[Tajuk] Filosofi Debat Sisi Akhir Pilkada Padangpariaman

Debat sisi kedua Pilkada Padangpariaman yang digelar di aula IKK Padangpariaman, Rabu malam, 2 Desember 2020. Foto: Screenshot YouTube/OLP

"Terbentur, terbentur, terbentur
dan TERBENTUK." Demikian kata Ibrahim Datuak Sutan Malaka dalam bukunya "Dari Penjara ke Penjara" yang dikarangnya lebih 90 tahun lalu.

Filsuf Tiongkok (Disebut Filsuf Timur) Lao Tsu mengatakan "pikiran akan menjadi takdirmu". Ratusan tahun sebelum Masehi, ia mengatakan pemikiran melahirkan kata-kata. Dari kata-kata menjadi tindakan, dari tindakan jadi kebiasaan dan dari kebiasaan menjadi karakter. Dan karakter menjadi takdir.

Pada debat sesi kedua atau sesi akhir Pilkada Padangpariaman yang diselenggarakan oleh KPU Padangpariaman yang dipublish oleh I News TV Padang, gambaran pemikiran dari ketiga pasangan calon terlihat berbeda dengan debat sisi pertama yang saat itu para paslon terlihat "terlampau" hati-hati dan "takut salah". Akibatnya, orisinil cara berpikirnya terlihat agak "dimanipulasi".

Pada debat sesi akhir, para paslon terlihat lepas. Tidak tegang. Apa yang mereka ucapkan adalah gambaran dari hasil pemikirannya. Berbobot tidaknya lisan yang mereka keluarkan itulah mereka sebenarnya. Masyarakat akan menilai siapa di antara para calon yang berpikir progresif untuk Padangpariaman 5 tahun ke depan, dan siapa paslon yang sekadar "hanya ingin menyudahi debat dengan jawaban".

Malam debat yang menitikberatkan pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan sosial dengan segala penguraiannya, masih menyinggung masalah klasik ketimpangan pembangunan Padangpariaman bagian utara dan Padangpariaman bagian selatan. Dari dulu, isu tersebut selalu diangkat meski hingga saat ini jelas benar belum ada hasil kongkrit menjawab isu ketimpangan pembangunan utara selatan itu. Juga belum ada alat ukur yang jelas disampaikan dalam hal apa ketimpangan tersebut. Sisi infrastruktur kah atau sisi sumber daya manusianya?

Dari sisi redaksional kami melihat pada debat, para paslon begitu susahnya menjabarkan program peningkatan PDRB Padangpariaman karena waktu untuk menjawab pertanyaan tersebut tidak bisa dijawabnya secara ringkat.

Waktu yang diberikan panitia bagi paslon hanya satu menit saja - dan parahnya diikuti dua tanggapan paslon lain yang harus mereka jawab. Manajemen waktu yang diberikan sedikit "menyiksa" para calon. Ada aura kekesalan masalah minimnya waktu menjawab tersebut oleh satu - dua orang kandidat.

Kemudian ada debat kecil antara paslon 01 dan 02 terkait panjang garis pantai Padangpariaman. Paslon 02 menyebut 60-an km dan paslon 01 menyebut 40-an sisanya milik kota Pariaman. Menurut Wikipedia, panjang garis pantai Padangpariaman adalah 60,5 km dengan luas wilayah Padangpariaman secara keseluruhan 1.328,79 kilometer persegi.

Pembedahan program kongkrit oleh masing-masing paslon jangan diharapkan pada malam debat tersebut karena ruang untuk itu "sangat tidak tersedia". Para paslon juga terlihat "berupaya menghindari" pertikaian - yang meibatkan emosi - sebagaimana terjadi pada sesi pertama debat.

Debat sesi akhir hanya bisa dinilai dari sisi kefilsafatan tapi tidak dari sisi keawaman. Namun beruntunglah warga Padangpariaman adalah para filsuf-filsuf yang "belum dicatatkan sejarah". Alun takilek alah takalam

 Semoga warga Padangpariaman dianugerahi pemimpin yang mampu membawa mereka pada kesejahteraan, beadab tinggi dalam kaedah Islami dan menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0. (Redaksi)