Kisah "magis" Hoyak Tabuik yang tidak banyak diketahui

Foto: istimewa

Pariaman - Puncak Hoyak Tabuik Pariaman sukses digelar seharian pada Minggu, 14 Agustus 2022. Ratusan ribu pengunjung dari berbagai daerah hadir dalam pesta budaya yang disebut Gubernur Sumatra Barat, Mahyeldi Ansyarullah sebagai pesta budaya terbesar di Pulau Sumatra.

Pesta Budaya Hoyak Tabuik dimulai 1 Muharam atau yang lebih dikenal 1 Suro dalam terminologi Nusantara. Dari prosesi awal hingga Tabuik diarak dan dibuang ke laut berlangsung selama 16 hari. Berbagai prosesi dan acara ikut meramaikan peringatan wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW di perang Karbala ini.

Pengamanan selalu ditingkatkan saat kedua anak Tabuik berselisih karena rawan bentrok. Dari irama gendang, kami anak Pariaman bisa tahu saat-saat baku hantam akan dimulai. Kondisi impulsif ini akan kembali terulang jika terus diprovokasi. Peristiwa parsial insidentil tersebut juga menjadi daya tarik tersendiri Hoyak Tabuik. Bukan efek Magis!

Bagi sebagian orang, Hoyak Tabuik sangat mengerikan karena dibumbui perkelahian. Seiring zaman, perkelahian sudah bisa diantisipasi seperti pembubaran prosesi tertentu. Pihak keamanan mendapat izin membubarkan guna mengendalikan situasi guna menghindari perkelahian histeria yang meluas.

Ini pernah terjadi pada tahun 1980-an. Puluhan orang luka-luka, satu diantaranya mengalami kebutaan karena lemparan batu tepat mengenai bola matanya. Selepas peristiwa itu, Bupati Anas Malik merubah konsep Hoyak Tabuik menjadi Hoyak Tabuik pariwisata.

Pariaman Tadanga Langang Batabuik Makonyo Rami

Sebelum pariwisata Pariaman berkembang, Pariaman selalu sepi. Objek wisata belum dikelola dengan baik. Bahkan objek wisata Gandoriah yang saat ini sudah terkenal seantero Nusantara - sebelum tahun 1980-an - dijuluki kakus terpanjang di dunia. Tempat orang berak, membuang sampah dan mabuk-mabukan malam harinya. Hal itu kemudian ditertibkan dengan sangat keras oleh Bupati Padangpariaman periode 1980-1990 Almarhum Kolonel H Anas Malik. Yang kedapatan berak, langsung dinaikkan ke mobil, disidang. Tidak sedikit juga ditampar ditempat.

Hanya saat Hoyak Tabuik Pariaman ramai dikunjungi. Pengunjungnya pun mayoritas masyarakat lokal Pariaman dan perantau. Sehingga musisi Minang menciptakan lagu yang salah satu syairnya menggambarkan betapa sepinya Pariaman dan hanya ramai saat Hoyak Tabuik. Bait lagu ini telah menjadi stigma Pariaman hingga saat ini. Untuk saat ini, lagu tersebut sudah tidak lagi relevan.

Hoyak Tabuik sekarang

Selepas reformasi, Hoyak Tabuik pernah pengelolaannya dikembalikan ke Anak Nagari. Tokoh Pariaman seperti Alwis Ilyas dan Mardison Mahyuddin kabarnya pernah mengetuainya. Namun karena sistem keuangan daerah yang kian ketat pertanggungjawabannya, pengelolaan Hoyak Tabuik kembali ditangani pemerintah daerah dengan tetap mengedepankan peran Anak Nagari.

Hoyak Tabuik kemudian kian ramai dan mendapat perhatian media nasional dan internasional. Media Jepang, Australia, Singapura dan Malaysia pernah meliput langsung. Puluhan fotografer sudah mengabadikan momen-momen bersejarah Hoyak Tabuik dengan kualitas gambar sangat memukau. Bahkan saat kabut asap akibat kebakaran hutan Riau, kualitas gambar Tabuik justru menjadi sangat dramatis.

Jika pada era sebelum 1980-an ada peragaan Debus mengiringi acara Hoyak Tabuik, kini diganti dengan atraksi seni budaya daerah. Pemerintah juga sangat hati-hati dengan isu Syiah, salah satunya dengan tidak lagi mengundang Duta Besar Republik Islam Iran sebagai representasi negara penganut Islam aliran Syiah.

Perang opini pendukung Tabuik dan anti Tabuik yang mengasosiasikan Tabuik dengan Syiah juga berlangsung di media sosial. Dalam hal ini warga Pariaman kompak membela. Kampanye anti Tabuik bisa diredam karena kekuatan kolektif pendukung Tabuik yang mengasosikannya dengan budaya dan pariwisata.

Kecerdasan antisipatif yang ditingkatkan

Tindakan pencegahan di lapangan selama puncak Hoyak Tabuik terus ditingkatkan. Posko-posko pengamanan, mobile security, penyebaran intel di puncak keramaian dilakukan untuk mengantisipasi tindak kriminal. Aksi pencopetan, provokasi kepada anak Tabuik, catatan utama pihak pengamanan. Pihak keamanan juga memantau arus isu di media sosial sejauh mana potensi ancamannya.

Bayangkan jika anak Tabuik terprovokasi lalu diikuti pendukung kedua Tabuik dan terjadi perkelahian di tengah puluhan ribu massa. Berapa banyak orang tidak bersalah akan menjadi korban. Perempuan, orang tua dan anak-anak bisa mati terinjak-injak. Oleh sebab itu, para intel disebar untuk membaca situasi lalu merumuskan konsep pengamanan yang tepat. Begitu juga dengan arus lalu lintas dan parkiran.

Hoyak Tabuik Pariaman 2022 memang tidak sempurna 100 persen. Akan selalu ada catatan-catatan sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan. Seperti parkiran yang tidak mencukupi hingga meluber ke Jalan Jenderal Sudirman, anak-anak yang terlepas dari pengawasan orangtuanya, hingga ada saja oknum yang melarang pedagang asongan berjualan - meski ada juga pedagang asongan yang terlihat wara wiri berjualan di area Pantai Gandoriah.

Namun di balik itu semua, kita patut memberi apresiasi kepada pemerintah, pihak keamanan, anak nagari, Tuo Tabuik yang telah bekerja keras hingga terlaksananya Hoyak Tabuik 2022 yang begitu akbar. Yang begitu kolosal. Jika ada kesalahan-kesalahan kecil, maklumi saja. Bak pepatah "Sabulek-bulek Jantuang (jantung pisang) Bakalopak (berkelopak), Sabulek-bulek Taluah - luncuang, Taluah Katuang nan bulek, lai mamicak".

Sukses Hoyak Tabuik 2022! Sukses Anak Nagari! Tabuik Tabuang dendam hilang karena semuanya sudah dibuang-hanyutkan ke laut lepas! Tabuik Pasa-Tabuik Subarang adalah Tabuik Piaman! Kito badunsanak salamonyo! (OLP)