Timses Foke dan Partai Demokrat Panik Disundul Jokowi

                                     image merdeka.com

Beberapa hari ini setelah Pilgub DKI Jakarta berlangsung,hampir sebagian besar masyarakat mulai senang bicara politik. Mungkin berita di koran ataupun di media maya berita tentang analisa kekalahan kubu Foke dan kemenangan kubu Jokowi paling banyak dilihat dan dibaca. Yang menarik adalah komentar-komentar yang dibuat oleh para pembaca,banyak yang lucu dan terutama perasaan senang dengan kalahnya kubu incumbent ..

Sebenarnya masyarakat Jakarta adalah paling rasional diantara penduduk yang ada di semua propinsi di Indonesia. Secara pengamatan,penduduk Jakarta dikuasai oleh +/- 60% kelas ekonomi menengah dan menengah keatas (kelas C+,B dan A),+/- 20% kelas ekonomi sedang (kelas C) dan +/- 20% kelas ekonomi dibawah standard kehidupan layak (kelas D). Kelas menengah inilah yang mayoritas menjatuhkan “sanksi sosial” kepada Foke si incumbent.

karena mereka lah yang selama ini sebenarnya dirugikan dengan kesemrawutan ibukota RI ini. Kelas menengah rata-rata berpendidikan tinggi dan bukan ‘anak kemarin sore” dalam bicara politik. Berbeda dengan kondisinya bila dibandingkan seluruh penduduk Indonesia,kelas menengah dan menengah keatas yang ada cuman sekitar 20% saja,sedangkan kelas ekonomi sedang sekitar 35% dan kelas ekonomi dibawah standard kehidupan layak sekitar 20% dan yang sangat tidak layak sekitar 25%

.Dari angka-2 pengamatan ini,maka kalau bicara tentang politik Nasional,siapa yang dapat meraih simpati kelas ekonomi sedang dan “orang miskin” di Indonesia itulah yang bakal memenangkan “kekuasaan”..Golongan ini biasanya “senang” dengan permainan “politik uang” seperti yang pernah dilakukan oleh SBY dengan politik “Bantuan Tunai Langsung” pada Pilpres 2009 yang lalu.

Jadi,pantas saja sekarang kubu Foke paniknya luar biasa…! Bagaimana mau memenangkan PilGub di DKI Jakarta kalau kekuasaan politik sebenarnya ada di tangan kelas menengah ? Para pemilih kelas menengah inilah yang merasakan ‘penderitaan” selama Foke menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, kemacetan, kesemrawutan,sikap rasisme yang dibangun oleh Foke seolah DKI Jakarta hanya milik orang Betawi saja, kesenangan Foke bergaul dengan kelompok-2 ormas yang diduga sering membuat keonaran di DKI Jakarta juga memberi kontribusi kelas menengah di DKI Jakarta tidak bisa menerima keberadaan Gubernur yang tidak bisa menjaga pluralisme dengan sebutan Indonesia Mini ini.

Kelas ekonomi yang “miskin” di Jakarta juga banyak berharap dengan janji dari kubu Jokowi yang akan merealisasikan Asuransi Kesehatan & Pendidikan Gratis sampai ke SMU. Ini adalah harapan besar bagi mereka untuk hidup lebih baik di masa yang akan datang. Anggaran untuk asuransi kesehatan bagi seluruh rakyat miskin di Jakarta tidaklah besar dibandingkan anggaran pendapatan yang diterima oleh Pemerintah DKI Jakarta,namun kalau ini di realisasikan oleh kubu Jokowi,maka orang miskin di Jakarta akan sangat tertolong.

Maka tidak heran sekarang kubu Foke sangat panik,seolah terjepit diantara 2 kelas,maka harapan Foke hanyalah memenangkan pertarungan dengan kekuatan politik dan kekuasaan. Kalau Partai Demokrat sebagai pendukung Foke berhasil memobilisasi massanya dan kekuataan kekuasaan yang ada di SBY ,maka bisa jadi Foke akan menang. Tetapi pertanyaannya,apakah SBY mau lebih “dihina” oleh kekuatan kelas menengah yang mempunyai pengaruh politik yang sangat kuat di Jakarta? Walau secara nasional baru mencapai sekitar 20%,tetapi secara bertahap kekuatan ini terus mulai tumbuh dengan semakin terbukanya arus informasi ke daerah & pertumbuhan ekonomi yang ada.
Mari kita tunggu saja apa yang dilakukan oleh kubu Foke…

catatan mania telo freedom writers kompasianer