Membesarkan Pariaman Triathlon

Dokumentasi Eva Desiana finish pertama di Triathlon 2015



Pariaman Triathlon untuk pertama kali digelar pada tahun 2014 yang dipusatkan di Pantai Gandoriah Pariaman. Saat itu, menggelar iven olah raga pariwisata (sport-tourism) tingkat internasional di daerah, merupakan langkah berani dan terbilang nekat yang pernah dilakukan. Apalagi Triathlon masih asing di telinga pencinta olahraga di tanah air, apalagi di daerah.

Memperkenalkan apa itu Triathlon kepada publik di Pariaman melalui media saat itu, merupakan PR khusus bagi para wartawan. Sejumlah referensi harus diambil untuk menyajikan informasi seakurat mungkin tentang apa itu olahraga Triathlon, Duathlon, elite (sebutan atlit profesional). Pariaman Triathlon 2014 untuk kelas internasionalnya diikuti oleh kalangan ekspatriat, baru di tahun 2015 masuk para elite-elite kenamaan dari berbagai negara.

Pariaman Triathlon pertama 2014 tidak terlepas dari perjuangan Ketua KONI Kota Pariaman Fitrias Bakar dan Presiden FTI (Federation Triathlon Internasional) Indonesia Mark Sungkar. Perjuangan dua orang ini disambut positif oleh Pemerintah Kota Pariaman dengan semangat. Pariaman Triathlon selanjutnya dijadikan iven sport-tourism tahunan oleh Walikota Pariaman.

Merujuk dari dua kali penyelenggaraan Pariaman Triathlon, ada sejumlah catatan yang terus dievaluasi setiap iven digelar. Khususnya dalam tingkat kunjungan penonton dan kostum atlit wanita. Hal itu dilakukan agar Pariaman Triathlon mampu menjadi primadona sport-tourism dan magnet mendatangkan orang sebanyak mungkin, kemudian tidak ada sentimen negatif masyarakat terhadap kesantuan kostum para atlit, khususnya atlit wanita.

Pariaman Triathlon telah membesarkan nama Eva Desiana, seorang guru honor asal Pariaman. Dalam dua kali Pariaman Triathlon, perempuan 28 tahun itu membuat atlit nasional dan internasional gigit jari. Eva Desiana membuktikan kemampuannya melibas olahraga atletik paling cadas yang diperlombakan di dunia tersebut.

Eva Desiana menjadi sorotan berbagai media. Feature dirinya headline di Jawa Pos yang ditulis oleh wartawati Ari Ganesa yang turun meliput ke Pariaman dari Surabaya. Dalam sekejap Eva Desiana menjelma menjadi salah satu atlit Triathlon kebanggan nasional. Berbeda pada gender pria. Bibit atlit Triathlon lokal pria belum satu pun kelihatan di dua kali penyelenggaraan Pariaman Triathlon.

Untuk menjadi atlit Triathlon dibutuhkan pisik dan mental yang kuat disamping kemampuan tekhnis dalam berenang, bersepeda dan lari marathon. Tantangan di Pariaman Triathlon adalah ombak dan ubur-ubur untuk sesi renangnya. Jika ombak besar dengan arus kuat, energi para atlit sangat terkuras hanya untuk menuntaskan satu sesi perlombaan. Maka dari itu, untuk menjadi jawara di Triathlon bukan sembarang atlit, pantaslah dia disebut elite.

Pariaman Triathlon tahun 2016 akan digelar pada tanggal 5 dan 6 November atau pada hari Sabtu dan Minggu. Hanya beberapa hari lagi. Pariaman Triathlon ke-III ini dipusatkan di pantai Cermin Pariaman, tidak lagi di pantai Gandoriah.

Publik berharap mendapat akses yang mudah untuk menonton perlombaan tersebut tanpa banyak portal penghalang dan pengalihan jalur lalu lintas. Publik berharap Pariaman Triathlon yang didanai APBD sejumlah Rp1,2 miliar itu berdampak positif bagi peningkatan ekonomi sebagaimana harapan pemerintah.

Pariaman Triathlon 2016 dituntut harus lebih baik dari penyelenggaraan sebelumnya. Tanpa Mark Sungkar di Pariaman Triathlon 2016, merupakan pembuktian besar bagi EO baru yang menyelenggarakan.

OLP