat diperketat. Aplikasi media sosial buatan negara lain ditolak. China membuat sendiri aplikasi yang sesuai dengan karakter dan budaya mereka.

Percayalah. Generasi Alpha yang diproyeksikan sebagai pekerja-pekerja hebat dalam menjadikan Indonesia sebagai negara paling sejahtera nomor empat di dunia tahun 2045, bakal tinggal sebagai imagined projection semata. Apabila anak-anak kita terus dan terus tersihir dengan mutilasi gambar dan video dalam layar yang kecil seperti hari ini.

Datangkanlah hotel berbintang dan bioskop ke Kota Pariaman. Biar ponakan-ponakan saya ikut menikmati layar yang sungguh lebar dan nuansa kemajuan dunia yang bisa jadi mereka nanti berada di sana… (***)