Nasib seniman di masa pandemi: dari Sanggar Darak Badarak hingga artis orgen tunggal yang beralih profesi

Sanggar Darak Badarak mampu memadukan instrumen tradisional Pariaman dengan aransemen musik modern. Foto: istimewa

Pariaman - Memasuki tahun kedua pandemi Covid-19, industri seni dan hiburan di Tanah Air mengalami pukulan bertubi-tubi. Banyak seniman bertahan hidup dari tabungan hingga banting stir menjadi tukang endors di sosial media. Menjadi YouTuber, Selebgram hingga TikToker.

Termasuk industri seni dan hiburan yang ada di Pariaman. Tidak hanya panggung seni orgen tunggal, sanggar seni sekelas Darak Badarak juga terkena pukulan hebat. Hampir dua tahun ini, sanggar seni yang telah mengoleksi puluhan penghargaan nasional itu, jalannya sudah tertatih-tatih.

Di awal pandemi yang belum seketat saat ini, menurut pimpinan Sanggar Darak Badarak, Ribut Anton Sujarwo, pihaknya masih ada menerima undangan manggung dari berbagai instansi, pemerintah daerah hingga personal. Kesulitan mulai terasa saat PSBB mulai diberlakukan di pertengahan 2020.

Setelah PSBB longgar dan wabah Covid-19 mulai ada penurunan, Sanggar Darak Badarak kembali sekali-sekali diundang manggung. Undangan manggung berarti asap dapur ikut ngepul bagi sanggar yang menghimpun 30 orang remaja itu.

Sebelum PPKM diberlakukan di Sumatra Barat, kata Ribut, sudah ada beberapa jadwal manggung Sanggar Darak Badarak di sejumlah daerah. Seperti di Padang, Tanah Datar dan kota lainnya. Acara yang sudah terjadwal, tiba-tiba dicancel saat PPKM diberlakukan pada 18 hingga 25 Juli 2021 lalu.

"Ada yang membatalkan dan ada penundaan dari panitia hingga batas waktu yang belum ditentukan," kata Ribut saat dihubungi lewat telepon, Senin (26/7).

Ribut sendiri tidak menyalahkan panitia maupun pemerintah daerah atas hal tersebut. Karena untuk pementasan seni diperlukan izin keramaian yang pasti tidak akan bisa diperoleh sebagaiamana aturan pemberlakuan PPKM.

"Tiga sanggar yang Ribut manajemeni mengalami nasib sama. Tidak hanya Darak Badarak. Kita sepi job dan menganggur. Tidak ada pemasukan lain karena selama ini Ribut fokus membesarkan sanggar seni. Pemasukannya juga dari sana," imbuh Ribut.

Apa yang dirasakan Ribut dan tiga sanggar yang dikelolanya, lebih parah lagi dirasakan oleh pengusaha hiburan seni orgen tunggal. Selama pandemi, pemilik orgen dan artis, cuma manggung sekali-sekali di pesta pernikahan dan undangan pesta lainnya.

"Bahkan dua bulan cuma dapat sekali," kata salah seorang artis orgen tunggal yang memilih namanya tidak disebutkan.

Karena sepi job dan tak sanggup membayar kos-kosan tiap bulannya, dia sempat pulang ke kampung halamannya membantu usaha orang tuanya. Saat pandemi mereda di awal 2021 ia kembali mendapat job manggung.

"Ada dua bulan lamanya. Lumayanlah, tapi setelah itu kembali sepi. Kini saya berencana balik lagi ke kampung," ujar dia.

Menurutnya, nasibnya belum seberapa dibandingkan artis orgen tunggal yang sudah memiliki keluarga dan punya anak. Bahkan dia bilang ada di antara teman seprofesinya beralih menjadi tukang cuci hingga menjual diri.

"Ada, sampai jual diri. Sumpah, namun jual diri di masa pandemi juga sepi kan," imbuhnya.

Terhitung hari ini, PPKM di sejumlah kota di Sumatra Barat kembali dinormalkan. Dari pantauan wartawan di lapangan, mayoritas titik penyekatan di kota Padang, Pariaman, Bukittinggi dan Padang Panjang sudah dibuka.  (OLP)