Bursa Pilkada Padangpariaman: Mengenal Lebih Dekat Kompol Maymuspi 'Polisi Niniak Mamak'

Kompol Maymuspi, SE, MM bersama istri tercintanya. Foto: Istimewa
Komisaris Polisi (Kompol) Maymuspi merupakan salah satu nama yang santer disebut akan maju dalam bursa Pilkada Padangpariaman 2020. Putra Kampung Dalam itu dikenal luas di Padangpariaman dari berbagai kalangan dan tingkatan masyarakat. Di samping menunaikan tugasnya di kepolisian, Maymuspi juga memimpin sejumlah organisasi olahraga dan hobi yang sukses.

Pria kelahiran 1962 yang bertugas di Polda Sumbar ini dikenal sebagai polisi "niniak mamak" rang Piaman. Maymuspi mengatakan sejauh ini dirinya mendapat sambutan positif dari masyarakat saat ia terus terang menyampaikan niatnya akan maju sebagai calon pemimpin di Padangpariaman.

"Sejauh ini sambutan tokoh masyarakat positif karena sehari-hari saya selalu menjalin komunikasi dengan mereka, bukan hanya jelang Pilkada. Memang ada beberapa tokoh yang belum saya kabari secara langsung," kata ketua PORBI Padangpariaman ini di Pariaman, Rabu (21/8).

Maymuspi mengatakan Padangpariaman butuh sosok pemimpin yang selain membumi juga mampu menarik investor untuk membangun Padangpariaman. Tanah kelahirannya yang minim PAD dan APBD itu, butuh sosok pemimpin yang mampu berakselerasi dan punya visi benderang menatap masa depan.

Oleh sebab itu, ketua Askab Sepakbola (ekuivalen PSSI Padangpariaman) yang menyumbangkan medali emas di Porprov 2018 lalu itu berharap berpasangan dengan tokoh yang satu visi dengannya.

"Sejauh ini sudah ada beberapa bakal calon yang mengajak berpasangan. Namun tentu kita tidak boleh sembarangan menjatuhkan pilihan. Kita maju bukan untuk mengejar jabatan, untuk itu perlu penyamaan visi dan cita-cita untuk Padangpariaman ke depan," kata mantan pesepakbola Persepar angkatan 80-an ini.

Maymuspi mengaku ingin mengabdikan sisa umurnya bagi Padangpariaman. Ia akan total mencurahkan pikiran dan tenaganya demi kemajuan Padangpariaman jika ia menerima amanah dari rakyat memimpin Padangpariaman.

Mantan Kapolsek Sungai Limau dan Pauhkambar yang melegenda di dua wilayah itu, dikenal luas sebagai polisi yang menerapkan cara-cara persuasif dalam menangani berbagai perkara hukum. Berbagai pertikaian di masyarakat acapkali ia selesaikan dengan cara musyawarah. Cara-cara menghukum bukan style dari pria yang memiliki nama beken 'Epi Karuik' ini. Ia bahkan tidak pernah melakukan tilang meski pernah tiga tahun menjabat sebagai Kapolpos lalulintas pada 1990-an.

Kecintaannya yang mendalam pada olahraga berburu babi benar-benar diuji saat badia balansa (senjata api tradisional) akan dibatasi bahkan diwacanakan dilarang polisi atas dasar memiliki potensi disalahgunakan.

Membawa aspirasi seluruh muncak, ia ikut menghadiri rapat di Polda Sumbar. Dalam forum itu ia bicara langsung kepada atasannya bahwa badia balansa merupakan senjata tradisi Padangpariaman turun temurun. Badiah balansa diletuskan tidak hanya saat berburu babi tapi juga saat prosesi sakral malewakan gelar datuak.

"Dan sejauh ini belum pernah kejadian badia banlasa disalahgunakan di Padangpariaman. Badia balansa selalu digunakan secara bijaksana. Dan akhirnya, badia balansa yang digunakan untuk berburu, atas pertimbangan kearifan lokal, masih diperbolehkan di Padangpariaman," kata pria yang hobi olahraga offroad dan bermain tenis ini.

Maymuspi - di sela agendanya yang padat di kepolisian - tidak pernah berubah dalam pergaulannya sehari-hari dengan masyarakat. Setidaknya hal itu dikatakan oleh dua orang sejawatnya dari kalangan profesi berbeda.

Samsuardi, seorang guru dan satu angkatan dengannya - mengatakan dari kecil hingga kini kepribadian Maymuspi selalu bersahaja. Ia dikenalnya sebagai sosok ringan tangan dalam membantu orang lain dalam kesusahan meski orang tersebut tidak memiliki hubungan kekerabatan dengannya.

"Ia polisi yang unik di zaman sekarang. Ia menolong orang dengan sukarela bahkan tanpa diminta sekalipun. Dan ia paling pantang diiming-imingi. Ia menolong karena ia ingin menolong bukan untuk mengharapkan sesuatu. Tak heran ia memiliki banyak kawan di mana-mana," kata dia.

Zulbahri, pengacara kondang di Pariaman dan Padangpariaman, memuji Maymuspi memiliki benih ciri seorang pemimpin. Meski seorang pejabat di kepolisian, kata Zulbahri, ia berpenampilan sebaliknya. Maymuspi yang dikenalnya suka bicara apa adanya merupakan orang yang terbuka menerima kritikan meski daripada juniornya.

"Jika, ia nilai itu benar ia pasti menerimanya. Ia tidak egois dan tinggi hati. Kalau untuk modal elektoral, dengan popularitas dan  aksesnya ke masyarakat yang luas, sudah menjadi modal dasar yang kuat baginya untuk ikut bertarung di Pilkada Padangpariaman nanti," kata Zulbahri.

Meski bukan orang yang sehari-hari berkecimpung di dunia politik, Maymuspi memiliki padangan rasional terhadap politik. Buktinya Maymuspi tidak mau gegabah melangkah sebelum ia menguji tingkat keterpilihannya di masyarakat.

Menggandeng lembaga konsultan politik, Maymuspi mengeruk dalam kantongnya untuk melakukan survey tingkat keterpilihan. Ia bahkan meminta lembaga bersewa mahal itu untuk tidak memihak ke dirinya selaku konsumen. Apa pun hasilnya akan ia terima, termasuk saran-saran dari konsultan akan apa yang harus ia lakukan ke depannya.

Maymuspi jauh dari kesan tidak serius mengahadang pertarungan sengit Pilkada Padangpariaman 2020 yang telah memunculkan sejumlah nama tokoh lainnya ke permukaan. (OLP)