Terus Diserang Hoaks dan Kampanye Hitam, Genius-Mardison Angkat Bicara

Debat akhir Pilkada Pariaman kesempatan bagi Genius dan Mardison menjawab serangan kampanye hitam terhadap dirinya. Foto/istimewa
Pariaman ----- Pasangan calon walikota dan wakil walikota Pariaman nomor urut 3 Genius Umar dan Mardison Mahyuddin akhirnya angkat bicara terkait kampanye hitam yang diarahkan kepada mereka.

Isu dan tudingan korupsi dalam pembangunan SMK Global dikaitkan dengan Genius Umar, hingga hilangnya aset di rumah dinas Ketua DPRD Kota Pariaman oleh Mardison Mahyuddin, akhirnya diklarifikasi. Klarifikasi dilakukan pada debat publik sesi kedua di Aula Kampus STIE Sumbar pada Sabtu (23/6) malam.

Genius Umar mengatakan, penyebaran kampanye hitam yang diarahkan paslon Genius-Mardison, menandakan pelaku merupakan kelompok aliran politik "Marchiavellian”. Menghalalkan segala cara meraih dan mempertahankan kekuasaan, salah satunya dengan cara menyebar kampanye hitam, ciri dari aliran tersebut.

Terkait permasalahan pembangunan SMK Global yang dihembuskan pada momen Pilkada, dipastikan adalah upaya merusak elektabilitas paslon Genius-Mardison pada Pilkada Kota Pariaman. Ditegaskannya, pembangunan SMK Global cikalnya dirintis oleh Yayasan Genius Global. Gayung bersambut, pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI memiliki program Unit Sekolah Baru. Tanah yang telah disediakan pihak yayasan, akhirnya dibangun.

"Pendirian yayasan tersebut, tidak terlepas dari kepedulian keluarga besar kami terhadap pendidikan, khususnya menunjung sektor wisata di Kota Pariaman. Pembangunan sekolah ini tidak melibatkan pihak yayasan, apalagi saya. Pembangunan ini murni dilakukan oleh pihak komite sekolah, dananya pun langsung dari rekening kementerian. Bahkan, uang pribadi saya setiap bulan saya keluarkan untuk membantu subsidi membayar uang SPP siswa yang bersekolah di sana," terangnya.

Genius Umar juga mempertanyakan pembangunan SMK Global yang disebut-sebut pihak penyebar isu telah terjadi tindakan korupsi. Padahal, kata dia, pembangunan yang dilakukan antara pihak komite sekolah dan kementerian telah diaudit BPK RI dan juga diresmikan menteri pendidikan dan kebudayaan RI, Muhajir Efendi kala itu.

Genius Umar yang saat ini kembali melaksanakan aktivitasnya sebagai wakil walikota Pariaman, menyebut isu "black campaign" yang diarahkan kepadanya tidak akan mempengaruhi pilihan politik pemilih kota Pariaman kepada paslon Genius-Mardison.
Pergeseran menjadi pemilih yang cerdas membuat warga Kota Pariaman yang memiliki hak pilih malah tidak meladeni konten informasi hoaks tersebut. Ia juga mengatakan, meski diserang, pihaknya tidak akan membalas. Anjuran dan penekanan politik santun, beretika diminta untuk diterapkan oleh seluruh tim dan relawan.

"Kita minta tim untuk tidak reaktif terhadap isu yang disebar. Kita masih memiliki Tuhan, jika mereka makin menyerang, makin menzalimi, makin kecil peluang mereka untuk menang. Yang penting kita lakukan pada saat tahapan kampanye adalah menyampaikan visi dan misi, program dan profil pasangan. Tidak perlu melakukan pembusukan politik terhadap calon lain," ujarnya.

Sementara itu, calon wakil walikota Pariaman, Mardison Mahyuddin juga mengklarifikasi tudingan hilangnya aset di rumah dinas Ketua DPRD Kota Pariaman yang dikaitan dengan dirinya. Permasalahan yang terjadi hanyalah kesalahan administrasi pencatatan, tidak dilabel dan teregistrasi. Dikatakannya, berdasarkan temuan BPK tersebut, kehilangnya yang terjadi  pada tahun 2013, 2014 dan 2015. Sementara, Mardison Mahyuddin menempati rumah dinas pada awal tahun 2016 silam.

Dikatakan Mardison, tudingan kampanye negatif kepada dirinya dengan menyebut kehilangan aset didasarkan temuan BPK RI, adalah suatu keanehan. Padahal, kata dia, Kota Pariaman mendapatkan prediket Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK Perwakilan Sumatera Barat.

Jika memang benar, kata dia, hasil audit dan pemberian prediket WTP Kota Pariaman, patut diragukan.

"Tidak ada kaitan saya dengan hilangnya aset itu. Inilah yang harus saya jelaskan pada saat debat tadi," pungkasnya. (Nanda)