Batajau, Cara Seniman Piaman Satukan Kota dan Kabupaten dalam Bingkai Budaya

Foto: istimewa
Pariaman — Pagelaran Batajau Seni yang sudah lama diidamkan oleh para penggerak sanggar seni tradisi di Pariaman dan Padangpariaman akhirnya digelar pada 30 Desember 2018 lalu.

Acara berjalan dengan sukses meski diwarnai hujan khas desemberan. Stage manager acara Wendy mengatakan, secara keseluruhan acara seni rang Piaman itu berjalan sesuai dengan agenda. 


“Penampil telah tampil dengan baik dan memukau. Masyarakat juga antusias walau beberapa kali hujan mewarnai, tapi lokasi kita tak pernah sepi,” katanya di Pariaman, Rabu (2/1).

Koordinator acara Sanadi menyebut acara itu dilangsungkan untuk menyatukan seniman Piaman. Kota Pariaman dan Kabupaten Padangpariaman meski sudah dipisahkan secara politik dan administrasi, bukan berarti secara kebudayaan terpisah.

"Acara ini adalah sebagai bentuk penolakan atau upaya untuk menampik bahwa Piaman telah terpecah pula secara kebudayaan. Dalam hal budaya, kita tetap satu. Satu sebagai Piaman,” sebutnya.

Menurut Sanadi, sejumlah karya telah dipentaskan malam itu. Setiap karya adalah bentuk karya inovasi berbasis tradisi, perpaduan yang apik antara ide para seniman dengan bentuk asli tradisi yang diwariskan nenek moyang mereka.

Sanggar Bundo Kanduang misalnya, malam itu menampilkan suguhan musik yang bernuansa balads rock, tapi dibalut dengan warna musik Minang yang kental.

Begitu juga Sanggar Darak Badarak yang identik dengan kekuatan perkusinya pun menyuguhkan inovasi yang berangkat dari permainan tambua dan talempong. Suguhan terlihat menonjol lantaran jumlah personal yang terlibat membuatnya terlihat kolosal.

"Jamak diketahui, Darak Badarak adalah sanggar yang sudah malang melintang di panggung nasional dan internasional," ujarnya.

Sedangkan Sanggar Umbuik Mudo mempersembahkan olahan pertunjukan tari yang berangkat dari gerakan indang. Binuang Sati malam itu juga mempersembahkan tarian, namun kelompok dari Tandikek ini mempertunjukkan kebolehan permainan legaran randai yang relatif tampak baru dari yang sudah-sudah.

Malam itu juga tampil Sanggar Bu Dewi Production yang menawarkan  perpaduan tarian dan musik. Lagi-lagi sanggar ini berangkat dengan kekayaan seni Piaman, termasuk uluambek yang legendaris.

Sementara sanggar Durga selaku tuan rumah, menampilkan olahan Gandang Tasa dengan suguhan yang lain dari biasa. Jika biasanya gandang tasa hanya sebuah permainan musik dengan sedikit gerak, Sanggar Durga memperlihatkan bahwa gerakan yang tertata juga dapat membuat permainan tasa mereka semakin menarik.

Sanggar Rangkiang Palito memanjakan penonton lewat suguhan tari yang memperlihatkan permainan indang dengan kegembiraan yang diluapkan lewat gerak menarik.

Malam itu para penampil atraksinya sangat apik dan menarik. Garapan-garapan seperti, kata peneliti sekaligus pengajar seni di ISI Padangpanjang, Syahrul, perlu mendapat tempat. Batajau adalah tempat yang tepat yang ia harapkan dapat terus dilanjutkan hingga ke panggung nasional hingga internasional.

Kreator musik kontemporer berbasis tradisi Piaman, Susandra Jaya berharap iven Batajau terus digerakkan untuk mengedukasi generasi muda akan kekayaan seni Piaman.

“Ini adalah sebentuk wadah bagi pengembangan industri kreatif. Selanjutnya diharapkan akan digelar pula diskusi dan berbagai workshop bersama dengan wadah yang sudah ada ini,” katanya.

Usai berbagai pertunjukan digelar, di ruang khusus, para penggerak sanggar berapresiasi dengan menyaksikan pertunjukan Silek Sunua bersama-sama.

Meski sanggar yang tampil hanya beberapa sanggar, namun total seluruh sanggar yang turut mendukung kegiatan mencapai 19 sanggar dan kelompok manajemen seni. Hal ini membuktikan bahwa insan seni Piaman sudah mulai bersatu, saling dukung satu dengan yang lain demi kemajuan bersama. (*)