Ada yang Merasakan Cuaca Panas? Ini Tips dari Dinkes Pariaman

Foto: istimewa
Pariaman - Cuaca panas di sejumlah wilayah Sumatera Barat terasa cukup menyengat. Ketika diukur dengan aplikasi cuaca, suhu udara di Pariaman berkisar di 25-32 derajat celcius, Minggu (1/3).

Mengingat kondisi suhu udara tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman, Syahrul menyarankan agar masyarakat perbanyak mengasup cairan agar terhindar dari dehidrasi.

"Masyarakat perlu meningkatkan asupan cairan. Perbanyak minum air putih, kurangi kegiatan di luar rumah," kata dia di Pariman, Sabtu (29/2).

Ia mengimbau warga Pariaman agar mewaspadai kondisi anomali cuaca - dimana perubahan kondisi cuaca bisa berubah secara signifikan.

Syahrul juga mengajak masyarakat agar menerapkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) terutama tidak merokok.

"Kalau ada gejala demam akibat cuaca panas agar segera berobat ke puskesmas atau rumah sakit," kata dia.

Namun demikian, menurut dia, hingga saat ini belum ada satu pun kasus dehidrasi pada masyarakat yang tercatat di dinasnya.

"Kita sudah imbau kepada 7 puskesmas, 1 rumah sakit, 3 rumah sakit swasta untuk siap selalu menghadapi situasi apapun," ucapnya.

Sebagai langkah antisipasi dari dehidrasi, ia meminta masyarakat selain perbanyak mengonsumsi buah yang banyak mengandung air, juga istirahat yang cukup. Jika kalau perlu gunakan masker, jaket atau payung bila keluar ruangan.

"Juga disarankan memakai krim pelindung kulit bila perlu," tandasnya.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi BIM Sumbar, Yudha Nugraha mengatakan kenaikan suhu cuaca panas sudah berlangsung sejak seminggu lalu dan diprediksi masih berlangsung hingga beberapa hari ke depan.

Pihaknya mencatat suhu udara sejak seminggu terakhir berkisar antara 27 hingga 30 derajat celsius di siang hari. Tingkat kelembaban udara pada siang hari juga meningkat mencapai 75 hingga 95 persen.

"Kondisi panas terik ini disebabkan adanya pergerakan awan menuju selatan Padang atau arah ke Pulau Jawa. Hal itu menyebabkan di atas Kota Padang tidak terlindungi awan sehingga sinar matahari langsung ke bumi," kata Yudha. (Juned/OLP)