Batagak Kudo Kudo di Sikucua Barat: Sepenggal Hari Terkumpul Dana 120 Juta

Ketua KNPI Muhammad Ikhbal (kiri), Walinagari Rafii (dua dari kanan) dan Ketua KONI Aprinaldi foto bersama di acara Batagak Kudo Kudo Masjid Nurul Falah. Foto: OLP
Sikucua - Tradisi Batagak Kudo Kudo masih erat dipegang olah masyarakat Sikucua Barat. Hal itu terlihat saat acara Batagak Kudo Kudo Masjid Nurul Falah di Korong Marunggai, Nagari Sikucua Barat, Kecamatan Kampung Dalam, Padangpariaman, Kamis (27/2).

Walinagari Sikucua Barat, Rafii mengatakan acara menghimpun dana untuk pembangunan masjid tersebut, digelar selama dua hari. Selama dua hari itu pula antusiasme masyarakat terlihat.

"Hari pertama kita gelar acara berburu babi. Hari ini (Kamis) Batagak Kudo Kudo. Semua masyarakat ranah dan rantau ikut berpartisipasi," kata Rafii.

Sepenggal hari Batagak Kudo Kudo Masjid saja, imbuh Rafii telah terkumpul dana sebesar Rp120 juta. Menurutnya hingga penutupan acara badoncek pada malam hari, ia perkirakan akan terkumpul dana sekitar Rp200 juta.

Acara Batagak Kudo Kudo di Sikucua Barat tidak terbatas untuk pembangunan masjid saja. Menurut Rafii, pembangunan rumah warga, posko pemuda, balairung, pandam pakuburan, menghimpun dana dengan badoncek juga dihelat.

"Ini bentuk gotong royong warga. Tidak hanya kami di ranah yang kita undang, perantau juga kita undang. Mereka ikut menyumbang. Jika tidak datang, umpamo datang (mengirim uang)," jelasnya.

Ketua KNPI Padangpariaman, Muhammad Ikhbal dan Ketua KONI Padangpariaman Aprinaldi ikut hadir di acara Batagak Kudo Kudo Masjid Nurul Falah.

Ikhbal mengatakan, budaya badoncek atau gotong royong masyarakat dalam menghimpun dana, bukti eratnya hubungan kekerabatan masyarakat Padangpariaman. Tradisi tersebut bahkan juga dilaksanakan oleh para perantau di luar Padangpariaman.

"Kita bisa lihat PKDP di seluruh Indonesia bahkan hingga luar negeri. Budaya badonceknya tetap aktif," kata putra pertama Bupati Padangpariaman Ali Mukhni itu.

Budaya badoncek menurut Ikhbal salah satu alat pengikat bagi masyarakat Padangpariaman di manapun mereka berada. Buah dari kekompakan masyarakat tersebut sehingga menumbuhkan kecintaan perantau pada kampung halamannya.

"Selain melestarikan kearifan lokal, badantam atau badoncek adalah budaya luhur kegotongroyongan masyarakat Padangpariaman. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, demikian filosofinya," imbuh Caleg dari Partai PAN Sumbar itu.

Ikatan ranah dan rantau juga berkembang hingga ikut berpartisipasi dalam membangun daerah. Masukan dan inisiatif para perantau acapkali direalisasikan oleh Pemerintah Daerah menjadi program pembangunan yang anggarannya bersumber dari APBD.

"Budaya atau kearifan lokal seperti ini harus terus kita pupuk dan tembuh kembangkan," kata Ikhbal.

Ketua KONI Padangpariaman yang juga putra asli Kampung Dalam, Aprinaldi mengatakan salah satu kekuatan masyarakat Padangpariaman di perantauan adalah dengan membawa kearifan lokalnya di perantauan.

Budaya badoncek atau badantam yang juga dilakukan oleh warga Padangpariaman di perantauan menjadikan paguyuban PKDP memiliki nilai lebih di wilayah mereka tinggal. Mereka punya nilai tawar tinggi dalam berbagai aspek, seperti aspek sosial dan aspek politik.

Dalam aspek sosial Aprinaldi mencontohkan di beberapa daerah perantauan berdiri lembaga pendidikan yang dikelola oleh yayasan di bawah naungan PKDP.

"Sehingga pemerintah daerah setempatnya memberi perhatian karena PKDP ikut melibatkan diri menyokong pembangunan di daerah tersebut," kata Caleg PAN Padangpariaman ini.

Tokoh olahraga Sumbar ini juga mengatakan dari sisi aspek politik. Perantau Padangpariaman yang bernaung di PKDP dengan kekompakannya juga punya bargaining tinggi di politik elektoral. Sehingga elit politik setempat akan berupaya mendekatkan diri.

"Bahkan sudah berapa banyak putra Padangpariaman yang didukung PKDP lolos mendapatkan kursi anggota DPRD. Karena itu, kekompakan yang sudah menjadi tradisi masyarakat Padangpariaman di manapaun mereka berada perlu terus dipupuk agar tetap subur," pungkasnya. (OLP)