Sosok Kartini dari Karanaur sarjanakan dua anaknya dengan menjual air laut

Duabelas tahun sudah Ernawati menekuni pekerjaan sebagai penjual air laut. Banyak suka duka yang ia rasakan melakoni profesi langka itu demi menafkahi keempat anaknya. Foto: Desi

Pariaman - Hanya dengan menjual air laut untuk pedagang ikan, Ernawati berhasil kuliahkan anaknya hingga jenjang sarjana. Ernawati sehari-hari menimba air langsung dari laut dekat area pelelangan ikan (TPI) di Kelurahan Karanaur.

Profesi itu telah bertahun lamanya dia lakoni. Setiap harinya Erna mampu menjual puluhan bahkan hingga seratus ember air laut, tergantung hasil tangkapan ikan para nelayan di TPI Karanaur. Jika tangkapan nelayan banyak, pedagang juga ramai, begitu sebaliknya.

Air laut biasanya digunakan pedagang ikan untuk mencuci sekaligus merendam ikan secara alami sebelum dibawa berdagang. Air laut akan dicampur dengan es, baik dalam keranjang, peti dan baskom. Penggunaan air laut membuat ikan terlihat lebih segar alami dibandingkan menggunakan air garam yang menyebabkan ikan menjadi keras dan menjadikan mata ikan merah serta melunturkan kilau daripada kulit ikan.

Perempuan 54 tahun ibu daripada empat anak itu sudah menjual air laut selama 12 tahun, tepatnya sejak 2008 silam. Satu ember air laut dijual Rp 2000 karena pedagang ikan menilai harga wajar karena makin lama bibir laut makin menjauh akibat perubahan alam.

"Dulu harganya hanya seribu satu ember. Namun sejak lima tahun lalu harganya naik jadi dua ribu karena menimba air laut makin jauh," ungkapnya.

Erna mengisahkan suka duka menjual air laut yang bergantung pada hasil tangkapan nelayan di TPI. Tangkapan ikan biasanya akan banyak saat cuaca baik dan saat bulan kelam (bulan tenggelam). Sedangkan saat bulan terang, tangkapan nelayan yang menggunakan Kapal Bagan dengan menggunakan ratusan lampu penerangan untuk memancing kedatangan ikan jauh lebih sedikit dan bahkan banyak Kapal Bagan tidak melaut karena hasil tangkapan tidak sebanding dengan modal perbekalan.

"Saat bulan terang saya nyaris tak menjual seember pun. Kita terpaksa berhemat dan makan seadanya," kata dia.

Erna juga merasakan betapa beratnya menimba air laut saat ia pertama kali melakoni profesi tersebut. Sebagai seorang wanita, dia bolak balik puluhan kali berjalan kaki menenteng ember yang cukup berat.

"Kini saya sudah pakai becak motor yang kami beli dari hasil tabungan," ungkap dia.

Menjual air laut bukan tanpa risiko. Erna sudah berkali-kali kehilangan ember dan air dalam ember dicuri saat disimpan buat dijual ke esokan harinya.

Meski demikian, Erna menyadari apapun yang dikerjakan pasti ada risikonya. Ia mengambil sisi positifnya saja karena dengan profesi yang ia lakukan ia mampu menafkahi anaknya dengan uang halal. Buktinya dengan menjual air laut, Erna mampu membiayai kuliah dua orang anaknya hingga sarjana dan dua anak lainnya masih duduk di bangku SMP dan SMA. Ia berprinsip pendidikan anak-anaknya di atas segala-galanya dan ia akan berusaha sekuat tenaga mewujudkan cita-cita anak-anaknya.

Erna menyadari dengan kondisi suami yang sudah tua, ia merasa punya tanggung jawab yang sama dalam menafkahi buah hati mereka. Erna berharap kedua anaknya yang telah sarjana, bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

"Sekarang masih menganggur. Semoga dapat pekerjaan," kata dia.

Erna merupakan contoh wanita yang tidak menyerah oleh keadaan. Semangat Kartini ada pada diri beliau. Ernawati, boleh bukan siapa-siapa, tapi dia ia mewarisi cita-cita luhur Ibu Kita Kartini. Ia Kartini sejati bagi anak-anaknya, bagi para wanita yang menjadikan Ernawati sebagai sosok inspirasinya. (Desi/OLP)