[Pilwako Pariaman] Disukai Tapi Tidak Dipilih

Kertas suara Pilwako Pariaman 2013 lalu. Foto/istimewa
Demokrasi dan pendidikan politik di kota Pariaman titi tangga kedewasaan. Pilwako Pariaman yang akan dihelat Juni 2018, disikapi dengan arif oleh masyarakat. Keterlibatan masyarakat dalam Pilwako saat ini juga di tatanan para elitis saja. Masyarakat lebih banyak menunggu dan mengamati kualitas masing-masing kandidat.

Jika ditelusuri dari dua pilwako yang digelar pada tahun 2013 dan 2008, dapat kita lihat euforia warga dalam pilkada kian berkurang. Berkurangnya euforia tersebut bukan berarti apatisme masyarakat terhadap pilwako.

Realistis dalam menentukan pilihan, syarat mutlak terlahirnya pemimpin yang berkualitas bagi suatu daerah. Calon pemimpin baru akan dipilih masyarakat jika ia mampu meyakinkan para pemilihnya. Dalam hal meyakinkan pemilih tersebut---dalam hal ini masyarakat selaku pemilih---akan melihat dan menguliti setiap kandidat yang sudah mengapung namanya.

Terkenal, disukai saja, belum tentu dipilih. Urusan keyakinan letaknya lebih jauh dari sekedar dua kanal tersebut. Keyakinan erat kaitannya dengan hati. Ada kalanya orang disukai karena kebaikannya, namun di dalam hati masyarakat belum yakin ia mampu memimpin. Orang yang disukai dan tidak akan dipilih tetap diterima oleh masyarakat dengan senang hati. Hal ini terkadang tidak banyak disadari oleh bakalan calon, ia disukai, ia yakin dipilih.

Menjadi orang yang diyakini, butuh suatu proses. Butuh pembuktian. Keyakinan bukan sesuatu yang bisa dibuat-buat dan bersifat instan. Terkadang, kandidat yang ia pilih tidak ia sukai secara pribadi, namun meyakini calon tersebut adalah pemimpin yang hebat di bangding calon lain.

Contoh nyata memilih berdasar keyakinan, bisa kita lihat pada Pilgub 2005 yang dimenangkan oleh Gamawan Fawzi. Gamawan juga menang di kota Pariaman dimana publik tidak memiliki kedekatan emosianal dengannya saat itu. Yang membuat warga Pariaman memilih dia saat itu: bahwa di antara seluruh calon gubernur saat itu, warga Pariaman yakin Gamawan yang paling pantas memimpin Sumatera Barat.

Keyakinan suatu masyarakat terhadap calon bisa dilihat hasilnya dengan simulasi atau yang lebih dikenal dengan survey. Hasil survey yang benar-benar dilakukan oleh lembaga kredibel akan mendekati hasil nyata tingkat keterpilihan bagi calon tersebut.

Kita bisa lihat saat pilgub DKI putaran kedua. Lembaga survey yang saat putaran pertama seluruhnya menjagokan Ahok, saat survey putaran kedua dilakukan, hasilnya memenangkan Anies dan Sandi yang nyatanya memang menjadi pasangan gubernur wakil gubernur DKI.

Semua lembaga survey yang melakukan survey elektabilitas pada putaran kedua saat itu, seluruhnya memiliki hasil berbeda dari hasil perolehan survey pertama pilkada DKI yang mulanya diikuti oleh tiga pasang calon (AHY). Anies unggul atas Ahok saat laga final head to head. Kemenangan Anies-Sandi sudah diduga dan disimulasikan. Jumlah pemilih Ahok putaran pertama tidak jauh berbeda dengan putaran kedua. Artinya, hampir seluruh suara AHY berpindah ke Anies.

Metode survey semakin mendekati hasil jika sampel yang diambil semakin banyak. Survey tidak hanya konsumsi politik saja. Survey, juga jamak dilakukan terhadap suatu produk. Sebelum produk diluncurkan ke hadapan publik, perusahaan mapan biasanya terlebih dahulu melakukan survey tentang apa yang disukai publik terhadap produk yang akan ia luncurkan. Dari gambaran hasil survey tersebut, perusahaan akan berusaha memenuhi semua unsur yang diingini publik sesuai hasil survey yang telah dilakukan.
 

Survey jelang pilwako Pariaman 2018 sudah dilakukan beberapa tahap. Setahu kami paling tidak sudah tiga kali dan akan masuk periode penentuan Februari hingga April 2018. Bagi calon yang tidak melibatkan lembaga survey untuk mengetahui tingkat elektabilitasnya, tentu saja ibarat berjudi dengan taruhan amat besar dengan hasil yang tidak dapat ia prediksi. (OLP)