[Tajuk] Lebaran = Simulator Wisata Pariaman

Liburan hari raya Idul Fitri 1438 Hijriyah/2017 Masehi, merupakan momentum bagi Kota Pariaman untuk membenahi segala kekurangan dalam pelayanan pariwisata. Dalam keramaian luar biasa tersebut, tentu banyak hal yang menjadi catatan dan bahan evaluasi bagi pemerintah ke depannya.

Jika diibaratkan, lebaran bagaikan alat simulasi bagi calon pilot di atas mesin simulator saat menaik dan menurunkan pesawat. Alat simulator dibuat semirip mungkin dengan suasana dan kondisi pesawat. Mulai dari ketinggian, kecepatan angin, kestabilan pesawat dalam setiap cuaca, hingga perhitungan bangunan-bangunan sekitar bandara saat pesawat didaratkan. Simulator merupakan penentu kesuksesan bagi kelulusan para calon pilot.

Syahdan, demikian pula halnya dengan pelayanan pariwisata. Liburan lebaran semua standar operasional prosedur yang dijalankan oleh pemerintah di bidang pariwisata beserta kaitan lainnya, terlihat memiliki sejumlah kekurangan di samping sejumlah kelebihan. Ramainya kunjungan saat lebaran tentu menjadi alat ukur paling kompatible untuk bahan evaluasi.

Dari sisi parkir, hal ini masalah klasik, masih terlihat belum termanajemen dengan baik, pun begitu dengan kebersihan dan transportasi laut ke pulau. Pengelolaan arus balik dari Pulau Angsoduo perlu dikaji lagi. Harus ada regulasi yang tegas agar penumpang dapat pulang tepat waktu sehingga tidak menumpuk di pulau hingga malam.

Pulau Angsoduo primadona memang. Puluhan ribu wisatawan telah menginjakan kakinya di pulau seluas satu hektar itu selama liburan lebaran 2017. Semua kapal terisi penuh, bahkan ada kapal yang nekat menaikan penumpang melebihi kapasitas tonase. Untung saja alam masih berpihak dan tidak ada kecelakaan berarti yang dialami kapal wisata selama lebaran.

Selain itu, dengan ditemukannya ratusan tiket kadaluarsa menjadi permasalahan tersendiri dalam pengelolaan transportasi ke pulau. Tiket ke pulau retribusi tahun 2016 dijual oleh para oknum yang tentu saja merugikan ke daerah. Retribusi yang seharusnya masuk kas daerah berpindah ke kantong lain.

Tarif parkir meski ada regulasi tertulis, tidak demikian fakta di lapangan. Masih ada pungutan di atas standar kewajaran. Imbauan bayar parkir sesuai nominal dalam spanduk/baliho di berbagai titik area wisata yang dipajang, masih saja tidak dipatuhi oleh sebagian oknum di lapangan. Bahkan, ada pula yang berani merobah tarif parkir, cukup bermodalkan pensil dan pena.

Sejumlah bahan evaluasi di atas harusnya tidak boleh terulang kembali jika pemerintah sangat serius ingin menjadikan daerahnya sebagai destinasi wisata yang membuat nyaman setiap pengunjung. Perihal itu jika terus dibiar, akan berdampak pada citra pariwisata Pariaman secara keseluruhan.

OLP