Inilah Kalimat Alm Anas Malik Tentang Pariaman Menjelang Ajal


Kekhawatiran kita kepada apa yang kita bayangkan acap membuat urung. Ketakutan terhadap hasil buruk, ketakutan dicemooh, gagal dsb nya, berakhir dengan tidak jadinya kita memulai sesuatu. Hal tersebut mustinya tidak perlu terjadi bila kita menanamkan prinsip gigih dan punya filosofi hidup yang kita pegang teguh dan bermuara kepada kebenaran.




Alm Kol Anas Malik di awal kepemimpinannya sangat dibenci dan dihujat. Masyarakat Pariaman yang tidak terbiasa dengan pola hidup bersih dan disiplin tinggi, tamparan, tergagau. Disiplinnya Anas Malik untuk semua orang, baik anak, keponakan, sanak dan warga. Tanpa pandang bulu. 


Ilya Rosa Anas Malik (Putri beliau), berujar,"Dulu kami dapat giliran, ada yang tugasnya ngepel, menyiram bunga, menyapu halaman dsb. Semua, baik kakak dan adik di pendopo rumah dinas bupati. Kami memperlakukan pembantu seperti keluarga. Ia hanya melakukan tugas-tugas pokoknya, begitulah Papa mendidik kami."



Salah tetap disalahkan dan tidak pernah bertoleransi. Banyak cerita tentang Anas Malik dengan keponakannya yang mustinya saya tulis namun belum saya verifikasi kepada yang bersangkutan.

H, Zainir (tokoh masyarakat) berujar, "Di kala pagi alm bersepeda ontel, lalu melihat orangtua menyapu halaman rumah di kala pagi. Beliau berhenti. Dikasih duit. Lalu masuk ke rumah tersebut dan melihat kenyataan ternyata anak muda masih tidur. Anas Malik langsung marah sambil berkata 'orangtua saja mau membersihkan pekarangan. Kalian yang masih kuat dan muda masih enaknya tidur, tidak kah kalian sholat Subuh?'  membangunkan seisi rumah," terapan demikian membuat masyarakat akhirnya berdisiplin kata Zainir (60th).



"Dulu, betapa malunya ketika yang kedapatan buang hajat di pantai dibawa ke pengadilan hanya menggunakan sarung, disidang dan didenda Rp 5000," lanjut Zainir. Terapan disiplin itu membuat masyarakat Pariaman dengan cepat berubah dalam berperilaku.

Alm Anas Malik selain dikenal tegas dan jujur juga berhati lembut dan jernih. Beliau tidak tega melihat orangtua renta yang bekerja, pedagang tua yang menjujung dagangannya semacam sayur, lompong sagu, goreng dll. 


"Mobil dinasnya jenis Jip Hardtop. Akan berhenti dimana hatinya tergerak. Dulu ada seorang yang sudah sangat tua membangun pagar rumah. Anas malik langsung menemuinya, lama bercakap-cakap lalu memberikan uang Rp 10.000. Nilai itu dulunya sangat besar. Dana taktisnya sebagai bupati selalu ia habiskan untuk masyarakat," kata Artagnan (PNS di masa Anas Malik) dalam kesempatan yang sama di lapau samping BPD Pariaman.

Puntung rokok yang berserakan, buang hajat di pasir pantai, sampah, jemuran di pekarangan rumah, hewan ternak yang tak dikandangkan semua adalah pantangan beliau. Sehingga dikenal istilah sidang jemuran, sidang kambing, sidang tinja. 


"Tidak peduli itu kutang sekalipun. Jika dijemur di halaman pekarangan yang membuat buruk pemandangan, alm akan angkat dengan tangannya sendiri dan membawa serta yang menjemurnya ke pengadilan. Didenda, dan itu terjadi didepan mata kepala saya sendiri," ujar Zainir lagi.

Ketika Alm Anas malik tak menjabat lagi, diawal tahun 90-an, beliau pindah ke rumah dinas TNI di Jatiwaringin. Beliau dalam keadaan sakit. Faisal Arifin (sekarang Ketua DPRD Padangpariaman), keponakan kandungnya bertanya, "Menyesalkah Mak Tuan memimpin Pariaman?" 


Lalu dijawab 

"Maktuan sangat bahagia sekali, tidak akan ada pernah kata menyesal bila kita berbuat kebaikan, sangat bahagia sekali, bukan materi yang mak tuan cari. Tak takut dihujat, serta tak mengharap pujian, semua Maktuan lakukan dengan ikhlas karena Allah." ujar Faisal Arifin disela percakapan kami bersama tokoh masyarakat dan Indra J Piliang di Palanta Anih samping BPD tempo hari lainnya.

Saya berkesimpulan, melihat kekinian, masyarakat sangat bersyukur pernah dipimpin selama 2 (dua) periode oleh alm Anas Malik medio 1980-1990, mendoakan beliau. Lalu bertanya, apa yang diberikan oleh kepala daerah kekinian? Adakah mereka mendoakan Anas Malik di acara 10 November? adakah mereka meniru Integritasnya? 


Saya mengutuk calon kepala daerah yang menyandingkan fotonya semasa kampanye dulu untuk menggaet simpati masyarakat, setelah menang tidak mencontoh integritas moral Alm Kol Anas Malik, yang tak menghargai jasa pendahulunya, yang tak pernah menyempatkan diri sekedar berdoa dan menaburkan bunga di makamnya, yang berkelakuan bertolak belakang dengannya. Anas Malik sangat anti KKN, bersih, jujur dan tidak pendendam, berhati halus dan punya sisi humanis yang tinggi.

Seorang yang pernah kena tampar Anas Malik dulu, berujar, "Kalau tidak pernah ditampar Anas Malik dulu, saya tidak mungkin pernah jadi seperti sekarang ini, saya dinasehati dan nasehat itu hingga kini jadi prinsip hidup saya," ujar salah seorang petinggi SKPD di Pariaman yang tidak mau disebutkan namanya.


Catatan Oyong Liza Piliang. foto-foto by Elvis Betrizon (23 November 2012)