Kenapa DPRD Beri Tanda "Bintang" Anggaran Masjid Terapung Pariaman?




DPRD Kota Pariaman menyatakan legislatif pada dasarnya setuju saja akan dibangunnya masjid terapung di Pantai Pariaman, asalkan melalui kajian yang matang.

DPRD sendiri sudah mengesahkan anggaran sebesar Rp8 milyar untuk tahap awal pembangunan masjid tersebut pada APBD tahun 2017-- yang sudah disahkan menjadi Perda pada tanggal 30 November 2016 lalu.

Pengesahan anggaran pembangunan masjid terapung, ungkap Ketua DPRD Kota Pariaman Mardison Mahyuddin, di Pariaman, Senin (27/2), disetujui dengan tanda 'bintang'.

"Pemberian tanda bintang untuk anggaran pembangunan tahap awal masjid terapung disebabkan karena pihak eksekutif belum menyelesaikan Amdal dan perencanaan yang komperehensif saat anggaran tersebut akan disahkan," kata Mardison.

Kajian yang dimaksudkan pihaknya sebut Mardison, adalah Amdal, surat pernyataan dari ahli struktur bangunan, ahli gelombang laut dan ahli gempa.

"Sebab pembangunan dilakukan di atas laut tentu harus ada pernyataan ahli-ahli. Jika ahli menyatakan boleh dibangun, silahkan dibangun, bahkan DPRD akan kembali menganggarkannya untuk tahun 2018," sambung Mardison.

Namun jika para ahli menyatakan pembangunan mesjid di atas laut Pariaman membahayakan, imbuh Mardison, DPRD tidak menyetujui pembangunan tersebut meskipun sudah disahkan dalam APBD.

"Maka dari itu jauh hari kita buat kesepakatan dengan pihak eksekutif. Oleh sebab itu anggarannya kita beri tanda bintang," ucapnya.

Terpisah, Wakil Walikota Pariaman Genius Umar sebelumnya menyatakan, pembangunan masjid terapung merupakan visi misi pemerintah daerah

Masjid terapung direncanakan berlokasi bersebelahan dengan Muara Pariaman tepatnya di Pantai Pasir Pauh, Desa Pauh Barat. Kajian perencanaan pembangunan masjid terapung menurutnya sudah dilakukan pihaknya sejak lama.

"Kini kita sedang menyelesaikan Amdalnya, setelahnya langsung dilakukan pembangunan karena anggarannya sudah tersedia," ujar Genius.

Pembangunan masjid terapung sambung Genius, sekaligus simbol bagi Kota Pariaman sebagai destinasi wisata berbasis Islami (religius).
 

Sementara itu warga Desa Pauh Barat, Arlina (52), mendukung langkah pemerintah membangun masjid terapung di desanya. Ia berpendapat keberadaan masjid tersebut nantinya akan mengubah drastis wajah Pariaman.

"Keberadaan masjid terapung membuat Pariaman makin indah, sekaligus simbol wisata Islami di sepanjang Pantai Pariaman," kata dia.
 

OLP