Trik Selusin Juara Bertahan di Singasana Mangguang

Suasana Paripurna di DPRD Kota Pariaman, Mangguang. Foto: istimewa
Tadi pagi dering HP bikin kaget. Jangankan sarapan, cuci muka dan gosok gigi pun belum. Mata masih berat. Ingin rasanya saya bangun pukul sepuluh. Dengan malas sangat saya angkat itu telepon.

"Bang! Itu benar anggota dewan kota (DPRD Kota Pariaman) ada lebih sepuluh incumben duduk," tanpa basa-basi di seberang telepon.

Saya mencoba mengingat-ingat suara siapa gerangan. Nomor HP-nya tidak bernama. Untung saja dia tak henti bicara - sehingga saya mengenali juga suaranya.

"Benar. Kemungkinan dua belas orang. Nomor HP baru ya?" saya balik bertanya.

"Iya bang. Kok bisa sebanyak itu duduk bang. Fenomena apa itu," gencar kali ia bertanya.

Obrolan di seluler itu berlangsung sekitar lima menit. Saya menjawab sewajarnya. Menguraikan sekenanya. Ngopi saja belum! Otak masih loading..

DPRD Kota Pariaman hanya memiliki dua puluh kursi. Jika ada dua belas incumben berhasil mempertahankan kursi berharga mahal itu, maka ada enam puluh persen muka lama kembali berkantor di sana. Ini sebuah fenomena baru. Pada pemilu 2014 silam, tidak sampai dua puluh lima persen incumben bertahan. Sekarang enam puluh persen. Sebuah lompatan. Eskalasi yang besar.

Habis magrib tadi, topik tersebut saya angkat di palanta kedai kopi. Beragam pendapat keluar plus dengan analisanya oleh para pakar-pakaran.

Analisanya begini. Menurut mereka, masyarakat Pariaman sudah bosan bongkar pasang anggota dewan. Di samping itu, para legislatif juga sudah mulai mendapatkan kepercayaan dari masyarakat di daerah pemilihannya. Hal tersebut juga didukung dengan dana pokok pikiran dewan yang sampai ke sasaran.

"Masyarakat selaku pemilih sekaligus penghukum bagi anggota dewan yang mereka anggap gagal memperjuangkan aspirasinya. Memang faktor politik uang juga sangat menentukan, tapi jika tak dibarengi dengan kinerja bagus, uang mereka ambil, mereka pilih yang lain," sebut si teman berambut jarang. Saking jarang rambutnya, ia selalu menyisirnya dengan hati-hati. Bak menghitung duit.

Ia menilai para anggota dewan juga telah mulai belajar dan menyadari arti investasi dalam politik. Investasi politik kata mereka adalah orang dan menjaga image diri (Jaim) agar tetap selalu positif. Merawat konstituen dengan hati-hati, di samping menyemai bibit-bibit konstituen baru.

Incumben kikir dan menghindar dari masyarakat akan dihukum di hari penghakiman 17 April itu. Begitu juga dengan incumben yang terlalu percaya diri yang membuatnya lalai merawat basis massanya.

"Pemilu tinggal menghitung hari mereka masih ke Jawa. Ya diambil orang lah suaranya. Para caleg kan saling mengintai basis lawan," sambungnya. "Sruupp.." terdengar suara kopi melewati tenggorokannya.

Analisa mereka memang sederhana dan tidak bertele-tela bak para akademisi membabarkan teori. Ringkas padat dan mengena sesuai dengan kultur masyarakat Pariaman.

Pileg 17 April kemarin itu memang meninggalkan banyak catatan. Masih banyak ditemukan konstituen abal-abal alias para pemburu uang tunai. Mengelabui para caleg dengan secarik kertas daftar nama berharga sekian per kepala. Mereka lolos dari pantauan pengawas pemilu yang gencar "razia serangan fajar". 


Mereka ibarat angin. Terasa tapi tak terlihat. Saking beranginnya, habis pileg mereka menghilang tak terlihat saat dicari caleg yang terlanjur menitip angpao kepadanya - tapi nihil suara. (OLP)