Walimurid kelas 1 SD keluhkan belajar daring: "membaca dan berhitung saja anak kami belum bisa"

Kepala Dinas Pendidikan dan OlahragaKota Pariaman, Kanderi mengatakan kebijakan belajar daring didasarkan pada status dan zona kota Pariaman dalam pandemi Covid-19.

Pariaman - Sejumlah orangtua dan walimurid di Pariaman mengeluhkan proses belajar mengajar online atau daring. Penolakan tersebut mayoritas datang dari walimurid yang anaknya baru masuk sekolah dasar (SD).

"Anak baru masuk SD bagaimana belajar daring. Membaca dan berhitung saja belum bisa," kata Rina salah seorang orang tua murid kelas 1 SD di Pariaman, Rabu (14/7).

Menurutnya, ada banyak opsi lain selain mengambil langkah belajar daring untuk siswa kelas 1 SD. Misalnya dengan belajar sistim kelompok kecil yang didatangi guru secara terjadwal.

"Dengan belajar kelompok jumlah kecil juga bisa sebenarnya. Baik di sekolah maupun di rumah yang didatangi guru," kata dia.

Hal senada juga disampaikan Ari dan Dini. Pasangan suami istri tersebut sehari-harinya bekerja dan pulang sore ke rumah. Sejak belajar daring, prestasi kedua anaknya jauh menurun dibuktikan dengan hasil rapor kenaikan kelas baru-baru ini.

"Saya tidak menyalahkan pemerintah, tapi kami memang tidak punya waktu maksimal membimbing anak belajar," kata Dini.

Dini berharap pemerintah melakukan kajian atas keluhannya tersebut yang menurutnya dirasakan hampir oleh semua orang tua murid.

Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Pariaman, Kanderi, sebelumnya mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi dalam satu minggu mendatang terkait diliburkannya sekolah di hari pertama tahun ajaran baru.

Menurut Kanderi, belajar tatap muka di sekolah terlalu berisiko bagi guru dan murid karena situasi pandemi Covid-19 saat ini.

"Juga karena status Kota Pariaman kini berada di zona orange. Kita akan lakukan evaluasi dalam satu minggu ini," kata Kanderi. (OLP)