Ekslusif dengan Kivlan Zein: Kader dan Keturunan PKI Kumpul Kembali Galang Kekuatan Politik

Foto: Nanda
Padang - Mantan Kepala Staf Komando Satuan Angkatan Darat (Kostrad), Mayjend TNI (Pun) Kivlan Zein menyebut, jika organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memberontak pada tahun 1965, kembali bangkit.

"Kader dan keturunan PKI itu berkumpul kembali. Paska 1965 jaringan tersebut terputus karena dihancurkan masyarakat, tentara dan Komkamtib. Namun paska reformasi jaringan mulai dikumpulkan kembali oleh salah seorang anak tokoh PKI dari Solo," kata dia saat diwawancarai wartawan Pariamantoday.com di Padang, Jumaat (24/1). 

Pernyataan tentang kebangkitan PKI bukanlah isapan jembol belaka. Kivlan yang merupakan pemegang baret merah Koppasus ini mengaku memiliki segudang data tentang hal tersebut. Bersama pasukannya, Kivlan tetap memantau gerakan kelompok tersebut.

"Kebangkitan PKI gaya baru dipimpin oleh Wahyu Setiaji. Dia adalah anak dari kader PKI, Lukman Njoto atau Njoto. Kala itu, Njoto menjabat sebagai wakil ketua CC PKI dan dikenal dekat dengan D.N Aidit," ujarnya.

Di bawah kepemimpinan Wahyu Setiaji, lanjut dia pernah melaksanakan Kongres di Grabak, Megelang pada tahun 2010. Dari kongres itu terbentuk AD/ART partai. Tidak hanya itu, hingga saat ini kepengurusan PKI telah terstruktur dari pusat hingga tingkat kecamatan. 

"Mereka juga telah menyiapkan 15 ribu pendukung. Mereka sering melakukan pertemuan dan simponsium," ulasnya.

Gerakan PKI saat ini mulai masuk sistim. Kader PKI menyusup ke sejumlah partai politik dan ada yang duduk di parlemen. Jika bisa menguasai MPR, 50 persen tambah 1 orang, kader PKI yang berhasil memasuki parlemen bisa mencabut TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1996 tahun 1996 tentang Pembubaran PKI, dicabut.

"Jika orang PKI menguasai parlemen, mereka bisa mencabut TAP MPRS itu. Artinya mereka tidak lagi terlarang dan bisa menjadi peserta pemilu lagi," kata dia.

Menurutnya, kebangkitan PKI juga terlihat dari kejadian pengibaran bendera dan lambang PKI di sejumlah daerah seperti di Jember, Sampang Madura dan Payakumbuh Sumatera Barat beberapa tahun yang lalu.

Belum lagi penemuan buku bertemakan komunis di sejumlah daerah, termasuk di Kota Padang yang disebut bertemakan paham komunis dan organisasi PKI.

"Mereka (kader dan anak keturunan PKI) menyebut dirinya sebagai korban. Mereka bahkan menuntut pemerintah untuk meminta maaf kepada mereka, rehabilitasi mereka dan membayar kompensasi di sidang IPT yang mereka buat. Padahal jika dikaji sejarah tahun 1965 itu, banyak ulama dan tentara yang menjadi korban PKI," lanjutnya.

Dikatakannya, meski pemberontakan yang dilakukan oleh PKI pada tahun 1965 gagal, sejumlah petinggi PKI diekskusi mati dan pengurus lainnya ditahan, gerakan PKI tetap ada. Kader dan anak keturunan PKI di Indonesia dibina oleh salah seorang pendukung komunis asal Amerika Serikat, Ben Anderson dan istrinya, Mcvey.

"Mereka dibina, mereka masih ada dan saat ini mulai bangkit," ulasnya.

Di akhir perbincangan, Kivlan mengimbau pemerintah, ulama dan umat Islam, TNI bersatu melawan komunis. Jika tidak, PKI akan menguasai NKRI. Ulama, pemerintah dan TNI mengokohkan idiologi Pancasila dan bersama-sama mengawasi perkembangan PKI.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu menegaskan, tidak boleh ada lagi paham komunis di Indonesia pasca PKI pada 1965 lalu. Seperti yang diberitakan Viva.co.id pada 24 Januari 2019, Menhan mensinyalir kini ada lagi pergerakan-pergerakan komunis.

Sementara itu, Ketua Gerakan Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) Sumatera Barat, Jelita Donal mengatakan indikasi kebangkitan komunis jangan disepelekan. 

Ia meminta masyarakat mempersempit ruang gerak pendukung PKI dengan menghambat kegiatan yang dibuat. Selain itu, upaya politik perlu dilakukan pada pemilu 2019 ini dengan memastikan wakil rakyat yang dipilih pada pemilu, tidak memiliki kaitan dengan PKI.

"Sudah banyak kejadian yang mengindikasikan kebangkitan PKI.Ulama, TNI adalah lawannya komunis. Mencegah paham komunis, masyarakat harus memperkuat pemahaman idiologi Pancasila," pungkasnya. (Nanda)