[HUMANIORA] Belajar Menyayangi Ibu dari Pedagang Lapiak Pandan Nyentrik

Budiman selalu semangat di setiap saat. Foto: Desi
"Lapiak pandan telah datang di sore hari - ada besar ada kecil serta yang halus - jauh-jauh dibawa dari Sunur ke Kota Pariaman dengan sepenuh hati dan keyakinan - bisa laris dan habis”

Itulah sebait lirik lagu yang selalu dinyanyikan oleh Budiman Syahputra guna menarik konsumen untuk membeli barang dagangannya.

Dengan bermodalkan sebuah sepeda untuk berkeliling Kota Pariaman, anak keenam dari tujuh bersaudara ini menjajakan dagangannya berupa tikar yang terbuat dari daun pandan yang sudah dianyam.

Lajang nyentrik ini juga selalu tampil dengan memakai kacamata berwarna biru tua yang menjadi ciri khasnya sehari-hari dalam berjualan.

Budiman Syahputra mengatakan setiap harinya berjualan sore hari dimulai pukul 16.00 Wib sampai selesai menjelang magrib datang. Tikar pandan yang dijualnya atau yang lebih dikenal dengan sebutan Lapiak Pandan ini diambil dari para pengrajin yang ada di Desa Pasir Sunur, Kecamatan Pariaman Selatan.

Setiap harinya Budiman Syahputra mengambil enam helai Lapiak Pandan dari para pengrajin untuk dibawa berjualan keliling dengan harapan dagangannya terjual habis seluruhnya.

"Keuntungan didapat dari potongan hasil penjualan itu bisa diberikan kepada ibu sebagian untuk menambah biaya kebutuhan rumah tangga sehari-hari dan sebagian lagi uangnya saya tabung untuk kebutuhan diri saya sendiri,” ungkapnya di Pariaman, Selasa lalu (26/3).

Harga lapiak pandan yang dijualnya ke konsumen berkisar Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per helainya. Dari hasil potongan jualan lapiak pandan itu Budiman bisa menerima setiap harinya rata-rata Rp 30.000 jika lapiak pandan itu habis terjual semuanya.

Saat ini Budiman tinggal bersama dengan ibunya yang juga pengrajin anyaman lapiak pandan. Ibu Budiman bekerja menerima upah setelah ayahnya meninggal saat Budiman berumur dua tahun. Kegiatan Budiman sehari-hari saat ini sebelum berjualan di sore harinya, belajar di Balai Latihan Kerja mengambil jurusan keterampilan audio visual.

Budiman berharap ibu yang dicintainya selalu diberikan kesehatan oleh Tuhan sehingga ia bisa membahagiakan dan membantu ibunya dengan hasil jerih payahnya sendiri.

"Saya berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa belajar di Balai Latihan Kerja," katanya. (Desi)