Alm Anas Malik : Saya Bupati Sekaligus Mamak Rang Piaman

Alm Kolonel Anas Malik bersama Ibu Juwita Anas Malik




Meskipun Kota Pariaman kecil secara Geografis namun tidak demikian dengan kesadaran Politik Masyarakatnya. Masyarakat Piaman yang dikenal Egaliter, semua ingin disanjung, pantang kalah, adalah perpaduan Karakter yang sangat sulit di arahkan untuk menuruti keinginan sepihak kaum hulu dan termakan Opini arus banyak (Mainstream).

Di Zaman Pemerintahan Alm Kolonel Anas Malik, Bupati Padang Pariaman (Kota Pariaman masih tergabung) periode 1980 - 1990, Beliau pernah mengatakan hal tersebut Kepada Azwar Anas, Gubernur Sumbar kala itu.

"Saya bangga dengan Orang Pariaman Kampung saya, Sudah jelas saya Bupati, kaki salah seorang warga diatas kursi ketika berbicara dengan saya." Ujar A latif (60), Tokoh Masyarakat Pariaman mengisahkan, sambil menaikan kakinya diatas kursi menirukan.

Kemudian Latif menyambung lanjutan pembicaraan Anas Malik dengan Azwar Anas.

"Meskipun demikian saya bangga dengan Orang kampung saya yang Egaliter. Hanya saya yang boleh bersikap Keras kepadanya, lain tidak boleh, Karena saya Adalah Bupati sekaligus Mamak Urang Piaman." Ungkap Latif yang saat itu menyaksikan.

Ke Egaliteran Masyarakat Piaman bisa kita saksikan dalam kehidupan kita sehari hari, apalagi ketika berpalanta ria di kedai Kopi yang jadi kebiasaan kita sehari hari.

"Memangnya dia yang mamacik (menguasai) Pariaman ini. Pariaman tak bisa dipacik karena tidak bertampuk." Ucapan bantahan demikian acap saya dengar ketika seseorang membangga banggakan sosok tertentu bak Penguasa.

"Kayo bana inyo Waden Indak ka mamintak, sia bana we e." Ucapan yang sering terlontar ketika mendengar seseorang membangga banggakan kekayaan Orang lain di depannya.

Lalu apa korelasinya Tulisan ini dengan Politik kekinian jelang Pilkada ? Jawabannya Gampang. 


Bahwa jangan besar Kepala dulu jika anda merasa mendapat dukungan Politik Pemimpin Kaum dari sebuah komunitas, Jika Anda mengabaikan dukungan Massif (kalayak banyak) Komunitas tersebut. Jika ingin merangkul, rangkulah semuanya, Karena Pariaman Tak bisa dijinjing oleh sebab tak ber tampuk.

Catatan Oyong Liza Piliang